Berpikir Dikotomis

…jadi begini kira-kira.

kalau sudah baca setidaknya tetralogi P, Madilog Tan, lalu Das Kapital M, tiba-tiba jadi sosialis, bahkan tidak jarang mendaku anarko. lalu beberapa tahun berselang, semangatnya mulai berpindah kutub, ia membaca puisi dan prosa. setidaknya puisi SDD, cerpen SGA, sudah cukuplah membuat ia tiba-tiba menjadi melankolis cengeng yang bersumpah bahwa hidup ini mestilah puitis. belakangan, ia melihat orang-orang ramai menulis satir, dengan nada nyinyir pada segala hal seolah hidup ini tidak perlu seserius itu.

keren ya… berpikir utara-selatan, bandul-bandul yang terus bergerak dari satu kutub ke kutub lainnya. sepertinya hidup ini baginya harus selalu hitam putih, tidak boleh berada pada circa, pada antara. tidak boleh ada abu-abu. segalanya dilihat dikotomis. oposisi biner yang perlu diperjuangkan sampai mampus di salah satu sisinya, sampai mampus kalau gak ada tren baru sih.

Iklan

3 thoughts on “Berpikir Dikotomis

  1. Bang, kalau baca review di goodreads dan di beberapa blog lama abang, keknya banyak bener baca buku trus ngutip tokoh-tokoh yg saya gak kenal. Ajarin dong

    Suka

    1. kamu jangan tertipu, Ridwan. itu akal-akalan saya saja biar terlihat keren dan intelek. saya gak suka-suka amat baca kok, lebih suka jalan-jalan sambil pacaran atau nemu pacar di jalan. *eh

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s