Kota yang Menjadi Diam

Sudah lama kota ini kehilangan gairahnya untuk bercakap-cakap dan saling jatuh cinta. Kafe-kafe kopi mulai sepi pengunjung, taman-taman dikuasai belukar setinggi betis orang dewasa, warung kopi di pinggir jalan tidak lagi sesak oleh tukang becak yang saling bertukar canda sambil menunggu penumpangnya. Malam minggu tidak lagi syahdan, tidak lagi kita bisa mendapati muda-mudi bergandeng tangan di sepanjang jalan menuju pusat kota tempat bioskop memutar film-film murahan. Ranjang-ranjang sepi, pegawai kantor pengurusan akta kelahiran lebih banyak diam, melamun sepanjang jam kerjanya. Rubrik cerpen dalam koran minggu tidak lagi memuat cerita pendek dari pengarang-pengarang termahsyur, orang-orang tidak lagi membutuhkan cerita-cerita, sebagaimana mereka tidak lagi membutuhkan percakapan dan basa-basi sarapan pagi.

Tidak ada yang tahu mengapa kota ini menjadi begitu sunyi, begitu sepi. Orang-orang tetap berlalu-lalang, saling menyapa sekadarnya. Muda-mudi tetap bertemu sekali dalam seminggu, tapi tidak untuk saling jatuh cinta. Jika malam tiba, kota mulai bersolek dengan lampu-lampu jalan yang luar biasa terang gilang-gemilang, bukan lagi lampu kuning cahaya merkuri yang membuat malam tetap serupa malam. Toko-toko ikut bersolek dengan neonbox centil warna-warni. Kota ini tidak tampak sedang berduka, apalagi putus asa. Semua isi kota ini terlihat biasa saja, mereka hanya tidak lagi bercakap-cakap dan saling jatuh cinta.

Hanya ada satu stasiun kecil di sebelah alun-alun kota ini, satu terminal bus di sisi timur alun-alun, dan satu dermaga tua yang sudah tidak beroperasi di ujung selatan kota ini. Sebelum seisi kota menjadi diam, stasiun kecil itu kadang mendatangkan satu-dua pendatang dari kota lain. Meski tidak memiliki objek wisata, tapi cuaca sejuk di kaki gunung ini membuat mereka kadang datang untuk bermalam di penginapan-penginapan murah, membayar pelacur-pelacur berlipstik murahan dengan parfume norak. Tapi kini, tidak ada lagi orang-orang yang datang ke kota ini, para pelacur mulai kebingungan mencari pelanggan, sebab para sopir truk pun enggan singgah bermalam di kota ini.

Setiap orang di kota ini sepertinya sudah mahfum, bertahun-tahun sudah kota ini menjadi diam, tidak ada yang mempertanyakan apa sebabnya. Menjadi begitu sunyi. Setiap orang memiliki alasannya masing-masing untuk menjadi diam dan mereka menjalani hari-harinya seperti biasa. Bangun pagi, berangkat ke kantor yang dihadang kemacetan tanpa bunyi klakson dan sumpah serapah. Jika ada yang bersinggungan di jalan, tidak ada lagi saling memaki apalagi berujung adu jotos, mereka semua saling maklum dan tidak ingin memperkarakan apa-apa. Mereka pulang sebelum matahari benar-benar jatuh di ujung cakrawala dan langit menjadi semburat jingga. Tidak ada satupun yang mengambil jam lembur untuk mengejar produktivitas yang tertinggal, atau mengejar uang gaji yang kurang untuk membeli mobil baru. Mereka tidur dengan biasa saja, menyalakan televisi pada volume paling kecil, untuk kemudian terlelap tanpa saling berpelukan dengan pasangannya, apalagi bercinta. Kalaupun bermimpi, mimpi yang membosankan. Bahkan dalam mimpi pun mereka tidak suka bercakap-cakap dan saling jatuh cinta, mereka kehilangan emosi dan kreativitasnya bahkan dalam mimpi. Mereka lebih sering tidak bermimpi dan kembali terbangun di pagi yang juga membosankan sebab berita di koran pagi juga menceritakan hal yang itu-itu saja.

Dalam wajah mereka, tidak ada rasa nyeri, sekaligus tidak ada raut bahagia. Semua terlihat biasa-biasa saja. Hidup serupa kewajiban yang harus dituntaskan. Tidak lebih.


Aku sudah lama pergi dari kota ini, kira-kira dua puluh tahun yang lalu. Seperti kebanyakan pemuda di kota kecilku ini, aku pergi ke kota yang lebih ramai untuk mencari pekerjaan dan penghidupan yang lebih layak. Awalnya aku mendengar desas-desus tentang kota kelahiranku dari salah seorang kawan di kantor. Tentu saja aku tidak percaya, bagaimana bisa sebuah kota tiba-tiba menjadi diam. Setelah menempuh perjalanan darat selama 15 jam, akhirnya aku tiba di kota kelahiranku ini untuk membuktikan desas-desus itu.

Setibanya di stasiun, aku cukup heran dengan peron-peron yang lengang. Pada mata-mata mereka, aku melihat kekosongan yang nyaris sempurna layaknya seorang buddhist yang telah berhasil melepaskan diri dari kemelekatannya dengan dunia. Kekosongan yang menyerupai rasa ganjil, seperti sesuatu nyaris keluar dari kerongkongan namun tiba-tiba tercekat begitu saja. Serasa tiga empedu tersangkut disana selamanya. Dan sialnya, mereka tidak menampakkan tanda-tanda aneh. Seolah mereka memang sudah seperti itu sejak lahir.

Aku menghampiri salah seorang penjual rokok, membeli sebungkus dan memesan kopi.

