Simalakama #1

Dengan keangkuhanmu yang masih sangat kuhapal, kamu duduk di sudut kedai kopi ini. Masih seperti dulu, kamu masih membenci keramaian dan selalu mencari ruang di sudut untuk sedikit memberimu nafas dari sesak kerumunan. Kamu tampak khusyuk membaca The Stranger-nya Albert Camus. Sebuah paradoks kukira, buku tentang absurditas semestinya tidak perlu kamu baca seserius itu. Atau jangan-jangan karena pembacaan manusia atas kehidupan ini begitu serius sehingga tampak absurd (?) Entahlah, bagiku hal itu tidak penting, lebih tepatnya tidak lagi penting. Secangkir kopi hitam yang aku duga di breewing menggunakan V60 terhidang di meja. Ransel besar yang seolah mampu meringkas seluruh duniamu tersandar malas di kursi. Jarum jam menunjukkan pukul lima sore. Di luar, hujan pertama setelah kemarau panjang mulai membasahi kota ini. Hujan yang datang terlambat berbulan-bulan, seperti harapan yang kadung meranggas sebab kemungkinan-kemungkinan gagal tiba tepat waktu.

Aku menghampirimu dengan senyum kikuk sebab tak tahu harus bersikap seperti apa. Kamu membalasnya dengan sebuah pelukan singkat yang meninggalkan aroma tubuhmu, aroma yang sangat akrab di penciumanku. Percayalah, tidak ada yang lebih aku rindukan selain aroma tubuhmu yang khas itu.

Kamu masih menjadi perempuan paling keras kepala yang aku kenal. Seperti yang dulu-dulu, percakapan kita mengalir deras dan liar. Dari mulai perilaku anomali kucingmu, hingga pengaruh feminisme terhadap budaya patriarki. Dari gosip selebriti, hingga isu-isu postmodernisme. Dari harga-harga barang elektronik yang tak terbeli, hingga kehancuran kapitalisme yang nisbi tak juga tiba. Dari kemacetan kota dan sopir angkot yang ugal-ugalan, hingga pengorganisiran dan mobilisasi massa. Dari perdebatan kopi apa yang paling enak diantara Arabika, Robusta, dan Liberika, hingga skema perdagangan fair-trade dalam industri kopi. Kamu masih seperti dulu, cerdas, bernas, dan berbahaya. Tapi apa yang hendak kamu hindari dari tatapan mataku? Selain kemungkinan saling bersitatap, membahasakan rasa melalui pertemuan dua mata sebelum banyak bicara, sebelum banyak dusta.

Dalam ingatanku yang lapuk ini, setidaknya aku menandai beberapa peristiwa penting yang mampir dalam hidup kita. Kamu tahu, sejujurnya aku benci kondisiku saat ini. Luka yang dulu terasa begitu nyeri seolah tak mampu tertangguhkan lagi, kini lenyap. Hilang. Hampir tidak meninggalkan bekas. Aku benci kenyataan bahwa aku tidak membencimu lagi. Apa jadinya bila dua raja kobra bertemu dan tidak saling mengalahkan dengan bertukar bisa yang paling mematikan?

Katamu, kita akan baik-baik saja menempuh perjalanan sunyi ini masing-masing. Seperti ucapan Chairil Anwar yang kamu tenun di atas kain: Nasib adalah kesunyian masing-masing. Sampai saat ini aku masih menggantungnya di atas rak buku. Ya, kita akan baik-baik saja. Tapi bagaimana jika aku tidak ingin yang baik-baik saja? Tidak ingin kehidupan sederhana yang membosankan?

Kamu tentu akan mengerinyitkan dahi ketika pertanyaan itu menggelosor begitu saja dariku. Bukankah kamu yang menyerah pada hubungan kita yang “tidak biasa-biasa saja” itu? Mungkin begitulah sanggahmu. Benar, aku menyerah. Aku lelah dan merasa segala beban sudah tidak tertangguhkan lagi. Aku memilih untuk menyerah dan menjalani hari-hariku sebagai orang yang kalah. Seperti para pekerja yang melepaskan mimpinya untuk menjadi apa yang dia inginkan kemudian terperangkap pada ruang-ruang kubikal dengan rutinitas pekerjaan membosankan setiap harinya.

Saat itu, segalanya tampak berpuing, remuk, dan menyudutkan aku pada kondisi untuk segera mengambil langkah. Dalam keadaan terdesak seperti itu, kamu tahu, lelaki sepertiku cenderung bertindak gegabah. Tapi tenang saja, ini bukan apologia atau bahkan penyesalanku dalam bentuk melankolia. Bukan. Aku pastikan sekali lagi, bukan. Aku hanya ingin merunut kembali, mengurai benang kusut yang selama ini membuatku tidak beranjak kemana-mana.

Mungkin memang benar, aku tidak pernah membutuhkanmu. Begitupun dengan kamu. Kamu tidak pernah membutuhkan lelaki sepertiku. Kita hanya dua orang resah yang sama-sama tersesat dan memilih untuk bergandengan tangan mencari jalan pulang. Sialnya dalam perjalanan pulang kita terlalu sering mampir di bar dan pulang malam. Mabuk hingga pagi melupakan apa yang diceritakan malam dalam gelap dan diam. Kita lupa bahwa kita sedang tersesat, dan jujur saja, kalau bisa lebih lama lagi, aku lebih memilih tersesat bersamamu. Setidaknya aku masih punya punggung untuk kujatuhkan hujan-hujan dari langkah yang serba ragu dan tak menentu.

Tapi waktu selalu punya cara kerja yang tidak pernah kita mengerti. Dan lagi-lagi, sialnya kita tetap saja terseret dalam arusnya. Akan selalu ada kontra-argumen, seperti misalnya menuding itu hanya simplifikasi atas ketidakmauan kita untuk melihat persoalan dengan lebih jernih. Terserah saja, sejujurnya aku tidak lagi peduli akan hal-hal seperti itu. Sesekali aku ingin menjadi bodoh dan bebal. Mungkin lain waktu akan sedikit nakal, seperti kamu.

Kadang aku berpikir mengapa kita selalu merasa bahwa setiap kekosongan itu harus diisi? Mengapa tidak dibiarkan saja ruang kosong itu menjadi ruang hampa (?) Entahlah.

sementara kita masih saling mengumpat,
tentang hidup siapa yang lebih sialan.
atau tentang nasib siapa yang paling sunyi

Izinkan aku menutup racauan ini dengan kutipan dari Dhani:

“Pada akhirnya bukan waktu yang menyembuhkan luka, tapi ketidakpedulian kita.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s