teng teng teng

ia mengecilkan volume pemutar musik stereonya. lampu dipadamkan, hanya pendar cahaya samar-samar yang memaksa masuk dari sela-sela ventilasi kamar. cahaya kemuning dari lampu taman yang hampir padam. ia memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam untuk kemudian dihembuskan perlahan. mungkin ia berharap ada nyeri yang ikut keluar bersama hembusan nafasnya itu. mungkin.

ikan-ikan di akuarium masih juga (seperti) terjaga, matanya terbelalak seolah baru saja menenggak sebotol whiski yang membuat mabuk dan mengantuk tapi tak kunjung bisa lelap. setiap malam menjelang tidur, ia memperhatikannya dengan seksama; posisi mengambang yang sempurna. seolah sedang meditasi menuju moksa. ia sempat berpikir ikan itu adalah penganut buddhist yang taat.

teng teng teng tiga kali lantang sekali bunyi tiang listrik dipukul peronda. hanya untuk memastikan seluruh warga agar bisa terlelap, memberi tenang bahwa malam tetap dijaga sebagaimana biasanya, agar malam tetap serupa malam. dengan bunyi nyaring tiang listrik, meskipun tanpa lolongan anjing. manusia-manusia malam berseragam sarung dan asap keretek mengepul-membumbung.

lampu-lampu jalan menggigil memeluk nasibnya masing-masing. kegigihan tukang nasi goreng melawan kantuk, dingin, dan demit-demit penjaga malam. aspal yang mengkerut-kedut. hitam. bau menyan dari rumah besar peninggalan belanda yang entah diisi siapa karena orangnya tak pernah terlihat kecuali pembantu yang sekonyong-konyol muncul di pagi buta untuk membakar sampah entah bekas siapa bekas apa lalu lenyap begitu matahari mulai meninggi. truk-truk berkarat yang renta digerogoti angin jalan pantura dengan bau badan sopirnya yang tak sengaja menumpahkan arak pada baju kumalnya. pelacur yang memakai rok pendek baru usai menjual jasanya di perempatan di ujung jalan. bau minyak wangi murahan bercampur keringat busuk lelaki entah siapa. busuk. gelap. gelap. gelap.

ia masih juga terjaga. ikan-ikan belum juga mencapai moksa, mungkin sebentar lagi si ikan akan menyerah menjadi buddhist dan mencoba jalan sufi. teng teng teng suara pentungan sedikit melemah, si peronda mulai mengantuk atau kreteknya hanya sisa dua batang lagi, bersiap pulang. musik di pemutar stereo miliknya masih membisikan lagu-lagu murahan, kebanyakan bernada minor, mungkin agar nuansa melankolis semakin terasa dalam ruangan kamar.


di tempat lain, seorang yang lain sedang sibuk menulis sajak-sajaknya. puisinya semakin lama semakin panjang. bentuknya entah apa. belakangan ini ia mulai muak dengan pakem-pakem sastra. kata-katanya kehilangan bentuk. kalimatnya kehilangan makna. tulisannya serupa orang mabuk. hanya mengabarkan nyeri pada lambung. yang terhimpun darinya hanyalah kekalahan-kekalahan. sesumbar tentang perang yang harus dijalani tanpa kemungkinan untuk menang. seperti api redup yang dipaksakan terus hidup hanya berahkir pada gelap yang teramat. yang sangat!

aih hidup ini, kewajiban getir yang konyol.

teng teng teng

ikan menari-nari seperti seorang sufi

si melankolis menangis sesenggukan entah karena apa atau siapa apalagi bagaimana

kepada apakah,

–getir ini harus teralamatkan?

teng teng…,

teng…!

peronda segera berlari menuju pos, menyelamatkan si melankolis yang berusaha menggantung dirinya di pohon jambu yang sedang ranum, tepat di depan rumah si penulis sajak yang puisinya semakin panjang. badannya mengejang-ngejang.

teng teng teng…

lampu-lampu jalan menggigil memeluk nasibnya masing-masing.

Iklan

3 thoughts on “teng teng teng

  1. wah jadi ngebayangin apa yang dipikirin pas nulis ini
    sering juga sih pengen nulis ini-itu, tapi mentok sana-sini, bingung. tapi pengen nulis.
    malah kadang sampai jadi pengen marah-marah.

    mungkin gitu kali ya?
    hehe CMIIW :p

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s