“Totalnya jadi 15 ribu, kopinya tidak ada.”

“Wah, kok gak jual kopi mas?”

Si penjual tidak menjawab, aku membayar dengan raut wajah bingung lalu pergi begitu saja meninggalkan stasiun dengan taksi yang aku arahkan menuju kafe kesukaanku dulu. Aku datang ke kota ini hanya untuk menuntaskan rasa ganjil dari desas-desus tidak masuk akal itu sambil sedikit bernostalgia dengan sudut-sudutnya yang masih aku hapal betul. Rasa rindu pada tempat berasal memang tidak bisa hilang, meskipun sudah tidak ada siapa-siapa lagi di kota ini. Dari jendela taksi, hujan turun cukup deras.

Temanku mengatakan, kota ini telah berubah menjadi kota diam yang misterius. Beberapa wartawan yang datang untuk meliput berita tentang kota ini tidak pernah kembali, orang-orang yang penasaran tentang desas-desus kota ini juga bernasib sama. Tidak ada satupun yang kembali, tapi mereka semua kabarnya baik-baik saja dan memilih ikut menjadi bagian dari kota diam. Itupun kabarnya, tidak ada yang benar-benar tahu. Setelah bertahun-tahun kota itu menjadi kota diam yang misterius, semua koran nasional dan internasional membicarakan desas-desus itu, dengan penekanan pada “konon katanya” sebab memang tidak pernah ada yang tahu dengan pasti apa yang terjadi disana. Orang-orang yang penasaran mulai melupakan keganjilan ini karena tidak ingin bernasib seperti yang lainnya, tidak kembali. Koran-koran, televisi, mulai lelah dengan berita “konon katanya” dan melupakan peristiwa ganjil ini. Dengan hidup yang biasa-biasa saja di kota baruku, karir yang tidak beranjak kemana-mana, percintaan yang selalu berujung pada kegagalan, apa lagi yang lebih buruk? Kedatanganku ini seperti pemberontakan kaum papa, mereka tidak akan kehilangan apa-apa selain rantai yang mengikat kakinya.

“Arabica Flores dibikin aeropress satu ya mas, kentang gorengnya juga satu”

“Kentang goreng satu, kopinya tidak ada, totalnya 25 ribu.”

Lagi-lagi aku bingung, bagaimana bisa kafe dengan nama Cerita Kopi masih bisa beroperasi tanpa menjual kopi. Tapi tak ada satupun yang memberikan jawaban memuaskan, dari waiters sampai pemilik kafe ini, mereka hanya menjawab sekenanya, dan kemudian kembali diam. Aku memilih duduk di sudut kanan tepat sebelah jendela besar yang menghamparkan lanskap kota. Kafe ini terletak di bagian tertinggi kota, dulu kafe ini, khususnya meja ini menjadi tempat kesukaanku. Tentu saja dengan kopi yang menguarkan aroma terhidang di meja.

Dengan sedikit sisa-sisa kenakalanku, aku menemukan cara yang cukup baik untuk menarik perhatian orang-orang disini. Praaaang! piring kentang goreng aku jatuhkan, pelayan datang dengan wajah yang masih juga kosong, membersihkan pecahan yang berserakan tanpa berkata apapun. Dua orang yang duduk tepat di samping mejaku tetap khusyuk menyantap makanannya, seolah bunyi nyaring itu tidak berarti apa-apa baginya. Aku tidak kehabisan akal, sekonyong-konyong aku naik ke atas meja lalu berteriak, lebih menyerupai ceracau. Aku berlagak gila. Mereka semua tetap diam. Kota diam yang sialan!

Apakah kota ini telah diinvasi alien? Mengubah seluruh penduduknya menjadi robot mekanis tanpa emosi? Atau jangan-jangan sebuah kecelakaan percobaan biologis telah mengubah mereka semua? Atau…

Aku berjalan menuju penginapan di ujung jalan, setelah membeli beberapa botol bir dan membawa seorang pelacur untuk menemaniku malam ini. Besok aku akan mencari tahu lebih banyak lagi dan tidak mungkin aku menjadi bagian dari kota diam yang sialan ini. Tidak mungkin.


Sudah satu bulan semenjak kepergian Antonio ke kampung halamannya, tak ada yang mendengar kabar darinya. Aku dan beberapa teman yang lain berusaha menghubunginya lewat telepon genggam, surel, tidak ada satupun yang berhasil mendapat kabar darinya. Ah mungkin ia telah menjadi bagian dari kota diam yang misterius itu. Disini, kami juga tidak memiliki banyak waktu untuk mengurusi hal-hal seperti itu. Rutinitas membuat kami lupa tentang hal-hal ganjil.

*

Pada lipatan cerita yang lain, seorang pemuda baru saja lulus dari universitas ternama dengan indeks prestasi mengagumkan. Ia pergi meninggalkan kotanya untuk bekerja di kota lain yang lebih menjanjikan karir dan penghidupan yang lebih baik. Ia tinggal di sebuah kota yang tidak telalu besar, mendapat pekerjaan yang cukup untuk membeli satu rumah, satu mobil, dan beberapa lembar saham.

Beberapa tahun setelahnya, ia mendengar desas-desus tentang kota kelahirannya yang berubah menjadi kota diam misterius. Ia pergi untuk mengunjungi kampung halamannya, demi membuktikan desas-desus ganjil itu. Disanalah ia bertemu dengan teman kantornya Antonio, sesaat setelah Antonio pergi menuju kampung halamannya. Untuk membuktikan desas-desus ganjil yang serupa.

Diluar, hujan deras sekali.

Iklan

5 thoughts on “Kota yang Menjadi Diam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s