Seekor Cicak dalam Secangkir Kopi

Seekor Cicak dalam Secangkir Kopi*

Hari ini alarm kesayanganku tidak membangunkan dengan lancang seperti biasa. Aku terbangun pukul 8 oleh matahari yang memaksa menerobos masuk dan memilih wajahku untuk disiram sinar paginya. Ah, habis baterai lagi, batinku.

Aku memeriksa telepon genggamku. Ada 7 panggilan tidak terjawab, 4 pesan pendek, 5 surel, dan beberapa notifikasi dari facebook, twitter, instagram, dan akun sosial media lainnya. Aku mulai lupa untuk melakukan ritual pagi sebagaimana biasa aku lakukan. Mengingat mimpi, menarik nafas dalam-dalam, minum satu atau dua gelas air mineral.

Layar televisi masih kerlap-kerlip dengan suara yang hampir mustahil untuk didengar. Sengaja aku mengatur volumenya serendah mungkin hingga batas terendah antara bersuara dan mute. Setiap menjelang tidur, aku mulai terbiasa harus melihat gambar-gambar bergerak, peristiwa-peristiwa asing yang tidak pernah mengabarkan apa-apa. Tapi aku tidak butuh suara, untuk apa aku mendengar suara-suara dari televisi? Aku masih punya beberapa musik dan metronom yang bisa kuatur agar dapat menyesuaikan dengan irama detak jantungku. Untuk apa aku mendengar suara-suara dari televisi? Aku masih punya beberapa suara bising di dalam batok kepalaku yang lebih akrab di telinga dibandingkan dengan kabar-kabar ganjil dalam kotak warna-warni pemenjara fakta.

Koran pagi yang masih terlipat sudah ada di depan pintu apartemenku. Setelah merapihkan selimut dan kasur yang hanya kusut pada salah satu sisinya, aku beranjak menuju pintu. Mengambil koran dan duduk di lazy couch sambil menunggu air mendidih, untuk kopi tentu saja. Membuka-buka halaman koran yang tidak mengabarkan apa-apa. Semuanya serba membosankan dan melelahkan. Koran kembali dilipat, tergeletak malas di atas meja. Tanganku meraih remote televisi, memindahkan saluran secara acak. Bosan. Bosan. Bosan. Sama saja. Ini lagi. Busuk.

Tanganku kembali meraih telepon genggam. Memeriksa satu per satu pesan pendek yang masuk, tidak ada yang begitu penting. Hanya ada satu yang cukup menarik perhatianku, dari nomor tidak dikenal.

The past doesn’t exist, so why worry about it? The future also doesn’t, but you should worry a bit, bc it will fuck u up!

ps: masih seberapa sedihkah kamu?

Aku tidak pernah menyukai pesan-pesan dari seorang yang tidak kukenal. Apalagi jika si pengirim pesan berupaya menyentuh hal-hal yang personal. Belakangan ini orang-orang memang senang menjadi anonymous. Mungkin dengan begitu ia merasa lebih keren. Misterius. Atau jangan-jangan karena ia terlalu takut menunjukkan siapa dirinya. Pecundang!

Satu hal yang cukup jelas dari pesan itu, ia cukup kenal aku. Tidak banyak orang-orang di lingkunganku yang mengenal aku secara personal dengan baik. Tapi ini jelas bukan pesan dari kamu. Aku sangat yakin, seyakin aku pada kenyataan bahwa bumi memang bundar. Semenjak pernikahanmu seminggu yang lalu, kamu segera pergi ikut suamimu ke Belgia. Sementara pesan yang aku terima dikirim dari operator seluler Indonesia. Jelas tidak mungkin pesan itu datang darimu. Seperti katamu, aku sudah bahagia dengan kebahagiaan milikku. Tolong jangan ganggu kebahagiaanku. Suami? Ah ya, kamu sudah menjadi istri seseorang, mungkin sebentar lagi kamu akan menjadi ibu.

Jelas bukan pula dari Hamsun. Ia sama sekali tidak cocok dengan kalimat dalam pesan singkat itu. Membayangkan pesan itu dikirim oleh Hamsun membuat aku bergidik. Geli. Eeerrrrrrrr….

