Simalakama #1

Dengan keangkuhanmu yang masih sangat kuhapal, kamu duduk di sudut kedai kopi ini. Masih seperti dulu, kamu masih membenci keramaian dan selalu mencari ruang di sudut untuk sedikit memberimu nafas dari sesak kerumunan. Kamu tampak khusyuk membaca The Stranger-nya Albert Camus. Sebuah paradoks kukira, buku tentang absurditas semestinya tidak perlu kamu baca seserius itu. Atau … More Simalakama #1

Seekor Cicak dalam Secangkir Kopi

Seekor Cicak dalam Secangkir Kopi* Hari ini alarm kesayanganku tidak membangunkan dengan lancang seperti biasa. Aku terbangun pukul 8 oleh matahari yang memaksa menerobos masuk dan memilih wajahku untuk disiram sinar paginya. Ah, habis baterai lagi, batinku. Aku memeriksa telepon genggamku. Ada 7 panggilan tidak terjawab, 4 pesan pendek, 5 surel, dan beberapa notifikasi dari … More Seekor Cicak dalam Secangkir Kopi

Wisanggeni

Namanya Wisanggeni. Bertubuh ideal dengan leher yang jenjang. Kakinya memanjang, seolah apapun yang ada dihadapannya dapat ia langkahi dengan mudah. Ia memiliki mata hitam kecoklatan, dengan pendar yang kadang redup kadang menyala bersinar, matanya selalu melemparkan sesuatu pada tempat yang jauh. Sebuah tempat yang sering dirindu-dendamkan banyak orang. Konon, tempat paling indah itu adalah tempat … More Wisanggeni

Meja Kursi dan Dua Cangkir Kopi yang Tinggal Sepertiga

Entah sudah berapa lama Fadli tidak menyempatkan waktu untuk berbaur dengan keramaian. Bukan tanpa sebab juga, ia memang bukan jenis laki-laki yang suka kerumunan, alih-alih cukup membencinya. Tapi barangkali ini adalah durasi terlama ia memberi jarak pada dunia luar, sudah lebih dari sebulan ia mengurung diri di kamar, hanya keluar ketika matahari telah rebah sempurna. … More Meja Kursi dan Dua Cangkir Kopi yang Tinggal Sepertiga

Pledoi Untuk Orang-Orang Kalah

Aku ketakutan, resah, dan merasa kalah, bahkan sebelum pertandingan dimulai. Tapi sepertinya tidak apa-apa, tidak perlu murung dan merasa kiamat sudah dekat, biasa saja. Sebab bukankah memang ada pertandingan yang memang tidak mungkin dimenangkan (?)–dan sialnya kita tetap harus menjalaninya. Dengan tabah. Kalau bisa dengan riang gembira, tentu lebih baik lagi. Ketika aku menemui orang-orang … More Pledoi Untuk Orang-Orang Kalah