Hanya Orang Tolol yang Percaya Sukab!

02.30

ATM lengang, kacanya berembun karena  AC yang dibiarkan tetap menyala di malam yang begitu dinigin. Kendaraan yang melintas hanya satu dua saja, truk-truk besar dengan muatan yang hampir terlihat mustahil untuk diangkut. Lampu-lampu jalan mulai kelelahan dengan nyala yang harus. Satu motor dengan laju yang terlihat tidak stabil mendekat ke arah ATM, oleng beberapa saat, tapi sepertinya si pengendara masih mampu mengendalikan motornya. Ia turun, lelaki bercelana jeans biru muda dengan hoodie yang terpaksa digunakan mungkin untuk menghadang hawa dingin. Dengan satu gerakan singkat, ia menurunkan standar untuk menopang motornya. Sial, motor itu terjatuh tapi si lelaki bercelana jeans biru muda yang menggunakan hoodie enggan untuk membenahi motornya yang terjungkal. Ia berjalan, sempoyongan menuju mesin penarikan uang tunai yang kacanya berembun.

02.40

Langit masih gelap, sebab fajar belum mau menampakkan dirinya sepagi ini. Lelaki bercelana jeans biru muda yang menggunakan hoodie masih berada di dalam ruangan berembun mesin ATM. Nada-nada minor sahut-menyahut dari tombol-tombol ganjil yang ditekan lelaki itu. Motornya masih terjungkal seperti tikus yang kaget digigit semut lalu terjengkang di tepi selokan. Perumpamaan yang aneh! Biarlah, bukankah semua perumpamaan memang sesungguhnya aneh?

02.59

Ia masih disana! Hampir pukul tiga. Bahkan pelacur pun sudah tiba di rumahnya. Menenggak sebotol bir hitam lalu terkapar di kasur busa murahan yang spreinya sudah pudar bercampur dengan keringat lelaki yang mampir ke rumahnya. Entah bapaknya siapa yang ia tiduri di kasur busuk beberapa hari yang lalu.

Praaanggg! sekonyong-konyong pintu kaca itu ia tendang dengan kaki kanannya yang mengenakan sandal Swalow berwarna hijau. Lelaki bercelana jeans biru muda yang menggunakan hoodie itu kini berjalan dengan agak tergesa, membetulkan posisi sepeda motornya. Dengan satu tarikan, motor itu melesat menembus gelap.

05.00

Lagit masih juga gelap. Belum ada tanda-tanda semburat jingga di ujung horison timur. Lelaki bercelana jeans biru muda yang mengenakan hoodie kini sudah berada di dalam kamarnya yang gelap dan pengap. Memeluk sebotol absinthe yang ia beli entah dari mana sepagi ini. Botol itu sudah tinggal duapertiga. Kepalanya hampir menyundul langit-langit kamar, matanya setengah terbuka, atau setengah tertutup, entahlah. Pokoknya ia tidak lagi membuka matanya dengan sempurna. Musik Rock Alternative membuat kamar itu semakin keren. Karena penghuninya sedang mabuk, tentulah untuk semakin mendramatisir situasi, musik itu perlu ada dalam cerita ini.

Ia masih berteriak-teriak–setidaknya begitulah dalam pikirannya– meskipun nyatanya yang keluar hanya desis lirih. Sebagian terdengar serupa ceracau khas anak muda yang sedang mabuk. Sumpah serapah, kebencian, diktum kekalahan, penghianatan, kekecewaan, dan lain sebagainya.

“Mulai hari ini, langit akan tetap gelap. Matahari tidak sudi terbit untuk kalian!”

“Inilah yang dinamakan hari pembalasan, wahai kalian manusia-manusia munafik, cecurut-cecurut hipokrit! Anjing-anjing korporat bangsat!”

“Kalau sudah begini, mau apa kau? Mau apa? Habis sudah semua oleh keserakahan babi seperti kalian!”

Ia benar-benar mabuk. Tapi langit benar-benar masih gelap. Tapi lelaki bercelana jeans biru muda dengan hoodie itu sedang mabuk, tidak mungkin apa yang dikatakannya benar, atau setidaknya sedikit menyerupai kebenaran. Tidak mungkin!

07.15

Orang-orang yang sedang bergegas menuju tempat kerjanya seperti para gladiator bersiap memasuki arena–lagi-lagi perumpamaan yang aneh!– tampak kebingungan melihat langit yang masih gelap. Tidak ada tanda-tanda matahari muncul sedikit saja di ujung timur sana. Beberapa orang menepi untuk saling berbagi resah dengan yang lainnya. Sepertinya orang-orang memang senang untuk membagi keresahannya dengan yang lain. Mungkin dengan begitu, keresahannya sedikit berkurang. Setidaknya, merasa ada yang bernasib serupa. Yang lainnya tampak tidak peduli, membetot gas sekencang-kencangnya, berliuk-liuk diantara kemacetan yang niscaya. Pasti mereka adalah golongan pekerja yang cicilan kendaraan dan rumahnya belum lunas semetara istri sudah minta televisi layar datar baru lantaran tetangganya baru saja membeli barang serupa.

