Tiga Matahari Menggantung di Langit

Tiga Matahari Menggantung di Langit*

 

Gemuruh terdengar sangat kencang, terutama pada bagian sisi kiri kabin dekat sayap. Seluruh penumpang Garuda Boeing 737-300 terlihat panik, beberapa meneriakkan Allahhuakbar dengan nada lantang bercampur gemetar hebat. Seorang lelaki yang duduk di sebelahku menyalakan lintingan—yang aku pikir—adalah ganja, menghembuskan asapnya ke atas kabin mungkin dengan harapan, jika itu nafasnya yang terakhir, ia ingin menghembuskannya dengan tenang dan menyenangkan. Pria paruh baya yang duduk di dekat jendela, mendekap anak perempuan yang duduk disampingnya sambil merapal doa-doa, atau mantra-mantra, aku tidak tahu dan tidak begitu paham perbedaannya. Seorang pemuda bertato naga menjerit dan menangis kencang, mungkin ia ketakutan menghadapi kematian, mungkin juga itu jeritan penyesalan atas hidupnya yang menyedihkan.  Pramugari sibuk mengingatkan agar semua penumpang tetap tenang dan memastikan sabuk pengaman telah terpasang dengan baik.

Berkali-kali pengumuman diperdengarkan melalui pengerah suara yang berasal dari kokpit bahwa pesawat akan terjatuh. Pada pengumuman yang terakhir, suara pilot ataupun kopilot terdengar gemetar, ragu, dan terbata-bata. Seolah ada segumpal  benda asing tercekat di tenggorokannya.

“Mayday Mayday Mayday… Ini adalah Garuda Boeing 737-300 dengan kode PK-GIA melaporkan pada ATC terdekat”

“Mayday, posisi kami…errrrr…rrrrr..zzzzhhh

“…pesawat kami mengalami kebakaran mesin di sayap kiri…eerrrrrzzzttt….rrrrr…zzzzzttt…pada ketinggian rrrrzzttt….rrrr… akan segera terja….. Zzzzzzztttttt….”

….zzzztttt…nggggggg...

 

Sepersekian detik sebelum semuanya menjadi gelap, aku mengingat kecelakaan Airbus A320 milik Germanwings beberapa bulan yang lalu. Pesawaat naas itu menabrak pegunungan Alpen pada kecepatan 700km/jam. Menurut investigasi termutakhir, pesawat itu sengaja ditabrakkan oleh kopilot bernama Andreas Lubitz dengan alasan yang tidak diketahui. Tentu saja tidak diketahui, lagipula bagaimana cara mengetahui motif tindakan tersebut jika seluruh kru tewas seketika. Kecelakaan itu mengakibatkan seluruh awak pesawat dan penumpang tewas, kurang lebih 150 orang. Baru saja tadi pagi ketika masuk ke kabin, duduk dan mendengarkan Holocene-nya Bon Iver melalui ipod, pikiran itu tiba-tiba terlintas di kepalaku. Bisa jadi itu serupa firasat, ah tapi  mungkin juga hanya karena malam sebelumnya aku baru menonton Air Crash Investigation di National Geographic. Aku pikir tidak perlu mendramatisir peristiwa kecelakaan seperti ini dengan bumbu-bumbu “firasat” dan lain sebagainya seperti yang sering kita dengar di media-media massa ketika terjadi kecelakaan.

Anehnya, dalam keadaan panik seperti ini, aku baik-baik saja. Detak jantungku normal, nafas keluar masuk rongga dada dengan ritme yang teratur. Seperti metronom yang diatur dalam ritme ayunan rendah pengantar tidur.

Setelah pengumuman terakhir dilentingkan dari kabin kokpit, hanya ada bunyi bising, teramat bising, hingga memekakkan telinga. Lalu gelap. Gelap. Gelap. Aku tidak bisa mengingat apa-apa.

