Datsun; Legenda Fairlady 240Z Hingga LCGC GO Panca

Perkenalan saya dengan Datsun terjadi pada tahun 2011, ketika sedang mencari referensi sport cars bertubuh kompak dengan torsi besar. Mesin pencari menampilkan Datsun 240Z (di Jepang dikenal dengan Nissan Fairlady Z). Mobil two seat coupe ini dipoduksi dari tahun 1969-1978 dan mencapai puncak popularitasnya pada pertengahan tahun ’70, terutama di kalangan speed enthusiast. Pada masa-masa itu, pabrikan memang sedang gandrung-gandrungnya memproduksi mobil dengan tenaga besar–mengingat isu bahan bakar belum menjadi pertimbangan pada saat itu–

Datsun 240Z
Datsun 240Z  © Crank And Piston

Semenjak kesuksesan 240Z sebagai pionir di kelas mobil sport Nissan dan mendapat respon positif, terutama di pasar Eropa dan Amerika, beberapa penerusnya muncul dengan code name “Z” yang berhasil menguatkan Datsun sebagai divisi sport cars Nissan.

Dengan harga yang relatif “murah” jika dibandingkan dengan kompetitor sport cars lainnya pada masa itu (Jaguar, Porsche, BMW, dll) memang tidak membutuhkan waktu lama bagi Datsun untuk mengambil hati para speed freak. Menurut data yang dilansir Datsun, tercatat mesin 2,393 cc (146.0 cu in) dapat menghasilkan Power: 151 hp (113 kW) at 5600 rpm dan Torque: 146 lbf·ft (198 N·m) at 4400 rpm. Tercatat Top Speed: 125 mph (201 km/h) dan akselerasi 0 to 60 mph (97 km/h): 8 detik. ¹

Bahkan pada tahun 2004, Majalah Sports Car International memasukkan Datsun 240Z di peringkat kedua pada Top Sports Car of the 1970’s. Datsun 240Z berhasil mengalahkan Lamborgini Countach, Ferrari 308, Mazda RX-7, Porsche Carrera RS, dan BMW M1. Hanya kalah dari Ferrari Daytona yang menempati peringkat satu. Lalu pada tahun 1973, Datsun 240Z memenangkan WRC ke-21 di Afrika.

Dengan sederet prestasi yang impresif, maka tidak heran semenjak tahun 70an, Datsun dikenal dunia sebagai “mobil sport-nya Nissan”. Kini pertanyaannya, DNA sports car Datsun yang sudah begitu kental sejak tahun 70an itu dibunuh Nissan dan dibangkitkan kembali sebagai divisi “mobil murah”.

Bayangkan, seorang pelari juara internasional dipaksa hanya jogging di taman kota yang nisbi teduh dan nyaman. Bayangkan apa yang dirasakan sang pelari! Bayangkan seekor macan liar harus dikurung dalam kandang dan menjadi kucing jinak. Atau bayangkan, DAT-son (yang sering diterjemahkan sebagai “kelinci secepat kilat”, “kelinci lincah” dalam bahasa Jepang) harus menjadi kelinci hias yang setiap hari hanya boleh main di halaman belakang rumah. Bayangkan!


Mengenal Datsun Sebagai LCGC (Low Cost Green Car) di Indonesia

Mengutip penjelasan Datsun Indonesia di laman web nya:

Datsun adalah brand penting dalam sejarah Nissan Motor Company yang dimulai pada 1914 dengan DAT, sebuah perusahaan yang namanya berasal dari tiga inisial investornya (Den, Aoyama, dan Takeuchi) dan diartikan sebagai ‘secepat kilat’. Sejak model pertamanya, DAT-car, perusahaan ini terus berekspansi sampai kemudian diambil alih bapak pendiri Nissan Yoshiuke Aikawa pada 1933. Aikawa membayangkan ‘mobilitas untuk semua’ dengan bobotnya yang ringan, ekonomis, namun tahan lama, yang dapat memenuhi kebutuhan dan ambisi orang-orang Jepang di masa mendatang melalui rekayasa lokal dan produksi massal. Ia menamakan mobilnya ‘DAT-son’, atau ‘anak dari DAT’, yang kemudian mencadi ‘Datsun’.²

Lalu, mengapa Nissan membangkitkan kembali Datsun yang sudah dikenal sebagai Sports Car tangguh dan melakukan re-branding menjadi “mobil murah”?