Satu-satunya yang bisa aku pastikan adalah pengirim pesan singkat itu pastilah perempuan, kalaupun laki-laki pastilah seorang lelaki melankolis. Pertama, aku tidak punya teman dekat seorang laki-laki melankolis yang suka bermain-main drama. Kedua, hanya ada satu orang yang benar-benar paham kondisiku saat ini, Hamsun. Ketiga, aku tidak punya satupun teman dekat seorang perempuan. Ketiga premis itu menyeretku pada pemahaman yang semakin kabur. Siapa orang di dunia ini yang masih punya waktu untuk iseng mengirimi pesan tanpa nama? Peduli apa dia dengan masa depanku yang akan hancur? Aku sendiri saja sudah tidak begitu peduli.

***

Mencoba bangkit dan menata kembali hidup setelah terjatuh tanpa benar-benar memiliki alasan kuat adalah kesempurnaan petaka hidup. Aku cukup enggan untuk kembali memulai semuanya dari awal. Ada rasa malas yang akut dalam setiap pembuluh darahku. Rasa takut semuanya akan berujung pada satu kepastian yang nisbi kembali datang: cinta akan menjadi algojonya.

Rasa sakit yang diperam jauh-jauh hari sebelum datangnya surat undangan itu membuncah seketika. Seperti wine yang mencapai puncak kualitasnya setelah disetubuhi waktu. Setelah tiga tahun hidup dalam bayang-bayang kemungkinan, akhirnya hari penghabisan itu datang juga.

Awalnya aku berpikir bahwa kemungkinan itu masih selalu terbuka. Seperti keyakinanku pada potensi tidak terduga gang-gang ibukota. Kisah cinta denganmu memang tidak pernah sederhana. Pada setiap tikungan patah, kemungkinan baru selalu menampakkan dirinya. Dalam bayang-bayang gelap gang-gang ibukota selepas pukul tiga, demit-demit harapan bergentayangan mencari mangsa, biasanya korbannya adalah manusia-manusia nelangsa yang hampir saja putus asa pada takdir. Tapi serumit apapun struktur gang sebuah kota, selalu berujung pada rumah seseorang, jalan buntu, atau kembali mengantar pada kebisingan jalan raya yang sepertinya tidak pernah lelah mengumbar gaduh.

Saat ini, kamu sudah menemukan jalan keluarnya, kamu memilih menetap di salah satu rumah itu. Mungkin kamu sudah terlalu lelah menyusuri gang-gang gelap yang bau apak.

Tidak apa-apa, setiap orang berhak memilih jalannya masing-masing. Setiap perjalanan tidak harus selalu rampung. Ada kalanya kita memang harus berhenti di tengah perjalanan, menyandarkan lelah untuk kemudian berpikir kembali tentang peta perjalanan yang telah membentang di belakang. Peristiwa-peristiwa yang menyusun diri kita memang rapuh, sebab pengetahuan sudah lebih dulu rontok dihajar martir bernama posmo. Lalu, mengapa kita masih merasa ada sesuatu yang layak disebut abadi?

Tidak apa-apa, tapi tetap saja kamu kok tega sekali.

“Woy, juara! Siapa yang tega? Hahaha” Hamsun datang tiba-tiba, tanpa mengetuk pintu apartemenku. Semakin lama, anak ini menjengkelkan juga. Ia terlalu sering mengganggu waktu sendiriku.

“Ngapain kau jam segini masih di kamar, ayo keluar. Hari minggu gini diem di kamar, lama-lama kau bisa mati bosan.”

“Tunggu sebentar, mandi dulu lah”

Bagaimanapun juga apa yang dikatakan Hamsun seringkali benar, atau ya sedikit menyerupai kebenaran. Aku memang perlu keluar dari kamar terkutuk ini. Mencari udara segar, mencecap secangkir kopi dengan suasana yang baru. Bertemu teman-teman, tertawa, mungkin bercinta dengan salah satu teman perempuanku bukan pilihan yang buruk. Diam-diam aku menyadari, kehadiran Hamsun sebagai teman dekatku tidak bisa dibilang buruk.