***

Kepalaku terasa pusing, aku melihat sekeliling, hanya ada lanskap hijau yang luas, berbukit dengan pepohonan yang tidak begitu rimbun. Matahari terasa sangat terik, menyengat tak kenal ampun. Sambil mengumpulkan kesadaran yang tercecer, aku berusaha mencari siapapun yang ada di sekitar sini. Tapi sekencang apapun aku berteriak, tampaknya tidak ada siapapun. Kepalaku masih terasa sakit, seperti baru saja mendapat benturan benda tumpul dengan sangat keras. Bagaimanapun juga aku harus bersyukur, aku selamat dari kecelakaan pesawat tanpa luka serius.

“kamu baik-baik saja”

Seseorang menepuk pundakku dari belakang. Rupanya aku kelelahan setelah berjalan kaki cukup jauh dan tertidur dengan posisi duduk bersandar pada pohon Meranti.

“Iy..iyaa..iya. Aku baik-baik saja”

Ketika aku berdiri, aku melihat seekor badak sumatra bertubuh bongsor dengan tampang menyeramkan berjarak hanya beberapa sentimeter dari tempat aku duduk dan tertidur. Aku berlari tak tentu arah, hanya berusaha menjauh dari binatang menyeramkan itu.

“Hei tunggu… Hei, manusia! Tunggu!” teriak si badak bersuara bariton. Suaranya menggema dipantulkan vegetasi rapat hutan.

Aku tentu saja kaget setegah mati dan berlari semakin kencang. Tidak butuh waktu lama, badak bersuara bariton itu sudah menghadangku dari depan.

“Tunggu dulu manusia tidak perlu takut aku tidak berniat mencelakaimu.”

“Aku menemukan manusia lainnya di dekat air terjun sebrang bukit sana” Ia melanjutkan dengan suara baritonnya yang semakin menyeramkan ketika didengar dari dekat.

Ah, ternyata aku tidak selamat dari kecelakaan pesawat sialan itu, aku sudah mati dan sekarang ada di dunia binatang! Tapi bagaimana bisa? Kok tidak ada alam kubur atau surga neraka?

“Manusia?? Perempuan??”

“Benar manusia sejenis seperti kamu tapi memiliki rambut lebih panjang apakah itu maksudmu perempuan” ia bertanya dengan nada suara datar dan tanpa jeda, seolah itu bukan diajukan sebagai kalimat tanya.

“Dia mencari kamu membutuhkan kamu menolong secepatnya badak tidak bisa menolong luka manusia cepat ikuti aku” Butuh waktu sekian detik bagiku untuk mencerna maksud kalimat tanpa koma si badak.

Dengan perasaan ganjil yang mencekam, aku mengikuti langkah badak menuju bukit yang dimaksud. Selama perjalanan, ia menceritakan kronologis penemuan manusia di bukit sebrang. Ia juga bercerita tentang peradabannya, mengenalkan hewan-hewan dan pepohonan yang kami temui sepanjang perjalanan, teknologi-teknologi aneh, musim yang tidak dapat aku mengerti, dan matahari yang menggantung tiga buah di langit. Ah, pantas saja terasa panas sekali, di dunia ini ada tiga matahari!

“Badak, di tempat asalku, badak tidak bisa bicara pada manusia. Kenapa disini kamu bisa bicara denganku? Apa aku sudah mati?” Sambil berjalan cukup cepat, aku melemparkan pertanyaan pertama untuk sedikit mengusir rasa ganjil dikepalaku. Setiap kalimat yang meluncur melalui mulutku terdengar sepotong-sepotong akibat cara bernafas yang pendek-pendek, rasa ganjil, ketakutan, dan pengalaman absurd yang tidak bisa diterima akal sehatku.

“Benar disini semua badak bisa bicara pada macan pada burung pada pohon pada air sungai pada langit pada matahari pada manusia bukan hanya badak harimau bisa pohon bisa matahari bisa bicara pada siapa saja pada manusia bisa”

“kamu tidak perlu takut kami semua tidak jahat pada manusia”

“Tapi, bagaimana bisa badak? Kamu sudah lama ada disini? Atau tersesat seperti aku? Terakhir aku mengingat ada di pesawat, pesawatku mengalami kecelakaan. Begitu aku sadarkan diri, aku sudah berada disini.”

“Ditempat asalku aku bisa mendengar mengerti manusia bicara manusia tidak mengerti aku bicara manusia terlalu sibuk dengan dunianya lupa cara mendengarkan”

“Jadi, sebenarnya aku sudah mati dan berada di dunia lain?”

