Enin dan Lebaran

Di tengah ritmis bunyi shalawat, tabuh bedug, dan teriakan riang anak-anak yang ikut meramaikan malam takbir, kami khusyuk pada kegamangan masing-masing. Tahun ini, adalah tahun pertama bagi saya, ibu, dan bapak mengalami malam takbir tanpa sumringah mempersiapkan rencana berkumpul di rumah nenek keesokan harinya, selepas solat ied.

Malam takbir, yang nisbi ramai kali ini harus kami suntuki dengan kesunyian masing-masing. Ibu, masih tabah mengisi ketupat-ketupat yang kosong. Bapak menyibukkan diri menyapu ruang tamu dan ruang keluarga. Saya, mengurung diri di kamar. Minum kopi sejadi-jadinya, sambil menulis. Pada tahun-tahun sebelumnya, di malam seperti ini, kami harus bergegas naik ranjang, tidur. Sebab besok pagi, kami harus segera pergi ke rumah Enin—begitu saya menyebut nenek—sepagi mungkin, menghindari macet.

Di hari lebaran, saat matahari belum menggantung sempurna di langit, kami semua sudah berkumpul di rumah Enin. Saudara-saudara yang lain segera berdatangan, satu per satu. Dari yang terdekat, hingga yang terjauh harus menempuh ratusan kilometer untuk pulang, mencium tangan Enin yang nisbi halus. Hingga malam benar-benar rebah, semua anak dan cucu Enin sudah berkumpul.

Anak-anak seumuran saya biasa berkumpul di depan televisi, berbagi cerita tentang permainan masa kecil yang dulu sering kita mainkan di halaman rumah Enin. Para orang tua duduk-duduk di dekat Enin, menyantap opor ayam lengkap dengan sambal goreng kentang. Mereka membicarakan entah apa, tapi mereka tertawa, bahagia. Enin sesekali menimpali gelak tawa itu dengan senyum, kadang ikut juga terkekeh hingga matanya menyipit, sembunyi dibalik gelambir pipinya yang renta.

Pada hari-hari itu, lebaran bagi kami adalah pulang. Pulang pada akar, pada sesuatu dimana segalanya bermula.

Hari ini, selepas solat ied, kami hanya mengunjungi tetangga-tetangga dekat rumah untuk saling memaafkan. Barangkali selebihnya hanya agar terlihat pantas demi kesopanan saja.

Kami kembali ke rumah, makan ketupat dan opor. Tentu saja tidak lupa untuk foto bersama. Setelah itu, semua kembali pada keheningan yang sama, seperti malam kemarin. Saat saya mendapati ibu sedang solat malam dengan sujud yang amat panjang. Doa-doa diterbangkan, udara rumah memberat. Semoga. Semoga. Semoga. Amin.

Tahun ini pertama kalinya bagi kami diam di rumah saat hari lebaran. Bingung. Serba gak enak, begitu kata ibu. Besok kami baru berencana untuk berkumpul dengan keluarga, sekadarnya. Di rumah Enin.

Kehilangan, barangkali mengingatkan kita bahwa manusia tidak bisa lari dari gerak waktu. Waktu terus berjalan, menggulung setiap peristiwa, memilin tiap-tiap diri kita. Tapi manusia selalu bisa memberikan perlawanan terhadap waktu, mengatur siasat untuk mengelabui waktu. Barangkali, kenangan yang berdiam dalam diri kita adalah upaya paling ramah dalam memeluk yang hilang. Dan doa, adalah sebaik-baiknya bentuk mengingat.

Anak panah telah dilesatkan jauh-jauh hari. Melalui berbagai musim, cuaca, dan segala doa. Kini, tugas Enin sudah selesai di dunia.

***

Kemarin sore, dalam perjalanan menuju rumah ibu. Matahari rebah sempurna di ujung horizon, semburat jingga keemasaan menyepuh jalanan yang lengang ditinggalkan para penghuninya, mungkin mereka telah lebih dulu mudik ke tempat-tempat yang jauh. Samar-samar, dari spion tengah, matahari terlihat menguntit perjalanan pulang. Berkali-kali saya menatap spion itu, matahari masih ada disana. Matahari tetap berdiam disana, menyertai perjalanan pulang.

Serupa doa-doa yang menyertai perjalanan pulang Enin.

Alfatihah…

Lembang, 16 Juli 2015

Lebaran 2014
                                                                                      Lebaran 2014
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s