Jika aku adalah seorang lelaki pemurung, malas, dan cenderung memandang banyak hal dengan pesimis, Hamsun sebaliknya. Ia ceria, penuh semangat, dan selalu melihat hidup ini hanya sebatas permainan saja. Tidak lebih. Mungkin saat Seno Gumira Ajidarma menuliskan kalimat legendarisnya hidup ini hanya mampir—dan minum bir ia baru saja bertemu Hamsun di sebuah bar di sudut kota ini.

Kali ini aku mandi cukup lama, lebih lama dari biasanya. Berharap ada yang ikut luruh dari tubuh sialan ini, selain kotoran dan keringat.

“Pakai mobilmu saja ya Ham. Si Jeger kotor banget udah sebulan gak dicuci.”

“Juara! Gimana mau dapat jodoh, ngurus mobil saja kau malas!” Seloroh Hamsun dengan gayanya yang tidak pernah berubah.

Dalam kabin si Hiu—mobil Mitsubishi Galant kesayangan Hamsun, musik blues diputar pelan. Aku tidak menyangka, manusia seperti dia suka blues. Kunyalakan rokok mild kesukaanku, membuka setengah jendela, membiarkan udara Jakarta yang sepagi ini sudah berat membasuh wajah lelahku.

“Woy Juara! Ke Bandung saja yok! Hari minggu cuaca cerah begini asik nih geber  si Hiu di cipularang. Kemarin aku baru pasang turbo-kit di bengkel si Rivan, impor langsung dari jepun! Juara dong ya. Iya, Juara! Hahahaha”

Aku tahu, itu bukan serupa ajakan, jika Hamsun berkata seperti itu, sudah bisa dipastikan itu adalah ultimatum yang tidak mungkin ditolak ataupun dihindari. Sambil mengatakannya, Hamsun menurunkan gigi si Hiu dari tiga ke dua. Jarum RPM melejit seperti hendak meloncat melampaui redline. Si Hiu melesat menembus Jalan Sudirman yang lengang. Raungan mesin khas V6 meraung-raung di langit Jakarta.

“Aku jadi ingat Ham, tempo hari bener kamu gak jemput aku ke Lembang?” Hamsun melepas pedal gasnya secara tiba-tiba, menimbulkan suara gaduh dari engine bay si Hiu yang dipaksa melakukan engine-brake pada RPM 7000.

“Begini ya Juara. Pertama, aku tidak pernah ke rumahmu di Lembang, bahkan aku tidak tahu kau punya rumah di Lembang. Kedua, hari itu aku sedang bersama si Nita. Rasanya sudah kujelaskan. Bebal sekali kau ini. Pantas saja sulit dapat jodoh! Hahaha”

Lelucon ‘jodoh’ ini makin lama makin terasa memuakkan, setiap ada kesempatan, ia selalu bisa mengaitkan hal apapun dengan ‘jodoh’. Ia berkata seolah dirinya sendiri sudah dapat jodoh saja. Pacar saja sebulan sekali ganti. Persis seperti jadwal mengganti sprei di kamar.

Si Hiu dipacu hingga kecepatan yang tentu saja tidak legal di Indonesia. Bahkan kadang jarum speedometer di dashboard menyentuh angka 180, 190, 210, kemudian turun lagi hingga 140 ketika menemui bagian jalan tol yang agak gronjal dan bergelombang. Aku yakin, kecepatan 210 pun bukan angka maksimal si Hiu. Ketika menyentuh angka 210, putaran mesin masih di kisaran 7000 RPM, masih beberapa ribu lagi menyentuh redline. Sepertinya mobil ini bisa berlari lebih dari 250 kalau saja jalan tol sedikit lebih mulus dan tidak bergelombang. Aku curiga, jika ada highway patrol mencoba memperingati Hamsun, polisi itu dengan mobil Lancer stock alias belum disentuh tangan mekanik tidak akan mampu mengejar si Hiu. Apalagi setahuku, polisi-polisi di Indonesia tidak memiliki skill mengemudi yang cukup handal, setidaknya tidak sebaik Hamsun.

Tidak sampai dua jam kami sudah tiba di Bandung. Langit sedikit gelap, mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Kini giliran aku yang memegang kendali si Hiu. Sementara Hamsun duduk di sebelahku sambil senyum-senyum melihat mojang Bandung yang nisbi cantik memesona.

“Every road, block, every fuckn ally in Bandung, there is a gorgeous chicks! Juara!”