“tidak mati aku juga tidak mati semua mahluk yang ada disini tidak mati ketika manusia memotong pohon-pohon dan hutan terbakar aku seperti mati terbangun disini dengan semua keluarga teman-temaku semua ikut kesini”

“Baiklah, berarti aku tidak mati, hanya tersesat di dunia aneh ini. Begitu, ya badak? Oh ya, apa kita sudah dekat?”

“tidak mati kita hampir sampai”

Setelah menyebrangi sungai yang cukup dangkal, aku dan badak berhasil keluar dari hutan gelap, di ujung horizon aku melihat bukit hijau yang dipenuhi kawanan badak. Aku mendongakkan kepala, melihat matahari benar-benar ada tiga menggantung di langit.

“Sayaaaaaang….” Aku berlari sekencang mungkin. Menuju bukit itu. Tidak pernah aku merasa sesenang ini melihat kekasihku sendiri, melihat ada manusia lain di sekitarku.

Pangkal pahanya tertusuk sudut kursi pesawat, tidak sadarkan diri. Aku bergegas membuka baju, menarik besi yang menancap pada pangkal pahanya dan menghentikan luka yang menganga dengan kemejaku yang diikat kencang pada pangkal pahanya. Semua gerakan itu spontan, padahal aku sangat takut melihat darah. Biasanya langsung lemas dan mual.

Disini, waktu berjalan sangat lambat. Aku merasa sudah berada disini lebih dari 12 jam tapi ketiga matahari itu masih saja berada tepat di atas kepalaku. Hari masih enggan beranjak senja, menuju gelap. Sepertinya waktu juga memilki hukumnya sendiri disini, berbeda dengan duniaku yang biasanya.

“Badak, apakah disini tidak ada malam?”

“ada malam ada gelap masih lama”

***

Sepanjang perjalanan bersama badak tadi, aku memperhatikan dan dikenalkan dengan berbagai mahluk penghuni hutan. Badak Sumatra (Dicerorhinus Sumatrensis), Gajah Sumatra (Elephas Maximus Sumatrensis), Harimau  Loreng Sumatera (Panthera tigris sumatrensis), Siamang (Sympalagus syndactylus) Ungko (Hylobates  agilis), Wau-wau Hitam (Hylobates lar) dan Kera Ekor Panjang (Macaca  fascicularis) dan jenis burung endemik yang hanya ada di wilayah ini saja, seperti: Burung Tiung Sumatera (Cochoa  becari), Burung Puyuh Gonggong (Arborophila rubirostris), Burung Celepuk  (Otus stresemanni) dan Burung Abang Pipi (Laphora inornata).

Ada juga Bunga Raflesia Arnoldi yang terkenal sebagai bunga raksasa terbesar di dunia dan Titan Arum yang terkenal sebagai bunga tertinggi di dunia. Dari jenis vegetasi dan hewan-hewan yang ada disini, aku menarik kesimpulan bahwa—seandainya wilayah ini berada di duniaku—ini adalah kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, Sumatera. Mulai masuk akal jika logikanya demikian, berarti aku terjatuh di sekitar gunung Kerinci. Tapi di gunung Kerinci sekalipun, tidak ada badak yang bisa bicara dan matahari tetap hanya satu.

“Kamu lapar mau makan”

“kami juga punya makanan manusia kami tidak suka jika kamu mau aku bawakan” badak bersuara barito memecah lamunanku.

“Apa? Makanan manusia seperti apa badak? Bolehlah, lagipula aku memang sangat lapar. Terimakasih banyak sebelumnya.” Kalimat terakhir sengaja kubuat lebih lantang, dengan maksud agar pesan itu terdengar oleh seluruh kawanan badak.

“ya makanan manusia uang kami tidak suka rasanya pahit tidak membuat perut kenyang”

“Kamu makan uang? Tidak badak, manusia tidak makan uang” Sanggahku dengan kebingungan yang sudah mulai membuatku terbiasa.