Keputusan untuk memperkenalkan kembali Datsun ke pasar dibuat pada 2010. Dunia saat ini berubah dengan cepat dan penuh optimisme. Pria dan wanita datang silih berganti sejalan dengan pertumbuhan ekonomi tinggi. Mereka ingin mencari kendaraan yang tidak hanya menjadi jawaban dari kebutuhan dan keinginan sehari-hari mereka, tetapi juga memenuhi impian dan ambisinya. Proposisi kami untuk memenuhi kebutuhan ini persis sejalan dengan proposisi bagi pelanggan dengan optimisme sama seperti di Jepang, Amerika dan sebagian besar belahan dunia, sesuai apa yang diwariskan Datsun pada seluruh abad ke-20 silam.²

autobild indonesia 2
Datsun GO Panca © Autobild Indonesia

Saya menangkap ada optimisme dan sikap “oportunis” dalam jajaran petinggi Nissan. Mereka melihat perkembangan pasar otomotif dunia, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia, India, dan Afrika Selatan, sedang tumbuh dengan sangat pesat. Pertumbuhan ini ditandai dengan permintaan mobil ringkas (compact) yang handal dan mudah (juga murah) dalam perawatan (juga total cost maintenance).

Dewasa ini kita tahu, harga bahan bakar untuk mobil sudah tidak bisa dibilang murah lagi. Konsumen mulai melirik kendaraan yang hemat bahan bakar dan mudah dalam pengoperasiannya. Selain itu, jalan-jalan di kota besar semakin macet, padat, dan melelahkan. Mereka tidak lagi membutuhkan mobil dengan tenaga super-besar. Kaum urban kelas menengah membutuhkan kendaraan yang efektif dan reliable. Sebagai catatan, konsumen kelas menengah ini adalah pasar yang paling besar dan potensial dalam industri otomotif.

Dari premis tersebut, kita tentunya sudah dapat membaca apa yang dilakukan Nissan pada sang legenda; Datsun. Pembacaan dan pemetaan kondisi pasar yang gemilang. Namun bagi sebagian automotive geek hal ini tidak cukup. Pandangan ini baru dilihat dari satu sisi saja, hanya satu lapis dari tumpang-tindihnya lapisan pada dunia otomotif.


Dari Fairlady Hingga Go Panca

Bagaimanapun juga, darah mobil sports yang kencang dan handal telah melekat pada DNA Datsun. Bagi sebagian orang, warisan ketangguhan, keandalan, dan daya tahan kualitas global Datsun tidak boleh lenyap begitu saja. Macan, meskipun dalam kandang tetaplah macan.

autobild indonesia
Datsun GO Panca © Autobild Indonesia

Baiklah, agak terlalu hiperbolis mungkin untuk mengaitkan Go Panca dengan Fairlady (240Z) sang legenda. Tapi apakah salah? Bukankah brand image tidak pernah mampu mengubah seutuhnya citra yang telah melekat pada masyarakat? Terlebih lagi citra yang dibangun dari awal brand tersebut dikenal pasar. Ekspektasi yang telah kadung terpancang kuat ketika mendengar Nissan akan menghidupkan kembali Datsun. Sebuah tantangan sekaligus medan pembuktian bagi Datsun untuk melakukan elaborasi warisan kental sejarah panjang dan tuntutan pasar urban era modern.

Dari beberapa ulasan yang tersebar di portal-portal berita dan majalah otomotif Indonesia, setidaknya saya menangkap ada beberapa hal positif yang dilakukan Datsun dengan Go Panca nya.

Satu, mesin berkode HR12DE 3 silinder 1200cc yang digunakan juga pada Nissan March, Go Panca sudah terbukti ketangguhannya. Untuk kelas 3 silinder 1200cc, mesin HR12DE ini terbilang cukup mumpuni melibas setiap medan jalan dengan cukup mudah. Tenaga yang didapat dari mesin ini, terutama pada putaran RPM rendah (dibawah 4000rpm) terasa sangat terisi, meskipun di putaran atas agak lemah. Tapi tidak apa-apa, memang karakteristik mobil 3 silinder dan kebutuhan city cars adalah untuk stop and go.