“Kau pernah berpikir gak juara? Kenapa cewek-cewek Bandung itu cantik?”

Aku tahu, ia tidak benar-benar bertanya. Kemudian ia melanjutkan pertanyaannya sendiri dengan jawaban dari dirinya sendiri.

“Kau tahu kan Bandung dikenal dengan sebutan Kota Kembang? Nah, ini maksudnya bukan merujuk pada bunga. Tapi pada perempuannya. Dulu, di zaman kolonial, para petinggi Belanda sering menghabiskan akhir pekannya untuk berlibur ke Bandung. Berenang di pemandian legendaris di Cihampelas sebelum akhirnya masuk kamar dengan mojang-mojang Bandung yang aduhai itu.”

“Terus apa hubungannya?” Potongku singkat, sambil memotong laju kendaraan di sampingku yang bersaing dalam kemacetan kota.

“Juara! Cetek banget otak kau! Ya jelas lah kalau kumpeni-kumpeni itu mau tidur dengan cewek Bandung, itu artinya ceweknya cantik.”

“Itu tidak menjawab pertanyaan kenapa cewek Bandung cantik.”

“Sudahlah lupakan.”

“Baiklah…”

Aku tidak tahu apa yang Hamsun katakan tentang sejarah Kota Kembang itu benar atau tidak. Hanya saja mojang bandung menurutku sudah tidak semenarik dulu. Saat ini aku pikir sama saja perempuan dimanapun. Mereka berdandan dan mengenakan pakaian yang hampir tidak bisa dibedakan dengan kota-kota besar di Indonesia lainnya.

“Oh ya, kabarnya pemandian Cihampelas itu udah gak ada ya?”

“Begitulah. Beberapa tahun lalu sudah lenyap digantikan apartemen.”

“Wah juara! Tempat bersejarah dijadikan apartemen. Itu kan kolam renang pertama di Indonesia. Sinting memang pemerintah kita ini.”

“Iya…”

Aku tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Kadang memang gerutuan seperti itu tidak perlu ditanggapi. Hanya perlu didengar dengan sedikit anggukan kepala seolah benar-benar mengikuti cerita dan maksud penuturannya.

Kini hujan sudah benar-benar turun. Membasuh jalanan Bandung yang lelah digilas kendaraan dan mungkin juga harapan.

“Anjing!”

“Kenapa kau?”

“Mobil tuh diurus baek-baek Ham, perhatiin tuh wiper gak mau gerak! Bukan Cuma perlu cepet, urus nih jok juga udah bulukan begini. Mana AC nya gak dingin lagi.”

Aku dan Hamsun memang memilih aliran yang berbeda dalam mencintai mobil. Jika Hamsun selalu terobsesi dengan kecepatan dan performa mobilnya, aku lebih memberikan perhatian pada kenyamanan berkendara. Interior, teknologi pendukung berkendara, serta perangkat audio-visual yang terbenam di dalam kabin mobil adalah komponen utama yang selalu aku perhatikan. Termasuk wiper!

“Nah mau gimana kita, jalanan gak keliatan pak!”

“Ah kau ini dibuat repot semuanya. Berhenti saja lah, cari tempat minum kopi sambil tunggu hujan reda. Kali aja ada yang nyangkut satu dua cewek Bandung. Kau tahu kan, bagi sebagian masyarakat, hujan dipercaya sebagai berkah. Aku juga percaya, nah semoga saja berkah hujan kali ini kita dapet cewek Bandung.”

Aku menepikan mobil ke lajur sebelah kiri, berkendara sangat pelan dan hati-hati. Jarak pandang benar-benar hampir tidak terlihat, tertutupi bulir-bulir hujan di kaca depan.

Baru beberapa meter, sebuah neon box bertuliskan “Coffee Idea” berhasil tertangkap mataku yang dipaksa bekerja lebih keras dari biasanya.

“Juara! Asik nih tempat”

“Asik bagimana. Biasa aja ah.”

“Tuh…” dengan gerakan matanya, Hamsun menunjuk sebuah gedung bertingkat di sebrang jalan sambil menyeringai penuh maksud.