“Manusia makan uang kami pernah mendengarnya ditempat kami yang dulu sebelum terjadi kebakaran manusia bicara cari uang buat makan pohon ditebang untuk uang teman-teman ikan mati untuk uang”

“Kalau begitu tidak usah badak, terimakasih. Aku makan buah dari pohon jambu ini saja.” Sia-sia juga jika aku menjelaskan lebih lanjut. Manusia tidak makan uang. Tapi ucapan badak tidak salah juga. Ah manusia memang membingungkan.

Senja akhirnya merambat di ufuk timur, lagi-lagi absurd. Disini, ketiga matahari itu terbenam di sebelah timur, setidaknya ‘timur’ menurut kompas yang ada di arloji outdoor­ ku. Ketika memperhatikan jarum penunjuk di arloji, aku baru sadar jarum jam berputar ke arah sebaliknya. Apakah waktu disini berjalan mundur? Bagaimana bisa? Baiklah, sepertinya aku harus mulai membiasakan diri dengan seluruh keanehan ini. Entah aku benar-benar sudah tidak waras, atau memang ini bukan dunia yang sebenarnya, ah memangnya ‘dunia-yang-sebenarnya’ itu seperti apa?

“selamat malam kami pamit dulu ya besok kita bertemu lagi bulan-bulan sudah menunggu sudah siap menggantikan kami” Suara merdu dari ketiga matahari kali ini tidak membuat aku kaget. Lalu ketiga matahari itu benar-benar lenyap ditelan horizon, langit menjadi gelap dan perlahan tiga buah bulan muncul menggantung di langit dengan anggun dan terlihat bijaksana.

“selamat malam hei manusia selamat datang di dunia kami” ucap bulan dengan anggun.

“selamat malam bulan, terimakasih sudah muncul, kalau tidak kami pasti kegelapan disini.” Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku, aku hanya merasa perlu menjawab si bulan. Sepertinya aku benar-benar mulai terbiasa dengan dunia ini. Sebaiknya aku segera beristirahat, semoga besok pagi kondisimu sudah membaik ya sayang.

***

“Bangun…. heii Ton, bangun!” aku hapal betul suara ini, dengan enggan aku membuka mata. Ah, kamu sudah sadarkan diri, syukurlah.

“Gimana kakimu? Sudah membaik? Kemarin kamu pingsan, untung saja aku bertemu si badak dan segera diantar ketempatmu. Di perjalanan menuju kesini, aku memetik beberapa tanaman obat, mereka sendiri yang berbicara, berinisiatif untuk menyuruhku memetiknya. Katanya, daun mereka bisa menyembuhkan lukamu. Aku kurang begitu tahu jenis tanaman apa, aku percaya saja. Lagipula dalam keadaan seperti ini, apa lagi yang bisa aku lakukan? Disini gak ada rumah sakit.”

“Iya, aneh sekali. Begitu aku terjaga tadi pagi, kakiku sudah sembuh. Lukanya menutup dengan sempurna. Makasih ya sayang. Oh iya, kamu udah ketemu harimau si kepala suku?”

“Disini kepala sukunya harimau? Kemarin aku sempat bertemu kawanan harimau, tapi gak ngobrol apa-apa sih. Memangnya kenapa?”

“Lebih baik sekarang kita mengunjunginya. Kata si badak bersuara bariton, harimau ingin bicara dengan kita.”

Ketiga matahari sudah menggantung di langit, kawanan badak tidak terlihat dari tempat aku tidur semalam. Sepertinya mereka sedang pergi mencari sarapan pagi. Aku dan kekasihku segera bergegas memasuki hutan, mencari kawanan harimau. Baru saja beberapa meter berjalan, dari kejauhan kawanan harimau berlari ke arahku. Aku diam. Kekasihku sembunyi dibalik badanku yang tidak seberapa besar. Sang Alpha Male menghampiriku.

“Hai manusia, selamat pagi. Bagaimana tidurmu semalam? Apakah kawanan angin mengganggumu? Menusuk-nusuk kulitmu yang tentu tidak begitu tahan udara alam terbuka seperti ini.” Wah, cara bicara harimau ini jauh lebih baik dari si badak. Pantas saja kalau harimau jadi kepala suku.

