Ruang Singgah

cropped-silh5_mini.jpg
Pada mulanya niatan membuat blog ini adalah untuk menyegarkan ingatan saya sendiri sekaligus memberikan stimulus agar tetap menulis. Kemudian saya mulai melihat arsip dan draft di blog lama, cukup terperanga dengan bentuk dan isi tulisan yang ada disana. Sebab belakangan ini saya mulai jarang menulis, jenis tulisannya pun semakin bersifat personal, serupa ceracau anak muda yang sedang mabuk, tanpa landasan yang jelas. Akhirnya saya memutuskan untuk berkemas, merapihkan barang-barang yang masih diperlukan dan membuang sisanya. Saya kira ada baiknya juga untuk membuat blog baru, yang isinya lebih tematik dan terstruktur.

Setiap orang tentu saja boleh memulai hidup yang baru, memutar kemudi, berbalik arah, menetapkan tujuan baru, dan bersiap menghadapi perjalanan baru. Jika diantara kalian ada yang bertanya, kemana arah tujuan kapal kecil ini? segeralah urungkan niat kalian untuk membaca tulisan-tulisan yang ada di blog ini. Disini, saya sedang tidak ingin berurusan dengan perihal “kedalaman”, “makna”, “isi”, dan basa-basi pseudo intellectual lainnya. Atau anggap saja saya sudah tidak memiliki itu semua.

Perjalanan berikutnya adalah perjalanan sunyi, sekaligus perjalanan penuh cahaya gemerlap, dentum musik, dan dansa-dansi. Namun masih saja tanpa tujuan pasti.

Tidak seperti catatan-catatan saya di www.ijalisme.blogspot.com yang terkesan tendensius dan berpretensi untuk menceritakan dan atau menjelaskan hal ihwal besar yang kadang hanya seolah-olah besar dan penting. Blog ini hanya sebuah ruang singgah, ruang lelah; sebuah tempat bagi para pejalan untuk menyandarkan punggung, melepas ransel, menghadap secangkir kopi sambil bersenda-gurau dengan teman-teman seperjalanan.

Setiap perjalanan tidak selalu harus tiba, tidak selalu harus rampung. Ada kalanya segala yang ditemui di perjalanan membuat kita lelah, urung untuk menggenapi langkah semula. Sebab diri ini memang tersusun oleh peristiwa-peristiwa tidak beraturan, lantas mengapa harus repot-repot membuat suatu tujuan yang seolah suci dan sakral?

Bagi kalian yang lelah, semoga lekas segar untuk melanjutkan perjalanan berikutnya, menemui ruang henti selanjutnya. Bagi kalian yang akan menyerah, lihatlah sekeliling, masih banyak yang lebih berpuing dari kalian. Silakan menangis, cengeng, lelah, tapi tidak boleh menyerah.

Selamat datang di ruang singgah sederhana.

Tabik,

ARF

http://about.me/azharijal


KALI KEDUA; Sejumlah Alasan Tidak Penting Perihal Menulis

: Masih Ingin Menulis

Jarang membaca memang akan berdampak langsung pada tulisan, seperti yang teman saya pernah katakan: jika seorang pembaca yang tekun memulai untuk menulis, percayalah, tulisannya tidak akan benar-benar buruk. Beberapa kali aku sudah mencoba kembali untuk menulis, hasilnya selalu dapat diprediksikan: masuk ke folder “draft” atau“recycle bin”. Memang ada beberapa tulisan yang aku hasilkan dalam rentang waktu satu tahun ini, tapi jumlahnya tidak banyak, setidaknya tidak sebanyak dulu. Berkali-kali niat yang teguh untuk memulai kembali menulis hanya berakhir pada asbak yang penuh dan halaman putih bersih tanpa satupun kata. Ada banyak hal yang ingin aku tulis, puluhan to-do-list ide-ide yang aku simpan untuk kemudian di eksekusi menjadi sebuah tulisan ujung-ujungnya hanya berdiam saja disitu, tanpa membawa pengertian apapun, bahkan aku sendiri sudah lupa apa maksud coretan-coretan singkat itu.