“Deket kampus juara! Belum paham juga? Kelewat bego kau! Hahaha”

Aku tentu tahu maksud Hamsun. Kedai kopi ini terletak persis di sebrang sebuah kampus, mungkin Hamsun berpikir akan banyak juga mahasiswi yang ngopi disini dan tentu saja ada banyak rumah kost di daerah sini.

“Ngerti kan? Gak perlu hotel kita. Hahaha”

Sejurus dengan tertawanya yang lepas itu, ia keluar dari mobil dan membanting pintu cukup keras. Ah, pantas saja banyak bunyi ngek ngok ngek ngok, cara menutup pintu seperti itu bisa membuat karet-karet pintu getas.

Setelah memarkirkan mobil, aku mengambil tas kecil yang berisi rokok, telepon genggam, dan jurnal catatan kecil miliku. Masuk ke dalam kedai yang meskipun kecil namun terkesan hangat dan nyaman.

“Juara! Ini hari minggu. Kampus libur.” Suaranya melemah, tidak bersemangat seperti pertamakali ia melihat bangunan kampus di sebrang kedai kopi ini. Aku hanya bisa tertawa memperhatikannya.

Kedai kopi ini hanya memiliki 6 meja, dengan kursi-kursi kayu sederhana. Tidak terlihat satupun meja terisi. Seorang pelayan yang terlihat mengantuk segera menata air mukanya agar terlihat ramah.

Kami duduk di meja terluar. Sengaja aku memilih meja ini, berusaha mengantisipasi reaksi Hamsun yang mungkin akan berlebihan ketika mencicipi kopi yang tidak memenuhi standar kualitas lidah pakarnya.

Beberapa kali aku menyambangi kafe yang menyajikan kopi bersama Hamsun membuat aku paham dengan apa yang akan terjadi seandainya kopi pesanannya tidak memuaskan. Pernah suatu sore, kami diminta menghadiri rapat dengan klien untuk sebuah project campaign brand salah satu produk fashion di sebuah kafe di Jakarta Selatan. Begitu kopi tersaji di meja, ia segera mencumbu aromanya, lalu mencicipi sedikit. Reaksi pertama Hamsun adalah mendatangi barista di meja belakang dan melakukan perbincangan sengit yang tidak aku mengerti. Beberapa menit setelahnya ia kembali ke meja, senyum di bibirnya menunjukkan rasa puas seolah telah memenangkan pertarungan yang seharusnya tidak perlu ada.

Kali ini aku tidak ingin ada seorangpun di kedai kopi ini mengalami hari yang buruk dan pulang dengan kepala tertunduk. Setidaknya, jika kami duduk di meja yang cukup jauh dari tempat barista mengolah kopi, aku memiliki kesempatan untuk menghentikan kelakuannya yang tidak penting itu.

“Mau minum apa kita? Di menu saja tidak ditulis kopi jenis apa. Gagah sekali namanya Coffee Idea, jualnya hanya kopi hitam dan kopi susu. Tidak jelas pula pakai kopi apa, serving dengan cara bagaimana. Juara!” kalimat-kalimatnya meluncur deras seperti hujan di langit Bandung siang ini.

“Ya sudah lah Ham, niat kita juga kan cuma mau nunggu hujan reda.”

Sambil menunggu kopi hitam pesananku, aku memeriksa telepon genggam. Ada satu pesan pendek dari nomor tidak dikenal. Sepertinya ini nomor yang sama dengan nomor tadi pagi.

Quick question: terobsesi pada kebahagiaan lalu jadi tidak bahagia atau terobsesi pada kebahagiaan karena tidak bahagia?

Di luar, hujan masih menari-nari dalam gerakan ritmis yang mistis. Sebagian rintiknya mengenai meja lalu terpantul ke arah telepon genggam yang kupegang dalam kegamangan. Hamsun masih menggerutu tentang kopi yang tidak sesuai dengan preferensi lidah pakarnya. Lalu tiba-tiba seekor cicak jatuh tepat di atas cangkir kopi Hamsun. Hujan sekonyong-konyong berhenti. Apakah ada hubungannya dengan cicak yang jatuh ke dalam cangkir kopi? Entahlah.


 

*) cerita ini merupakan nukilan dari bab 1 novel yang sedang saya kerjakan, dengan modifikasi (pengurangan dan penambahan disana-sini). Semacam latihan menulis untuk mengembangkan tema dan bentuk narasi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s