Knowledge Is Power, Information Is Liberating

Teknologi dan informasi berada dalam posisi yang nisbi penting. Perubahan perilaku, interaksi, dan tren—baik itu skala lokal hingga skala global—mendorong kesiapan individu untuk mampu beradaptasi dalam era informasi. Momentum ini sejalan dengan semangat percepatan pembangunan di berbagai belahan dunia, termasuk indonesia. Pembangunan yang terintegrasi, holistik, menyeluruh, komprehensif, dan sederet istilah lainnya tentu sudah sering kita dengar. Berbagai strategi dan taktik untuk merealisasikan mimpi-mimpi utopis itu gencar dilakukan oleh organisasi (bisnis, non-profit, hingga pemerintahan) maupun oleh individu. Namun peta persaingan sudah bukan lagi mengacu pada kekuatan resource statis dan materil. Kini persaingan memasuki babak baru, sebuah era informasi yang mengacu pada kekuatan-kekuatan baru seperti teknologi, informasi, dan kemampuan beradaptasi pada segala perubahan yang semakin hari semakin cepat. Tiga trisula kekuatan baru inilah yang menjadi kunci kekuatan di era informasi.

Knowledge is power. Information is liberating. Education is the premise of progress, in every society, in every family. –Kofi Annan

Kita tentunya sepakat dengan ucapan tersohor dari sekjen PBB ke-7, Kofi Annan yang saya kutip diatas. Bahwa pengetahuan adalah kekuatan, informasi membebaskan, dan pendidikan adalah premis kemajuan. Dari logika tersebut, internet telah membawa kita pada pengalaman baru untuk mendapatkan pengetahuan, informasi, dan pendidikan. Era informasi ini memang sejalan dengan kemajuan dunia digital. Dengan adanya internet, seorang anak muda di Tomohon bisa mengakses informasi yang sama dengan anak presiden Republik Indonesia. Semua orang memiliki kesempatan yang nyaris sama, tentu saja dengan beberapa prasyarat, salah satunya adalah akses terhadap internet.

Penggunaan internet dalam keseharian saya, dalam konteks ini menggunakan layanan paket data dari XL (PT. XL Axiata, Tbk) telah banyak membantu mempermudah pekerjaan dan aktivitas. Dari mulai tugas kuliah yang sekarang lebih banyak bersumber pada jurnal (bahkan teknis pengiriman tugas juga melalui surel), skripsi, mencari kesempataan side jobs, berselancar berjam-jam untuk menemukan beragam informasi, hiburan, chatting dengan pacar, gebetan, dan selingkuhan dosen pembimbing, hingga menggandrungi sosial media yang memang cukup adiktif (apalagi bagi mereka yang punya sejenis penyakit ‘kepo’).

Sebenarnya saya bukan termasuk pelanggan setia sebuah provider seluler, kerap kali saya berganti provider dengan alasan kualitas, harga, dan kebutuhan layanan paket data yang sesuai. Untuk XL sendiri, saya baru menggunakan selama kurang lebih satu tahun belakangan ini, setelah sebelumnya berganti-ganti hingga akhirnya merasa lelah dan menyadari bahwa tidak ada pacar  provider yang sempurna. Mungkin ini fase akhir dalam pencarian cinta provider seluler saya, toh setiap orang pada akhirnya akan menentukan dimana ia akan settled down (menikah? Hehehe).

Ada sejumlah alasan yang boleh jadi sangat personal dalam menentukan pasangan hidup ini.

Pertama, sebagai mahasiswa bisnis di salah satu perguruan tinggi ternama di Bandung—sebut saja inisialnya Universitas Pajadjaran—saya merasa memiliki keharusan untuk menjadi konsumen ‘cerdas’ (well-educated consumer) dengan melakukan riset mendalam sebelum melakukan aktivitas purchasing. Dilihat dari segi harga, XL berada di kelas menengah; tidak terlalu mahal, banyak juga yang lebih murah. Sebentar, ini agak tricky, untuk mengatakan sebuah produk (dan jasa) mahal, kita perlu menimbang dua unsur; harga yang harus dibayar dan benefit yang didapat. Jika harga yang dibayar melampaui benefit yang didapat, produk tersebut bisa dibilang overprice (mahal), namun jika harga yang dibayar—sebesar apapun—sebanding dengan benefit yang didapat, itu namanya reasonable price. Koh Acim bilang, ada harga ada barang. Oke kembali lagi ke XL, dengan benefit yang didapat, harga yang harus saya bayar sepertinya masih masuk akal. Tentu saja ada beberapa provider yang lebih murah, tapi sekali lagi saya tegaskan, benarkah produk tersebut murah? Jangan-jangan malah overprice jika dibandingkan dengan benefit yang didapat.