08.30

Ini semakin mengherankan, sesisi kota mulai gempar. Langit masih juga gelap. Mesjid dan surau di pinggir jalan mendadak sesak dijejali manusia-manusia yang ketakutan akan datangnya hari penghabisan. Toa mesjid memperdengarkan doadoa yang diterbangkan ke angkasa gelap. Di salah satu pojok warung kopi, terdengar berita radio yang volumenya dibuat maksimal

“Mulai hari ini matahari tidak akan terbit lagi. Harap maklum. Sekian breaking news.” kemudian lagu dangdut kembali memekakkan telinga.

teganya dirimu, teganya, teganya… laalaalaa

Pada waktu yang sama, di dalam kamar pengap, lelaki bercelana jeans biru muda yang menggunakan hoodie teriak kegirangan seusai mendengar breaking news itu. “Hahaha.. saat ini kalian pasti sedang memikirkan si Sukab dalam cerita Seno itu. Kalian orang-orang tolol pasti percaya cerita itu bukan fiksi, tapi ramalan masa depan, seperti 1984nya Orwell. Seno barangkali memang seorang cenayang sakti. Sekarang, mampus lah kalian semua cacing-cacing tanah, tikus-tikus pengerat kapital bangsat! Hahhahaa!”

10.00

Alun-alun kota padat. Manusia-manusia berjejalan dengan resah. Persis seperti dalam cerita Seno, hanya saja mereka berkumpul di alun-alun kota yang cantik dengan bunga-bunga bermekaran dalam pot-pot besar, bukan di pasar yang becek dan bau busuk. Sebab pasar sudah tidak ada lagi di kota ini. Habis semua menjadi gedung-gedung bertingkat. Jadi, latar pasar sudah tidak relevan lagi dalam cerita ini. Maka diganti saja dengan alun-alun.

Sekonyong-konyong pemuda yang wajahnya seperti membawa wahyu ilahiah naik ke atas monumen tinggi di alun-alun itu.

“Saudara-saudara, tenang. Harap tenang! Langit sampai saat ini memang belum juga terang. Matahari masih bersembunyi entah dimana. Ada baiknya kita mulai mencarinya, mungkin bisa dimulai dengan mendatangi kediaman bapak Seno Gumira Ajidarma. Si pengarang itu. Barangkali ia memiliki jawabannya. Ada yang tahu alamatnya?”

“Saya, saya tahu!” sahut seorang remaja yang menggunakan celana abu-abu “Saya tahu rumahnya, karena saya kenal dengan si Sukab! Kalau sudah ketemu Sukab, pasti kita bisa menemukan Bapak Seno. Pasti! Tidak salah lagi.”

“Bung, Sukab itu kan tokoh fiksi dalam cerita Bapak Seno. Tidak mungkin ada dalam dunia nyata. Gimana sih bung ini, keadaan genting begini masih saja bercanda!” gerutu seorang bapak yang tampak bijaksana dengan kumis tebalnya.

huuuuuuuu… kerumunan itu serentak menyoraki si remaja yang menggunakan celana abu-abu.

“Tenang, tenang saudara-saudara. Sukab memang tokoh fiksi dalam cerita-cerita Bapak Seno, tapi bukankah yang kita hadapi saat ini juga seperti ada dalam cerita kan? Seperti fiksi. Sebab jika dunia nyata, rasanya aneh sekali matahari tidak terbit. Jadi, barangkali ada benarnya juga saran dari adik yang tadi.”

“Nah kan, ayo kita temui Sukab! Kabar terakhir kan dia sedang ada di pantai, bersama sekumpulan orang yang mencari matahari sampai jauh ke timur”

“Ayooooo!!” suara bergemuruh, kerumunan itu seperti mendapatkan kembali harapan. Ya, setidaknya dengan harapan, mereka memiliki kembali hidupnya, sebab jangan-jangan memang hanya dengan harapan lah manusia bisa bertahan.

Kerumunan kemudian terpecah menjadi dua golongan, yang sepakat untuk mencari Sukab dan yang tidak. Mereka yang percaya Sukab adalah jawaban awal dari misteri ini segera berbaris mengikuti remaja yang menggunakan celana abu-abu. Sisanya masih berkumpul di alun-alun tanpa tahu harus melakukan apa.


“Lihatlah orang-orang bodoh itu, mereka semua akan mengulangi kebodohan yang dilakukan Sukab dan pengikutnya. Mereka pikir matahari akan ketemu kalau dicari sampai ke timur jauh. Hahaha dasar orang-orang bodoh!” Lelaki bercelana jeans biru muda yang masih menggunakan hoodie itu tertawa tidak ada habisnya, sementara absinthe tinggal sisa sepertiga.

“Memang dasar tolol! Aku sudah menabung cukup lama, hingga cukup tabunganku untuk membeli matahari. Baru saja tadi pagi aku menuntaskan pembayaran terkahirnya di ATM sialan yang dingin itu. Matahari itu tidak akan ketemu di timur sana, mataharinya sudah kubeli. Mungkin besok aku akan mengumumkannya di televisi. Kalian harus bayar mahal untuk mendapatkan sinar dari matahari miliku.”

“Hanya orang dungu yang percaya si Sukab itu. Kalian mau-maunya dikibuli si Seno dengan cerita-cerita tidak masuk akalnya. Dasar dungu!”

Dalam satu kali tenggak, absinthe itu tandas. Kini si lelaki bercelana jeans biru muda yang menggunakan hoodie pasti sudah benar-benar mabuk!

12.00

…diluar, langit benar-benar gelap. seperti dalam cerita-cerita.

Iklan

3 thoughts on “Hanya Orang Tolol yang Percaya Sukab!

  1. emang bener-bener deh, yang nyangkut ke blog eug orang tolol semua -_-
    Orang tolol sedunia, bersatulah!
    *berserusambilmembayangkanlatarmusikTheInternationaleSecondStanza*

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s