Wisanggeni

Namanya Wisanggeni.

Bertubuh ideal dengan leher yang jenjang. Kakinya memanjang, seolah apapun yang ada dihadapannya dapat ia langkahi dengan mudah. Ia memiliki mata hitam kecoklatan, dengan pendar yang kadang redup kadang menyala bersinar, matanya selalu melemparkan sesuatu pada tempat yang jauh. Sebuah tempat yang sering dirindu-dendamkan banyak orang. Konon, tempat paling indah itu adalah tempat yang justru paling takut untuk dikunjungi banyak orang.

Jauh di ujung langit sana, tempat para dewa bersemayam dengan nyanyian dan puja-puji mahluk tanah, Wisanggeni dilahirkan. Dari tempat itu pula ia dilemparkan, jauh. Jauh sekali hingga ia lupa dimana ia dulu dilahirkan. Tapi sepasang mata Wisanggeni adalah penangkap memori visual paling mutakhir yang pernah ada. Teleskop ruang angkasa Hubble pun tidak mampu menyamai kemampuan mata Wisanggeni dalam mencerap benda-benda, juga segala peristiwa ruang dan waktu.

Wisanggeni tumbuh menjadi seorang gadis cantik, tidak dapat dibandingkan dengan kecantikan yang pernah manusia lihat sebelumnya. Ketika ia berjalan, bukan hanya burung-burung yang berkicau dengan khidmat, gumpalan awan-awan di atas sana pun tak sampai hati membiarkan kulit nya terpapar sinar matahari. Maka, setiap kali ia berjalan, mega-mega beriringan membentuk payung tepat diatas kepalanya.

Disamping parasnya yang mustahil diimbangi oleh kecantikan manusia, ia memiliki semua sifat yang selalu ada di mimpi para lelaki kasmaran. Ia adalah utopia sempurna dari ungkapan klasik bahwa tidak ada manusia yang sempurna.

Tapi, sebagaimana telah ditakdirkan, bumi ini memang telah bunting oleh malapetaka dan segala kesengsaraan. Konon, manusia-manusia yang berada disini hanya memiliki satu tujuan, melepaskan diri dari kutukan turun-temurun dengan berlaku baik, berbudi luhur, agar kelak ia dapat kembali ke ujung langit jauh diatas sana.

Dengan segala kecantikan dan keindahan yang ia miliki, ia segera menjadi perempuan termahsyur di negeri ini. Sudah tidak terhitung lagi, berapa banyak laki-laki yang urung niat untuk mengencaninya. Hanya dengan mendengar kisah Wisanggeni, para petinggi kerajaan, saudagar ulung, pujangga yang rupawan, ksatria yang tak kenal takut, semua undur pamit dari gelanggang perebutan dewi langit itu.

Waktu terus berjalan, mengikat segala yang ada untuk tetap beriringan dengan rimte sang waktu. Sang pangeran tampan menjadi keriput, pedang-pedang tajam mulai berkarat, sajak-sajak indah menjadi tak lebih dari sekadar guyonan warungkopi, emas dan berlian kehilangan kilaunya, tapi Wisanggeni tak pernah terlihat bertambah usia. Ia tetap saja cantik dan mempesona. Ia masih saja Wisanggeni yang dulu, ratusan tahun yang lalu, dipuja-puji bangsa yang telah kehilangan peradabannya. Sang waktu pun tak sampai hati untuk menyentuh Wisanggeni.

Sekarang, zaman telah bergerak ke arah yang tak tentu. Beberapa orang mengatakan ini adalah zaman kemajuan teknologi, yang ditandai dengan berbagai penemuan mutakhir untuk menguasai alam. Manusia sudah bisa terbang dari benua Amerika ke benua Asia hanya dalam hitungan jam. Manusia telah mampu memprediksikan cuaca, meraba kapan akan turun hujan tanpa harus sesajen kembang tujuh rupa. Dan dunia sudah terpetakan dengan jelas, bumi ini bulat. Maka sejauh apapun kamu berlayar, kamu akan berakhir di tempat kamu bermula. Manusia akan kembali, selalu kembali ke tempatnya berasal.

Kemajuan ilmu teknologi juga telah merambah sampai ke bidang kedokterean. Dokter-dokter dengan jas putihnya itu kini telah mampu menunda kematian, menantang takdir! Atau barangkali memperjuangkannya. Pun begitu dengan paras manusia, kini ilmu pengetahuan telah memungkinkan untuk mengubah bentuk wajah dan tubuh manusia.

Wisanggeni pun telah banyak berubah, banyak kemampuan baru yang ia miliki untuk menghadapi zaman ini. Kini ia tidak hanya seorang perempuan dengan paras yang cantik dan budi yang luhur. Kini ia bisa berubah wujud menjadi apapun.

Kadang, ketika sore hampir sampai di ujungnya, ia mengubah diri menjadi lembayung jingga. Lalu ia terbang mengangkasa menjadi bintang yang paling terang. Di waktu yang lain, ia berubah menjadi Monalisa atau gunung Fuji. Ia juga berubah menjadi notasi-notasi Beethoven, Mozart, hingga lagu-lagu yang ada di acara Dahsyat. Bahkan kadang ia cukup jahil, ia berubah menjadi pelacur yang ada di perempatan jalan ketika malam turun. Baginya, keindahan merupakan hak setiap manusia, bahkan lelaki hidung belang sekalipun. Segala keindahan adalah miliknya.

Hingga datanglah satu waktu yang paling ditakutkan semua manusia. Tidak ada lagi keindahan di bumi ini. Segalanya telah berubah menjadi hitung-hitungan matematis, segalanya menjadi terukur dan pasti. Benda-benda, manusia, peristiwa, telah berubah bentuk menjadi angka-angka. Di saat itulah Wisanggeni pergi. Ia terbang menuju langit jauh dan berharap tidak ada seorang pun yang akan merindukannya. Sebab dunia ini sudah terlalu lelah dan serba tergesa. Sebab segala ukuran telah kehilangan bentuknya, nilai-nilai digantikan dengan uang, moralitas dikubur dalam-dalam.

Namanya Wisanggeni, ia telah pergi dan tak ada seorangpun yang menyadarinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s