“Selamat pagi harimau. Tidurku cukup nyaman, tidak kedinginan. Semalam, bintang-bintang juga sangat terang. Mereka seperti hendak berbicara kepadaku, tapi aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.”

“Wahai manusia, bintang-bintang yang tampak di langit malam itu sesungguhnya bintang-bintang dari galaksi yang teramat jauh. Jutaan tahun cahaya. Ketika sinarnya tiba disini, mungkin bintang-bintang itu sudah meredup dan mati, di tempat asalnya. Perjalanan yang harus ditempuh cahaya bintang tidak main-main, wajar saja kalau kamu tidak mampu mendengarnya dengan jelas.”

“Ah iya, benar juga ya. Pelajaran astro-fisika dasar kan itu. Oh ya, kata badak, ada yang ingin kamu bicarakan denganku, ada apa ya harimau? Bisakah kamu tolong jelaskan bagaimana aku bisa berada disini dan bagaimana cara aku untuk pulang ke tempat asalku?”

“Mari kita bicarakan di bawah pohon itu” Kami berjalan mengikuti sang Alpha Male.

“Begitu aku mendengar kabar tentang kedatangan manusia ke tempat ini, aku segera memberitahukan kabar itu pada seluruh penghuni hutan. Kami perlu siaga. Sebab awalnya kami menduga ini adalah invasi manusia seperti sejarah bumi ribuan tahun yang lalu. Apalagi yang tiba pertama kali hanya dua manusia, berjenis kelamin jantan dan betina…,”

“maaf, mungkin maksudnya lelaki dan perempuan” sanggahku, singkat.

“oh ya, maksudku lelaki dan perempuan. Seperti Adam dan Hawa.” Ia menyeringai kemudian segera menata ulang raut wajahnya dan melanjutkan “tentu kalian para manusia sudah tahu apa yang terjadi dengan bumi. Peradaban yang dibangun dan dipimpin oleh manusia. Ekosistem tempat kami hidup rusak, beberapa saudara-saudara kami punah, yang lainnya terancam punah.”

“maafkan kami” lagi-lagi aku memotong ucapan harimau.

“Itulah manusia, tidak mau mendengarkan. Tunggu dulu, aku tidak bermaksud menyalahkan kalian umat manusia, aku belum selesai bicara. Kalian sebagai manusia memang sudah ditakdirkan untuk memiliki kehendak, memiliki hasrat untuk menguasai, dan memiliki keinginan-keinginan yang tidak terbatas. Itu wajar, kami maklum. Tapi apakah kalian tidak sadar, apa yang kalian lakukan itu sama saja dengan bunuh diri? Bukan hanya kami yang terkena dampak keserakahan kalian.” Sang aplha male menarik nafas panjang, menghembuskannya perlahan sambil memandang jauh. Terlihat bijak sekali. Kalau di duniaku yang biasanya, harimau ini seperti kakek tua yang sedang bercerita pada cucunya. Bercerita tentang kebijaksanaan hidup, tentang pengalaman-pengalamannya merentang nasib yang nisbi.

“Sekarang, peradaban sedang berjalan tumpang-tindih dengan garis waktu yang sejajar tapi tidak pernah bertemu. Ada banyak ‘dunia’ dalam satu garis waktu. Kebetulan, kalian tersesat menyebrang ke ‘dunia’ kami. Kalian tidak mati, tubuh kalian masih ada di dunia kalian yang seharusnya, di garis waktu milik kalian. Sejauh ini, dapatkah kamu mengikuti penjelasanku?”

Multiverse kah maksud kamu, harimau?”

“Ya, untunglah kamu tahu, jadi aku tidak perlu menjelaskan lebih jauh lagi.”

“Lalu bagaimana caranya agar aku dan kekasihku—sambil menunjuk ke arah dia—bisa kembali ke duniaku?”

“Itu mudah, manusia. Kamu hanya perlu memegang benda apapun yang ada di dunia ini, memejamkan mata, lalu mengingat peristiwa-peristiwa terakhir dalam ingatanmu. Tarik mundur hingga waktu yang paling kamu sadari. Maksudnya, teruslah berusaha mengingatnya secara bertahap dari ingatan terakhir hingga kamu benar-benar sadar. Jika kamu berhasil, kamu akan merasa hanya seperti sedang bangun tidur dengan sedikit pusing pada bagian kepalamu.”