Kedua, sebagai netizen yang baper-an cerdas, tentunya saya tidak mau ketinggalan informasi yang sedang menjadi arus utama pembicaraan. Sebut saja Twitter, saya termasuk pengguna setia sosial media yang satu ini. Dari mulai berita, gosip, diskusi politik; sastra; ekonomi; filsafat; seni; agama, baperin mantan, mbribik gebetan, hingga modusin pacar bisa dilakukan di Twitter. Sekali lagi mengingat wejangan Kofi Annan, bahwa pengetahuan adalah kekuatan dan informasi itu membebaskan! Maka jika kamu mendapat pengetahuan tentang mantan kamu yang sekarang pacaran dengan laki-laki yang lebih kece dari kamu, seharusnya kamu kuat, kan pengetahuan adalah kekuatan. Jika kamu mendapat informasi gebetan kamu ditikung teman, ya kamu harus merelakan. Sebab informasi adalah hak seluruh umat manusia, sebab informasi membebaskan siapapun untuk mengakses apapun, termasuk temanmu yang mengakses gebetan kamu. Nah, dengan paket data internet dari XL yang tidak ribet (pembagian waktu dalam penggunaan kuota), kamu bisa seharian ngepoin siapapun. Untuk urusan koneksi yang stabil, saya berikan apresiasi setinggi-tingginya bagi XL. Jam berapapun saya membutuhkan internet yang relatif cepat, XL cukup bisa diandalkan.

Ketiga, pernah gak sih kamu dicuekin gebetan? Gak enak kan? Nah ini salah satu pertimbangan penting untuk meminang si XL ini. Customer service nya siap melayani keluhan kamu ketika pacarmu sibuk dengan dunianya terjadi gangguan. Cobalah sesekali mention twitternya @XLCare dan kamu bisa merasakan responsifnya admin-admin XL ini.

Keempat, gak ada sih. Agar tidak jadi tiga poin saja. Saya agak sensitif dengan angka tiga. Untuk alasannya, silakan tanya mantan saya. Tuh kan, terbukti saya adalah netizen yang cerdas baper-an.

Begitulah kira-kira tiga empat alasan personal bagi saya hingga akhirnya melabuhkan hati pada kamu XL. Sekarang mari kita sedikit tegakkan posisi duduk untuk membicarakan persoalan yang agak serius.

Bayangkan! Coba kalian bayangkan sebuah dunia yang saling terhubung. Sebuah dunia yang memilki koneksi tanpa batas. Bayangkan seorang anak kepala suku di pedalaman Papua sedang menggagas ide perencanaan pembangunan tata kota, melakukan diskusi teleconfrence dengan Ridwan Kamil sang pangeran taman kota Bandung. Sebuah dunia yang dilipat, menjadi dekat. Tentu saja setiap peristiwa memiliki dua sisi mata uang, termasuk dalam konteks internet. Ada beberapa gimmick yang sudah sering kita dengar seperti; “mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.” Ah, bagi saya itu tidak relevan dengan pembahasan internet kali ini. Hal itu baru menjadi relevan ketika kita membahas perilaku konsumen. Singkatnya, internet tidak salah, user lah yang perlu bijak menggunakan internet. Sebagaimana mantan kamu mungkin tidak salah, mungkin kamu kurang perhatian.

Jadi, bagaimana cara terbaik untuk mampu beradaptasi dengan perubahan yang semakin hari semakin cepat? Bagaimana cara menguasai kekuatan-kekuatan baru dalam era informasi yang nisbi tak bisa dibendung ini? Jawaban saya berikutnya mungkin akan terdengar seperti petuah Mario Teguh, tapi percayalah, kadang nasihat paling naif dan usang sekalipun memiliki nilainya tersendiri. Jadi bagaimana? Tentu saja jawabannya sederhana; jadilah pribadi yang adaptif, informatif, dan responsif. Lupakanlah mimpi-mimpi berdebu beberapa dekade silam tentang hidup yang harus begini begitu. Hidup tidak pernah sesederhana itu, rencana-rencana tidak pernah sesuai dengan kenyataan; akan selalu ada orang/peristiwa yang mengganggu perjalanan kita menuju realisasi rencana. Bukan berarti hidup ini tidak perlu direncanakan, hanya saja tanamkan ini baik-baik di kepala kita: sesempurna apapun perencanaan, tidak pernah lebih baik tanpa kemampuan melihat kondisi dan merespon dengan tindakan yang sesuai dengan kondisi yang ada.

Selamat ulang tahun XL! Semoga di usia yang ke-19 ini semakin matang, semakin dewasa, dan semakin bijak ya. #19thBersama

Iklan

8 thoughts on “Knowledge Is Power, Information Is Liberating

  1. Emang sih XL kalo dibanding beberapa provider cukup stabil internetnya, terutama untuk pemakaian di kota. Simpati tetep juaranya sebenernya, tapi ya kemahalan rasanya untuk paket data.

    Saya juga udah dua tahun ini migrasi ke XL. So far, reliable lah 🙂

    Oia, jadi…. mantannya siapa sih? :p

    Suka

    1. ada beberapa yang ngeluh lemot banget sih, mungkin ya balik lagi tergantung daerah ya. Biasanya kan kalau satu daerah banyak yang pake, otomatis bandwidth providernya gak kuat, jadi aja lemot. Kalau saya sih alhamdulillah di rumah (Lembang) cukup lancar, malah kadang download bisa tembus 700-900an kbps

      Mantan? hmmmm rahasia ah :p

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s