Laut Dalam, Donggala; Dilema Modernitas Dalam Pariwisata

Datsun Risers Expedition
Datsun Risers Expedition

Senin bagi kebanyakan orang adalah awal pekan untuk memulai kesuntukan yang sama, repetisi pekerjaan dan kehidupan yang itu-itu saja. Tidak terkecuali bagi kami, para Risers yang kesehariannya disibukkan oleh beragam aktivitas; beberapa diantara kami kuliah, yang lainnya melakoni profesi masing-masing. Tapi hari ini, senin berwajah lain. Senin 14 September 2015, kami—para Risers—memulai pekan dengan keberangkatan pesawat paling pagi, dari kota masing-masing datang ke Palu, Sulawesi Tengah untuk mengikuti rangkaian acara Datsun Risers Expedition.

Matahari di timur jauh perlahan bangkit dari tidurnya, seperti seorang yang siuman dari pingsan semalam.

Above Palu
Above Palu
Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie
Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie

Crew Datsun terlihat membentangkan papan bertuliskan “Datsun Risers”  di pintu keluar Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie. Wajah-wajah sumringah, penuh semangat yang menyala-nyala seperti udara terik Palu pagi ini menyapa kami. Perkenalan singkat yang berlangsung dalam kebisingan dan keriuhan bandara berebut tempat dalam ingatan kami. Segera setelahnya, kami diantar menuju hotel Sutan Raja yang letaknya tidak jauh dari bandara. Duduk di lobby mempercakapkan apa saja. Dari hal-hal ringan, hingga perihal-perihal yang sangat ringan. Ah, bukan pagi yang terlalu buruk. Setidaknya pagi ini kami tidak perlu membuka mata untuk persiapan-persiapan kuliah dan kerja yang membosankan. Dan hey! Selamat pagi, Palu! Selamat pagi, Indonesia!

***

Setelah diberi briefing singkat, sambutan, dan arahan oleh Project Officer, kami bersiap untuk melakukan kegiatan pertama dalam rangkaian acara Datsun Risers Expedition; Drive Adjustment yang berfungsi sebagai pengenalan awal terhadap kendaraan yang akan menemani kami menjelajah Palu hingga Toraja, Datsun GO+ Panca. Ini adalah terobosan baru yang dicoba oleh tim Datsun untuk mengenalkan GO+ Panca kepada Risers sebelum ekspedisi dimulai. Harapannya, ketika ekspedisi dimulai, Risers sudah memahami kendaraannya dan dapat menjalankan ekspedisi ini dengan lebih baik lagi. Tepat pukul 12.00 WITA, keempat tim Risers (satu tim masih dalam perjalanan dari Balikpapan menuju Palu) mulai menjajal GO+ Panca menuju “Laut Dalam” yang terletak di Kota Donggala, kurang lebih 40 kilometer dari Palu.

Briefing
Briefing

“Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” milik Buya Hamka, ulama dan budayawan tersohor di masanya. “Tetralogi Pulau Buru” milik sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Di kedua buku itu, nama Donggala disebut sebagai tempat singgah para pelaut Nusantara dan mancanegara. Donggala identik dengan pelabuhan lautnya. Kota tua ini pernah menjadi pusat pemerintahan kolonial Belanda pada abad ke-18. Oleh Belanda pelabuhan ini dijadikan sebagai pelabuhan niaga dan penumpang.Tidak heran masih banyak bangunan tua tersisa di kota ini.

Risers Uniform
Risers Uniform

Tim Datsun memilih Donggala sebagai rute Drive Adjustment kali ini bukan tanpa sebab, selain medan jalan yang sangat variatif; dari mulai lurus panjang, hingga jalan berkelok membentuk huruf “U”, tikungan-tikungan patah, zig-zag, bumpy road, jalanan sempit mendaki bukit, Donggala memiliki objek wisata yang belakangan ini mulai dikenal para pelancong; Laut Dalam. Sejumlah alasan itu rasanya membuat perjalanan ke kota ini tidak boleh dilewatkan. Dari Kota Palu—ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah—perjalanan menuju Donggala bisa ditempuh tidak lebih dari satu jam. Jaraknya hanya 40 kilometer.

Risers Team 02 (kiri-kanan: @muhamad00irfan @okanino @azharijal)
Risers Team 02 (kiri-kanan: @muhamad00irfan @okanino @azharijal)

Sebelum menjajal jalanan berliku, kami harus melewati kota Palu—yang ternyata nisbi sepi jika dibandingan dengan kota-kota di pulau jawa. Di rute dalam kota, GO+ Panca ternyata sangat bisa diandalkan. Lincah, power di RPM rendah yang sangat besar berkat torsi yang dibenamkan dibalik engine bay mobil ini yang tergolong besar di kelasnya membuat GO+ Panca mampu stop and go dengan sangat mudah. Pengendalian stir yang ringan juga sangat membantu Risers untuk mengemudikan mobil ini di dalam kota. Ya, wajar saja karena mobil ini memang city car yang didesain untuk medan dalam kota. Tapi bagaimana dengan manuver di jalanan berliku, pendakian ke bukit, dan medan light-off road?

@azharijal
@azharijal

Selepas meninggalkan Palu, Road Captain (RC) segera memberikan komando melalui radio komunikasi untuk “kick down” pedal gas dan merasakan performa mesin GO+ Panca. Disinilah kami merasa perlu untuk melakukan redefinisi terhadap stigma city car yang tidak mampu diajak bermanuver dalam kecepatan tinggi. GO+ Panca diluar dugaan mampu meredam “body roll” yang pada umumnya terjadi di mobil-mobil city car (juga MPV). Gejala limbung dalam kabin mobil sangat minim dirasakan Risers ketika memacu mobil dalam kecepatan 60-80 kmph dan melakukan manuver pada tikungan-tikungan patah. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, kami juga sempat merasakan memacu mobil ini hingga kecepatan 120 kmph. Luar biasa, untuk mesin 3 silinder 1200cc, mobil ini mampu mencapai kecepatan 120 kmph dengan mudah.

