Nostalgia di Terminal Kopi

Jpeg

Enam atau barangkali tujuh tahun lalu, saya dan seorang teman SMA sering membolos jam pelajaran olahraga dengan berjalan kaki dari sekolah kami di Jalan Pasir Kaliki ke Dago Elos, Bandung. Perjalanan cukup jauh itu kami nikmati sambil menyesap berbatang-batang rokok ketengan yang dibeli di kios pinggir jalan. Pada masa itu, berjalan satu jam sambil menghisap rokok dan memaki-maki angkot jahanam di kota Bandung lebih menyenangkan daripada harus lari mengelilingi lapangan bola.

Tujuan akhir dari prosesi membolos itu adalah Terminal Kopi. Sebuah kedai kopi kecil yang terletak di Bandung Utara. Disana, kami selalu memesan kopi hitam—yang pada saat itu, single origin belum seeksotis dan instagram material seperti sekarang. Alasan kami sederhana, Chairil Anwar, para penyair dan para seniman kami dengar (baca) suka sekali dengan kopi hitam-pekat-pahit. Mereka keren dan kalau kita ingin keren—sebelum bisa membuat puisi seperti mereka—setidaknya bisa meniru cara minum kopinya sambil klepas-klepus menikmati rokok ketengan tentu lebih mudah dibandingkan menulis puisi.

Awalnya terasa sangat menyiksa, seperti sensasi merokok untuk pertamakalinya. Kami sempat berpikir bahwa kopi hitam memang layak jadi minuman para penyair, pahitnya minta ampun. Tidak seperti minuman soda atau orson rasa-rasa yang menggugah lidah remaja seperti kami saat itu. Tapi apa boleh buat, untuk menjadi seperti Chairil Anwar, ada harga yang harus dibayar.

Setelah melewati fase siksaan itu, kami mulai mendapati sensasi lain dari minum kopi hitam-pekat-pahit a la penyair dan seniman; merokok jadi lebih nikmat dan khusyuk, percakapan jadi semakin panjang, dan pekerjaan (saat itu tugas sekolah) jadi lebih terasa ringan. Hari-hari setelahnya, setiap ada kesempatan membolos, kami selalu menyempatkan ke Terminal Kopi.

Temanku sempat berpikir bahwa yang kami lakukan saat membolos tidaklah buruk-buruk amat. Disaat teman-teman kami bermain bola—jenis olahraga yang sangat nikmat disaksikan tapi tidak untuk dimainkan—kami memilih untuk melakukan olahpikir. Bukankah tidak hanya raga yang perlu diolah? Pikiran manusia juga perlu latihan agar tetap bugar dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Belakangan aku pikir, self-defensif sekali kami pada masa-masa itu. Merasa lebih gagah berbincang tentang sastra dan sedikit bacaan filsafat—30 Menit Besama Sartre, 30 Menit Bersama Camus, dan 30 Menit- 30 Menit lainnya—dibandingkan olahraga. Padahal itu hanya alasan saja. Bagi perokok fasih seperti kami, olahraga dengan tuntutan target tertentu adalah malapetaka.

Di Terminal Kopi, kami bicara banyak hal. Dari mulai gosip seputar sekolah, perempuan-perempuan yang rok abu-abunya kependekan, hingga mengomentari tokoh-tokoh dalam novel Agatha Christie, terutama Hercule Poirot dan sahabatnya Arthur Hastings. Sebelum kami mengenal sosok melankolis nan ganteng Chairil Anwar, kami sempat berkhayal ingin jadi detektif seperti mereka. Keren dan pasti bisa memikat perhatian perempuan.

Pada masa itu, kopi bagi kami hanyalah minuman hitam yang memiliki rasa pahit dan cocok sebagai teman ngobrol. Kami belum mengenal istilah-istilah keren seperti Barista, Roasting, Grinding, Cupping, Brewing, Single Origin, Specialty Coffee, dan lain sebagainya. Yang kami tahu hanyalah ngopi membuat kami keren, seperti si Binatang Jalang, Chairil Anwar.

Kemudian waktu terus berjalan, membawa pengertiannya masing-masing. Merayapi dinding-dinding usia dan peristiwa yang mampir pada hidup kami.