“Hanya itu saja?”

“Ya, hanya itu saja yang bisa aku katakan. Aku tidak bisa menceritakan lebih lanjut lagi. Ini rahasia alam, rahasia mother nature yang tidak bisa kami ceritakan pada kalian. Sekarang, aku sarankan segeralah pulang sebelum ingatan kalian semakin buram.”

“Terimakasih harimau, tapi aku masih penasaran, bagaimana bisa aku tersesat ke dunia ini? Apakah selain kami berdua, pernah ada manusia yang tersesat juga?”

“Selalu ada, dunia tempat kita hidup ini chaos manusia, segalanya bisa terjadi. Hanya saja kalian di dunia kalian dengan para saintis belum berhasil menemukan caranya. Pengetahuan kalian masih berumur sangat muda. Mengenai bagaimana kalian bisa tersesat, aku tidak bisa menceritakannya. Sekarang, pulanglah.”

Sang Alpha Male mengaum keras, seolah memberi tanda pada kawanan harimau untuk pergi mengikutinya, menjauhi kami. Dalam hitungan detik, mereka sudah leyap ditelan hutan gelap. Aku segera mencari benda yang akan kubawa kembali ke duniaku, mataku tertuju pada ranting patah sebesar pemantik api, kekasihku mengambil batu seukuran genggaman tangannya. Sebelum memejamkan mata, aku mengedarkan pandang untuk terakhir kalinya. Merekam baik-baik pemandangan yang ada disini dalam ingatanku.

***

Kota sudah mulai bersiap kembali memulai hari yang baru. Kebisingan yang baru, demonstrasi yang baru, dan segala kriminalitas yang sudah siap menguntit siapapun yang lengah. Embun tidak ada di kota ini, bahkan mungkin cucuku nanti hanya akan mendengar embun dalam cerita-cerita romantik. Seperti aku yang hanya mampu mendengar ladang subur, ternak makmur, hutan yang kudus, dan masyarakat yang sejahtera dengan segala budaya luhurnya di epik-epik purba. Yang tertinggal hanyalah patung, lukisan, sajak, cerita, dan lagu-lagu. Tapi karya seni macam apa yang bisa ditinggalkan kota yang terlalu sibuk seperti ini? Warisan apa yang akan kita berikan pada generasi setelah kita?

Hidup hanyalah sebentuk ruang tunggu. Manusia datang dan pergi, kehidupan tak pernah beranjak sedikitpun. Konon, energi dalam kehidupan ini kekal, terus menerus mendaur ulang dan memperbaharui dirinya dengan sistem evolusi genetik yang rumit. Ia menetap, selalu ada, tidak pernah dan tidak mungkin menjadi tidak ada. Sebab tidak mungkin dari ada menjadi tiada. Sama tidak mungkinnya dari tidak ada menjadi ada. Berubah bentuk, mungkin. Lihat saja Jakarta hari ini. Lihat saja dirimu hari ini!

“Sayang, besok kita liburan yuk. Aku baru ambil jatah cuti 4 hari. Kita ke Sabang, kilometer 0 Indonesia.” Aku membuka percakapan dengan kekasihku tanpa basa-basi.

“Wah, ada apa nih tiba-tiba ngajak liburan? Jenuh ya?”

“Begitulah. Bulan-bulan ini aku kerja terlalu keras. Aku khawatir dengan kesehatan jiwaku, sayang…”

“Hahahhaa kamu ini, udah berapa kali dalam setahun ini aku denger keluhan kamu, gak kehitung juga berapa sering kamu ngeluh mau resign, tapi ujung-ujungnya tetep aja kerja disana.”

“Ya begitulah.”

“Kamu urus tiket ya sayang, aku agak sibuk hari ini. Aku usahakan selesaikan kerjaanku hari ini. Besok jemput aku jam 8 pagi ya”

“Oke, see you soon, sugar!”

