[Review] KAMU – Sabda Armandio

Processed with VSCOcam with c1 preset
KAMU- Sabda Armandio

 

Judul           : KAMU (Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya)

Penulis        : Sabda Armandio

Editor          : Dea Anugrah

Penerbit      : Moka Media

Cetakan      : I, 2015

Tebal          : viii + 348 hlm.

ISBN           : 979-795-961-9

 

“Karena aku tidak tahu harus memercayai siapa akhir-akhir ini. Rasanya orang-orang gemar membuat kita tersesat. Jadi, kupikir, aku harus membuat peta milikku sendiri. Jika nggak ada lagi yang bisa dipercaya, kau mau percaya siapa lagi selain kepada dirimu sendiri.” (Hlm. 323)

 

Saat Dio menulis KAMU, saya membayangkan ia sedang berada di puncak bukit sambil makan mie goreng. Menyapu pandangannya ke batas-batas horizon di bawah sana, menekuri chaos yang cantik di bawah sana. Membuat bengong para jagoan filsafat. Armandio berhasil merangkum kondisi postmodern dengan caranya sendiri–melalui peta miliknya sendiri. Ia tidak berniat mendirikan bangunan kokoh dalam kanon sastra. Ia hanya memandang bangunan-bangunan besar itu telah runtuh, terjadi kekacauan di sana-sini, lalu muncul kekuatan-kekuatan kecil–anasir-anasir baru yang bangkit dari puing-puing reruntuhan. Menyadari kondisi itu, Dio segera bergegas membuat peta miliknya sendiri. Ia ketakutan, resah, dan merasa kalah bahkan sebelum pertandingan dimulai. Ya tidak apa-apa, tidak perlu murung dan merasa kiamat sudah dekat, biasa saja. Sebab bukankah memang ada pertandingan yang memang tidak mungkin dimenangkan (?)–dan sialnya kita tetap harus menjalaninya. Dengan tabah. Kalau bisa dengan riang gembira, tentu lebih baik lagi.

 

“Kenapa sih kau suka mi goreng instan? Kan nggak sehat.”

“Ya karena nggak repot. Sehat atau nggak, belakangan aja. Tiap habis makan mi goreng, aku merasa semua hal akan baik-baik saja.”

“Ih, tapi mi instan itu mengandung lilin!”

Aku menoleh ke arahnya. “Oh, ya?”

Ia mengangguk, bersungguh-sungguh.

“Kalau begitu, ternyata lilin itu enak.”

(Hlm. 207)

 

Selera humor yang luar biasa cerdas, seperti penggalan dialog di atas. Kita akan disuguhi banyak sekali dialog-dialog cerdas dan kelewat lucu dalam novel pertama Dio ini.
Atau narasi sendu yang cantik namun tetap memiliki selera humor dari tokoh Aku–si narator, seperti:

“Aku tidak ingin mengejar apa-apa. Bisa jadi karena itulah aku merasa kehilangan. Barangkali kota ini menghukumku karena tak taat aturan, tak berfungsi sebagaimana mestinya hingga membuat segala hal yang dulu kuakrabi berbalik memunggungiku. Mungkin sebentar lagi, kota ini akan menendangku.” (Hlm. 19)

 
Terselip juga beberapa kritik sosial terhadap sistem pendidikan, gaya hidup, kapitalisme, kehidupan urban yang absurd, seni, dan masih banyak lagi. Meskipun sesekali dalam narasinya Dio melontarkan serupa kritik, ia tidak berbicara dengan nafas sang jagoan, ia berkisah dengan kelakar khas warung kopi. Ia hanya bertutur pada seorang kawan yang sama-sama sial, barangkali. Ia tidak bercerita sebagai jagoan tentang cara hidup yang baik dan benar kepada pembaca yang budiman. Tidak. Moralitas ia tendang jauh-jauh. Ia berkisah seperti seorang karib yang lelah, dalam perjalanan yang terpaksa perlu dihentikan sementara, untuk mencecap secangkir kopi bersama-sama. Mengusir muak dan lelah, barangkali.

***

Jika biasanya sebuah novel dibangun melalui plot yang meruncing pada konflik tertentu agar alur cerita berjalan maju dan menampakkan maksud dari cerita tersebut, KAMU hadir tanpa tendensi ke arah sana. KAMU tidak mengampu kepentingan-kepentingan menyuarakan hal-hal besar, KAMU seolah-olah hanya sedang menertawakan kehidupan dengan segala absurditasnya. Saya jadi teringat “Keajaiban di Pasar Senen” karya Misbach Yusa Biran (Pustaka Jaya, 1971), hanya saja KAMU hadir lebih segar, dengan isu dan kegelisahan kontemporer yang dekat dengan keseharian kita. Dio seperti melakukan perlawanan terhadap gerak zaman yang semakin absurd. Ia berusaha mengelabui waktu, yang merayap pada dinding-dinding usia, melakukan siasat cerdik pada kedewasaan yang niscaya.

Porsi narasi KAMU sebagian besar dihabiskan untuk menertawai, mencaci-maki, meludahi dengan cara paling sopan kalau meminjam istilah Dio. Siapa musuhnya? bisa jadi kedewasaan, kemapanan, atau bahkan diri kita sendiri. Ya, bisa jadi ini adalah upaya paling ramah yang bisa kita lakukan untuk menertawai diri sendiri.

Disajikan dengan cara bertutur yang renyah, dekat dengan keseharian, dan sedikit nakal, maaf, maksudnya kelewat nakal. Novel ini saya rasa layak dibaca siapapun yang mungkin mulai lelah dengan cerita-cerita sastra yang berat bukan main, atau kelewat muak dengan teenlit yang serampangan dan gak jelas juntrungannya.

Kalau Eka Kurniawan yang konon katanya digadang-gadang sebagai calon penerus satu-satunya Pramoedya Ananta Toer, maka boleh dong saya menasbihkan Sabda Armandio sebagai salah satu calon nabi baru bagi anak-anak muda yang resah namun masih selalu kebingungan membedakan antara “galau” dan “resah”; antara “kritis” dan mengidap sesat berpikir kronis; antara berusaha nyinyir dan terlihat bau anyir.

Akhirnya, izinkan saya meminjam kata-kata Dio dalam “Ucapan Terimakasihnya”:

Untuk orang Italia yang petama kali mengucapkan pepatah “Setelah permainan berakhir, raja dan bidak masuk ke kotak yang sama.” Seperti bahagia, tidak bahagia pun sederhana. Dan keduanya tetap masuk kotak yang sama setelah semuanya selesai. Sama saja.

ps:

Awas aja kalau kau gak nulis buku selanjutnya. Saya racuni mi gorengmu pake ricin, mz~

Iklan

5 thoughts on “[Review] KAMU – Sabda Armandio

    1. boleh dicoba cari di warung burjo/indomie terdekat.
      akan ada bonus STMJ setiap pembelian KAMU*

      *)selama persediaan masih ada, syarat dan ketentuan diberlakukan terserah akang burjonya.

      Suka

  1. Ping-balik: AGRARIA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s