Menulis mungkin memang serupa kemampuan berbahasa. Banyak orang yang akan setuju dengan ini, bahwa misalnya kita telah fasih menggunakan bahasa inggris, tapi apa yang terjadi jika selama satu tahun kita tidak berbicara bahasa inggris? Itulah mungkin yang terjadi juga dengan kemampuan menulis.

Lalu kenapa aku harus menyesali ketidakmampuanku untuk kembali menulis? Apakah menulis itu penting? Bukankah aku hanya seorang mahasiswa tua di jurusan yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan proses kreatif? Dan lagi, aku juga tidak sedang merintis karir menjadi seorang penulis muda seperti Puthut EA (hehe, maaf bro, kamu masih tetap jadi panutan). Terlebih lagi, aku tidak begitu yakin bahwa bakat menulis ada pada diriku. Lalu mengapa hal ini harus menjadi persoalan?

Aku bukan jenis orang yang fanatik terhadap satu golongan, mazhab, ideologi, atau apapun kalian mau menyebutnya. Aku tidak pernah berdiam terlalu lama pada sebuah keyakinan, begitu keyakinan itu aku anggap sudah usang, ya tidaklah perlu diyakini lagi. Menulis, setidaknya bagiku sampai saat ini masih merupakan jalan keluar yang paling mungkin aku lakukan. Ada kesenangan disana, kepuasan, pelarian, dan ketentraman yang tidak bisa digantikan oleh Indeks Prestasi Kumulatif atau sederet prestasi lainnya. Aku senang menulis dan aku tidak memiliki tujuan apapun dari tulisan-tulisan itu, setidaknya sampai saat ini. Bukankah setiap tindakan tidak selalu memerlukan bangunan rasionalitas hanya untuk memperjelas motif-motif? Bukankah setiap tindakan tidak melulu harus dilandasi tujuan-tujuan? Seperti, kamu mencintai dia. Itu sudah cukup. Tidak perlu alasan, tidak perlu pembenaran.

Seorang penulis pernah berkata bahwa menulis itu memang tidak mudah, omong kosong jika ada seseorang yang mengatakan menulis itu mudah. Itulah sebabnya hanya ada sedikit penulis, meski sudah banyak bermunculan penulis-penulis muda yang sedang membangun karirnya, hanya sedikit yang berhasil melewati fase-fase awal: ujian konsistensi. Sebagian besar dari para pemimpi ulung itu hanya berakhir pada keputusasaan, lalu akhirnya ia menjalani hidupnya dengan cara lain sambil terus mengingat impian mudanya dulu.

Disiplin. Siapa bilang karya seni dan atau sastra itu hanya mengandalkan proses kreatif dalam menghasilkan karya? Tanpa disiplin, seorang penulis tidak akan mendapatkan dan menjadi apa-apa.

Tapi seperti yang aku katakan sebelumnya, aku bukan penulis dan tidak sedang merintis karir sebagai seorang penulis. Aku hanya sedang menjalani apa yang sudah aku mulai dan belum juga berniat untuk berhenti. Aku masih menikmati prosesnya, masih merindukan ekstasenya, masih mencintai hasilnya. Bagus atau tidak, itu bukan soal.

Aku hanya sedang melanjutkan apa yang sudah aku mulai. Dan saat ini aku harus mulai kembali membaca, mungkin membeli buku-buku baru yang akan menyegarkan beberapa jalur sirkuit di otak lapuk ini. Lalu mencatatkan apapun yang ingin aku tulis, seperti dulu saat aku mulai berniat untuk menulis.

Aku tidak, belum, dan masih ingin menulis.

Iklan

11 thoughts on “Ruang Singgah

    1. hehe terimakasih…
      iya itu rekam di kamar kost bareng temen yang bisa main gitar.
      audiobook nanti deh kalau lagi santai dan gak ada kerjaan hehe

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s