Aku mulai keranjingan minum kopi hitam dengan berbagai teknik yang dipelajari serampangan dari youtube, blog, serta website kopi—yang belakangan mulai ngehits. Mengunjungi macam-macam coffee house dengan lampu-lampu dan gelas cantiknya. Posting foto ngopi di tempat-tempat yang instagramable.

Aku melanjutkan kuliah di jurusan bisnis, sementara temanku di jurusan antropologi. Kami sudah jarang bertemu, punya kesibukan masing-masing. Aku pun tidak begitu yakin, apakah ia masih suka minum kopi hitam dan masih bercita-cita menjadi penyair seperti Chairil Anwar atau tidak. Aku sendiri sudah mengurungkan niat itu begitu menyadari betapa sulitnya menulis puisi. Pada gilirannya, kita akan selalu dikejutkan oleh apa yang bisa dilakukan waktu.

***

img1436442058799

Enam atau tujuh tahun berselang, tepatnya sore tadi aku berkesempatan untuk mengunjungi kembali Terminal Kopi. Seperti kebiasaan pada bulan ramadhan, bertemu teman lama menjadi semacam ritual yang perlu dilakukan agar puasa kita semakin afdol.

Nasib baik kebetulan sedang berpihak, aku dan temanku semasa SMA itu sama-sama tidak memiliki kegiatan apapun hari itu. Kami berdua yang sedang ada di Bandung segera mengusulkan bertemu di Terminal Kopi.

Setelah pencarian singkat melalui mesin pencari paling ajaib di jagat raya ini, ternyata Terminal Kopi sudah tidak lagi di Dago Elos. Mereka pindah ke Jalan Cemara. Konon menurut tuturan sang Barista, tempat lamanya kini hanya dijadikan gudang dan tempat roasting. Sayang sekali nostalgia ini harus berpindah tempat. Tapi tidak apa-apa, masih untung Terminal Kopinya tetap beroperasi diantara derasnya arus coffeeshop instagram material seperti Noah’s Barn, Lacamera, Cups, dan puluhan daftar lainnya yang terlalu panjang untuk dituliskan.

Ketika kami berhasil menemukan kedai kopi yang humble dan low profile ini di Jalan Cemara no 39, sejenak kami saling pandang dan bertukar seringai. “Masih seperti dulu! Hehehe”

Ya, Terminal Kopi ‘masih seperti dulu’. Tidak ada kesan cafe cantik dari mulai papan nama kayu biasa (bukan neonbox warna-warni aduai gemulai), penataan ruangan, meja-kursi dan furnitur pelengkap lainnya dibuat sesederhana mungkin.

Menempati sebuah rumah tua di Jalan Cemara, Terminal Kopi masih setia dengan konsep awalnya: menyajikan kopi berkualitas dari berbagai jenis kopi nusantara. Titik. Sudah, hanya sampai disitu. Mereka tidak berniat sedikitpun mempercantik penyajian dan tata ruangan, menciptakan ambience yang hangat sebagaimana biasanya coffeeshop kekinian.

Hal ini masuk akal, demi menekan serendah-rendahnya biaya operasional dan ongkos produksi, mereka perlu memangkas biaya-biaya sekunder dalam dunia minum kopi. Tapi untuk urusan kualitas rasa kopi, mereka tidak kompromi. Setidaknya lidah awam saya sudah membuktikan dan menjamin pengunjung tidak akan dibuat kecewa. Entahlah jika pakar kopi yang budiman mencobanya, kadang lidah mereka kelewat sensitif.

Mereka masih mengandalkan kopi fresh roasted dari micro-roasting nya di Dago Elos. Setiap kopi yang siap disajikan di Terminal Kopi tidak diproduksi dalam jumlah banyak. Hari ini saja beberapa jenis kopi absen dalam menu, seperti Papua, Flores, dan Bali kalau tidak salah, yang habis terjual dalam bentuk ground coffee. Sebagai catatan, selain cafe, mereka juga menjual kopi bubuk dalam kemasan 100gr, 250gr, dan 500gr yang bisa dipesan secara online.