“daaaadaahh…”

Sambungan telepon ditutup. Kepalaku sudah tiba lebih dulu di Sabang, Pulau Weh. Sebuah pulau paling barat di Indonesia. Sementara badanku masih nyangkut di kemacetan Jakarta yang semakin tidak manusiawi. Terhimpit diantara sekumpulan manusia yang serba tergesa.

Ya, tergesa. Pagi, bagi kami orang kota, hanyalah sebentuk persiapan-persiapan singkat menuju kerja. Selalu, sarapan yang singkat, sedikit membaca headline koran, sececap kopi dan rokok yang tidak pernah habis, juga sedikit kecupan istri atau sedikit sapaan sayang dari kekasih. Sedikit, sedikit saja. Sebab efektivitas dan efisiensi sudah terlalu sering didengungkan di telinga kami. Sebab sedikit saja kami lambat, di akhir bulan istri sudah merengek meminta telivisi baru yang tidak terbeli. Mimipi-mimpi yang tidak tercukupi. Sementara Kotler dengan strategi pemasarannya semakin membuat kami kalap. Terlalu banyak yang tidak mampu kami beli, terlalu banyak mimpi yang seolah kami butuh.

Tidak lama kemudian, telepon genggamku berdering.

“Sayang, sebentar-sebentar. Kok aku ngerasa dejavu ya? Obrolan kita di telepon tadi itu kok aku ngerasanya udah pernah ngobrolin itu dengan kamu deh, tapi lupa kapan.”

Keheningan menyergap kami berdua, tanpa aba-aba. Seluruh suara tiba-tiba lenyap ditelan ruangan hampa udara.

“Sayang, kamu ngerasa mimpi gak semalem? Mimpi kecelakaan pesawat terus terdampar di hutan aneh, bisa ngobrol dengan badak, harimau.”

“Iya, aku mimpi kayak gitu, sama.”

“Ranting? Batu?”

Kemudian hening. Sambungan telepon diputus.

Jadi, apakah itu bukan mimpi? Lalu bagaimana bisa ranting ini ada padaku? Aku pikir, aku mulai gila. Mungkin terlalu banyak kerja. Benar-benar perlu liburan. Aku terlalu kacau.

Sepertempat botol whisky aku tenggak habis, malam kian gelap dan lampu kota semakin cantik. Lampu-lampu itu sudah benar-benar selesai bersolek. Aku beristirahat, tidur. Jakarta tidak.

Keesokan harinya, aku bangun lebih pagi dari biasanya. Menjerang air untuk secangkir kopi, menyalakan televisi pada program berita yang membosankan, membuka-buka halaman koran yang tidak mengabarkan apa-apa. Semuanya serba membosankan dan melelahkan. Koran dilipat, tergeletak malas di atas meja. Tanganku meraih remote televisi, memindahkan saluran secara acak. Bosan. Bosan. Bosan. Sama saja. Ini lagi. Busuk. Ah, cerita lama. Lalu aku terhenti pada salah satu stasiun televisi.

Breaking News…

Pesawat Garuda Boeing 737-300 Jakarta-Padang baru saja hilang dengan misterius. Kabar terakhir yang kami dapat,….

 

Aku segera berlari keluar rumah, mendongakkan kepala. Tiga Matahari Menggantung di Langit Jakarta!

***

 

*) Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

Iklan

5 thoughts on “Tiga Matahari Menggantung di Langit

  1. waaah kok cerpennya gini sih mz? gak kyk biasanya… sayang banget. padahal kalau mau ikutan lomba, jangan coba eksperimen kyk gini. Nulis cerpen yg biasanya ditulis aja. keliatan banget ini cerpen masih mentah, jarang nulis dengan gaya kyk gini ya? hahaha

    well, good luck mz!

    Suka

  2. Tidak seperti biasanya, tulisanmu kali ini cenderung buram mas. Deskripsi ‘suasana fotografik’ yang biasanya kuat, disini hampir tidak terlihat samasekali. Pembaca benar-benar dibuat bingung. Lompatan antar narasi terlalu terlihat. Gagasan yang sebenarnya bagus, jadi tidak nampak.

    Sayang sekali mas, padahal saya sebagai pembaca, setelah membaca sepertiga awal cerpen ini, berharap akan ada hook di tengah atau di akhir cerita. Ternyata….

    But well, nice try!

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s