Dibanding dengan Nissan March, tenaganya menurun menjadi 68 ps dan torsinya hanya 104 Nm. Namun bobot kendaraan total berkurang drastis menjadi 785 kilogram saja dari Nissan March di angka 935 kilogram untuk varian manual. Lantas pengurangan bobot tersebut membuat Datsun GO Panca unggul di segi power to weight ratio dengan perolehan hasil 0.039. Padahal Nissan March hanya memperoleh hasil 0.036 saja. Diatas kertas mobil ini lebih unggul dari kakak kembarannya lantaran bobotnya yang lebih ringan.³

dapur pacu
Datsun GO Panca © Dapur Pacu

Dua, dari segi desain ekserior, secara personal saya menganggap ini adalah desain LCGC terbaik di Indonesia. Proporsi lekukan body, gap antar panel, finishing, hingga bodykit (untuk versi active) terbilang sangat baik. Meskipun plat body yang tergolong masih tipis seperti LCGC lainnya, hal ini dapat dimaklumi, toh mobil LCGC ini harus irit dan murah. Disinilah Datsun dengan cerdik memilah bagian cost mana yang perlu dan mana yang tidak terlalu signifikan akan ia hilangkan seperti; wiper depan hanya satu, velg kaleng, karet-karet body, dan ornamen-ornamen kecil lainnya yang tidak memberikan impresi secara signifikan terhadap keseluruhan tampilan mobil. Secara keseluruhan, melihat Datsun Go Panca tidak akan terlihat terlalu murahan seperti mobil LCGC lainnya.

Tiga, suspensi yang lembut khas Nissan masih dipertahankan di mobil ini. Ternyata mereka tidak mengorbankan aspek kenyamanan yang satu ini. Patut diapresiasi formula Datsun meracik suspensi yang stiff sekaligus masih dalam batas toleransi kenyamanan (empuk). Hasilnya, bantingan suspensi saat melakukan manuver dalam kecepatan tinggi cukup stabil dan ketika melewati jalan rusak, suspensinya masih mampu meredam guncangan.

Kekurangannya mungkin ada pada fitur yang dibenamkan di dalam kabin, hanya dua speaker, pengaturan AC yang sangat sederhana, kompartmen penyimpanan barang yang “kasar”, dan fitur elektronik lainnya.


#DatsunRisersExpedition 

Sebuah agenda campaign telah disusun tim Datsun Indonesia. Membuktikan ketangguhan, kenyamanan, dan keandalan Datsun di berbagai medan di Indonesia. Datsun mengajak para Risers untuk menjadi bagian dari #DatsunRisersExpedition yang akan menjelajah Sulawesi pada gelombang kedua ini, setelah sebelumnya berhasil menjelajah 3.000 KM dengan melewati 56 kota di Pulau Jawa, Bali dan Lombok. Menjadikan Datsun mobil LCGC pertama yang berhasil menempuh jarak ekspedisi terjauh.

slide1
Datsun Risers Expedition © Datsun Indonesia

Untuk gelombang kedua, #DatsunRisersExpedition mengajak para risers untuk ikut serta menjelajah Sulawesi. Kesempatan ini terbuka untuk umum. Silakan daftarkan diri anda di http://www.datsunrisersexpedition.com/dre/public/register

Masihkah warisan Datsun melekat pada generasi lini produk LCGC nya? Dapatkah mobil compact city car seperti GO Panca memenuhi kebutuhan para risers? Mampukah GO Panca menjawab keraguan beberapa kalangan tentang kemampuan sebuah city car LCGC dalam melakukan ekspedisi ribuan kilometer?

Ikuti terus perkembangannya dan jadilah bagian dari Datsun Risers!

Situsweb http://www.datsunrisersexpedition.com/

FB http://www.facebook.com/Datsun.Indonesia

Twitter http://twitter.com/ID_Datsun


¹ Datsun specifications » 1969 Datsun 240Z”. Carfolio

² http://www.datsun.co.id/id-ID/faqs.aspx diakses pada 6 September 2015

³ http://autonetmagz.com/test-drive-datsun-go-panca-hatchback-indonesia-with-video/29391/ diakses pada 6 september 2015

Iklan

10 thoughts on “Datsun; Legenda Fairlady 240Z Hingga LCGC GO Panca

  1. Sedikit koreksi ya bro, suspensi GO Panca ini tergolong “stiff” loh, agak gak pantes kalo lo bilang masih nyaman sekelas Nissan. Tapi justru kalo gua pribadi sih lebih suka, enak bantingannya. Dibawa manuver, gejala limbung cukup minim (dikelasnya ya, jangan bandingin dengan sedan-sedan erovaaah hehe)

    Suka

    1. Terima kasih koreksinya bro! 🙂
      saya sejujurnya belum coba langsung sih ini Go Panca hehe, baru baca review dan lihat spesifikasi. Saya menyimpulkan suspensi Go Panca ini masih “nyaman” meskipun “stiff” berdasarkan komparasi dengan suspensi ford fiesta yang terkenal sangat rigid dan stiff. hehe

      Ya semoga aja dapet kesempatan ikut DRE, jadi bisa jajal langsung GO Panca, di Sulawesi pula. hehe Ntap!

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s