Untuk memulai percakapan, saya memesan Robusta Temanggung tubruk. Teman saya memesan Arabika Gayo tubruk. Untuk Robusta Temanggung tubruk, saya hanya perlu membayar 5.000 saja dan Arabika Gayo Tubruk 6.500. Dalam waktu singkat, kopi itu tandas. Kini giliran mencoba manual brewing nya, saya memesan Arabika Aceh frenchpress yang cukup ditebus dengan 8.500 saja. Harga yang sangat murah untuk mencicipi kopi nusantara yang berkualitas.

Oh ya, meskipun kedai kopi ini terbilang sederhana dalam hal penyajian dan ambience ruangan, tapi tetap masih memperhatikan beberapa teman ngopi yang belakangan dirasa cukup penting; WiFi dan terminal listrik. Pengunjung bisa berselancar di dunia maya, mengerjakan tugas, atau sekadar numpang unduh film hanya dengan membayar sekian ribu untuk secangkir kopi.

Jpeg

Selain itu, pengunjung akan disambut oleh para barista yang ramah dan siap berbagi cerita seputar kopi. Tidak perlu merasa sungkan untuk memulai percakapan dengan mereka. Percayalah, mereka adalah orang-orang yang low profile dan humble, sejurus dengan visi-misi Terminal kopi. Hehehe.

Kami juga mendapatkan banyak cerita dari mbak Nifa yang saat itu bertugas menyajikan kopi, bahkan ia sampai memberikan pin Blackberry personalnya untuk memberitahu kami jika ada roastingan baru yang kami inginkan. Percayalah, keramahan organik seperti ini tidak akan kalian dapatkan di cafe-cafe mentereng itu.

Percakapan ngalor-ngidul dalam waktu tiga jam dan empat gelas kopi tidak cukup membayar lunas cerita-cerita yang terpilin oleh waktu. Sementara jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul lima. Sudah saatnya kami pulang ke rumah masing-masing untuk berbuka puasa bersama keluarga tercinta.

Ya, hari ini kami membolos lagi. Bukan dari jam pelajaran olahraga, tapi dari ibadah puasa di rumah—di hadapan orang tua. Ada baiknya, sifat yang tidak mulia ini tidak perlu ditiru oleh pembaca yang budiman.

Tapi tunggu dulu, bukankah menyambung silaturahim dalam agama islam sangat dianjurkan? Terlebih lagi di bulan suci maha baik ini dimana segala pahala akan dilipatgandakan untuk kapling surga yang kelak. Sialnya, bagi kami, percakapan dan nostalgia tanpa secangkir kopi adalah dusta belaka. Seperti dedek-dedek gemes yang check-in di path lagi ngopi di Noah’s Barn padahal pesan ice greentea. Dusta belaka.

Apapun alasannya, benar atau salah, kami bersyukur masih ada tempat ngopi seperti ini di Bandung. Diantara gemerlap warna-warni kedai kopi mentereng di Bandung, Terminal Kopi masih setia pada fitrahnya sebagai penyaji minuman hitam yang nikmat itu. Mungkin di dunia ini memang ada orang-orang yang bersetia memilih untuk tetap kecil namun bersahaja. Memberikan ruang-ruang alternatif bagi orang-orang yang merasa tidak sesuai dengan arus zaman yang deras dan masif.

Baiklah, bagaimanapun juga, minum kopi dan sekelumit kisah yang memberikan latar di belakang, samping, depan, dan segala sudut adalah hak seluruh umat manusia. Terlepas dari cara minum kopi, jenis kopi, dan pilihan tempat ngopi. Seperti kata Chairil Anwar:

Ngopi adalah kesunyian masing-masing!


*Tulisan ini dipublikasikan pertama kali untuk http://minumkopi.com

http://www.minumkopi.com/kedai/14/07/2015/nostalgia-di-terminal-kopi-ngopi-adalah-kesunyian-masing-masing/

Iklan

5 thoughts on “Nostalgia di Terminal Kopi

  1. terminal kopi , awal mula saya jadi coffe addict 😀
    masih terkesan sama mandailing tubruknya
    dari luar kedainya biasa aja malah keliahatan sepi , tapi kalo udah masuk banyak pengunjung dan rata rata semua sudah dekat dengan para pegawai disana
    makin malam makin rame ditambah waitress nya yg emang bener humble 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s