Road Captain memberi sein ke arah kanan, keluar dari jalur aspal untuk memulai pendakian ringan melalui bukit dengan jalan menanjak yang relatif sempit. Lagi-lagi kami dibuat terkejut dengan performa mesin Datsun GO+ Panca yang mampu melibas jalanan terjal dengan nafas yang ringan. City Car naik gunung? Ya hanya di Datsun Risers Expedition. Setelah kurang lebih 15 menit, akhirnya kami melihat papan penunjuk menuju kawasan wisata “Laut Dalam” yang terletak di bibir pantai.

GO+ Panca Risers
GO+ Panca Risers
Akses Menuju Laut Dalam
Akses Menuju Laut Dalam

Ini adalah lokasi sightseeing pertama kami, tentu saja para Risers sangat antusias melihat seperti apa “Laut Dalam”. Dari pelataran parkir, kami sudah bisa melihat lokasi “Laut Dalam” yang ternyata sedang dalam proses rekonstruksi. Para pekerja sedang sibuk merampungkan tembok pembatas “Laut Dalam” dengan area pantai. Lokasi yang dulunya ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang Naked Traveller ketika sedang menjelajah pesisir Donggala sangat alami, jauh dari campur tangan manusia, kini digubah menjadi lokasi wisata dengan tujuan mendatangkan minat wisatawan untuk mengunjungi tempat ini. Tentu saja pada akhirnya akan mampu mendongkrak pendapatan daerah Donggala.

Under Construction
Under Construction

“Laut Dalam” awalnya hanya cekungan serupa kolam air laut yang terperangkap dalam bejana setinggi 12 meter, kini dikonstruksi menjadi area serupa taman bermain anak-anak dengan tembok tinggi warna-warni yang mengitari cekungan eksotis. Seriously, what are u doin, hey goverment?!

Baiklah, mari tinggalkan persoalan estetis yang selalu berujung pada debat kusir tak jelas juntrungannya. Kita kembalikan persoalan pada hal yang lebih mendasar: modernisasi lokasi wisata dan dampak ekologis yang menyertainya.

Ya, memang benar bahwa pariwisata tidak akan pernah maju tanpa pembenahan infrastruktur seperti akses jalan, fasilitas di lokasi wisata, ketersediaan penginapan, dan kebersihan (perawatan) lokasi wisata. Tapi jangan pula dilupakan dampak yang diakibatkan dari “eksploitasi” alam secara berlebihan. Seringkali alam dipandang sebagai tempat manusia memuja kehendaknya, menyalurkan hasratnya untuk menguasai. Kita sering lupa bahwa alam adalah kita, alam bukanlah suatu entitas yang terpisah dari manusia. Manusia adalah alam itu sendiri. Mengeksploitasi alam adalah upaya mengeksploitasi diri sendiri, mencabik-cabik kehidupan kita sendiri. Bukankah tidak ada upaya bunuh diri yang lebih menyakitkan dari membunuh tanpa sadar?

Lalu apa sebenarnya yang hendak ditawarkan modernitas? Tentu saja jawabannya sederhana: kemudahan. Teknologi—dalam bentuk apapun, termasuk infrastruktur akses lokasi wisata, pembangunan fasilitas di lokasi wisata, dan lain sebagainya—merupakan niatan mulia manusia untuk memudahkan kehidupan. Tapi seperti banyak peristiwa dalam kehidupan ini yang memiliki dua sisi mata uang, modernitas dalam konteks pariwisata membawa kontradiksinya. Bukankah atas nama kepentingan bisnis, segalanya menjadi layak ditukar dengan pundi-pundi pendapatan? Lalu seperti apa pembangunan lokasi wisata yang seharusnya? Tentu saja jawaban moralnya sederhana: pembangunan berbasis ekologis.

Mari sejenak kita pikirkan hal yang lebih teknis, pembangunan berbasis ekologis yang seperti apa? Dalam kasus “Laut Dalam”, alam yang eksotis digubah menjadi lokasi wisata artifisial yang kental sentuhan manusianya. Lagi-lagi cara berpikir antroposentris (secara sederhana dapat diartikan sebagai pandangan bahwa segalanya di dunia ini berpusat pada manusia) menjadi akar masalahnya. Dilema kemudian berlanjut ke tataran yang lebih rumit.

Memang bukan kapasitas saya untuk bicara perihal lingkungan ekologis, alih-alih ingin memberikan solusi, malah memperumit persoalan karena tidak paham duduk perkara yang sebenarnya. Maka dari itu, dalam penutup tulisan ini, saya hanya bisa berkata bahwa alam adalah kita. Alam sudah terlalu banyak memberi, tidak pernah lelah mengasihi. Apa sulitnya bagi kita untuk membalas kasihnya dengan perlakuan yang semestinya? Karena sesungguhnya, mencintai alam adalah upaya mencintai diri sendiri.

Good Night, Good People!
Good Night, Good People!

Selamat malam, Risers. Mari beristirah pada gelap yang sudah rebah sempurna di langit Palu. Besok, perjalanan ekspedisi baru akan dimulai. Nah, anggap saja ini tulisan adjustment juga ya 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s