Cerita Batu

Cerita Batu*

Ia hanya sebongkah batu, sebesar kepala bayi. Walaupun begitu, ia selalu berharap manusia memandang dirinya dengan segala hormat, dan kesal sekali jika mereka memperlakukannya semena-mena.

Satu peristiwa yang terus dikenangnya, sebab peristiwa paling menyakitkan selalu merupakan yang paling gampang untuk diingat, terjadi pada suatu sore. Ia bisa melupakan hari dan tahunnya, tapi ia tak akan melupakan perincian kejadiannya. Dan, tentu tak akan melupakan orang yang membuatnya merasa terhina.

Begini. Sore itu seorang lelaki menyeret seorang perempuan sekarat ke tepi sungai, lalu menggelindingkannya ke dalam perahu. Selain perempuan sekarat itu, ia juga membawa sebongkah batu dari pinggir jalan. Ya, itu si Batu! Di tengah sungai, ia mengikatkan si perempuan sekarat kepada si Batu. Seperti gampang diduga, tubuh itu diceburkan ke dalam sungai. Si Batu, yang ditakdirkan tak pernah bisa berenang, meluncur deras ke dasar sungai, menyeret perempuan itu. Mereka berdua terbenam di gumpalan lumpur. Perempuan sekarat hanya butuh sedikit waktu, untuk kemudian menjadi mayat. Ia bahkan tak sempat meronta.

Si Batu merasa nista dan najis. Ia akan selalu mengingat peristiwa sore itu. Ia telah mengingat dengan baik wajah lelaki itu. Ia berjanji, demi sungai dan demi mayat si perempuan, suatu hari akan membalas dendam. Ia akan membuat perhitungan.


Mereka mengangkatnya beberapa hari setelah itu. Tak perlu diceritakan bagaimana mereka menemukan mayat perempuan tersebut, yang jelas suatu pagi mereka berkerumun di pinggir sungai dan beberapa orang menyelam. Bersama mayat si perempuan, si Batu diangkat ke darat.

Ia melihat lelaki itu. Ia berteriak, “Itu pembunuhnya! Itu pembunuhnya! Lelaki itu yang membunuh si perempuan dan membenamkannya dalam keadaan sekarat ke dasar sungai.”

Akan tetapi, tak seorang pun mendengar teriakan si Batu. Tentu saja. Manusia tak pernah belajar mendengarkan batu, apalagi mengerti bahasa yang dipergunakan batu. Mereka hanya tahu, batu bisa dipergunakan untuk membenamkan seonggok mayat ke dalam sungai dan sejenisnya.

Lelaki itu tampak bebas berkeliaran. Ia bahkan menumpahkan air mata demi melihat mayat si perempuan, dan hanya karena orang-orang memeganginya, ia tak menghamburkan dirinya ke arah mayat yang sudah pasi dan koyak-koyak tersebut. Seolah-olah di dunia ini ia merupakan lelaki yang paling sedih.

“Bajingan! Pendusta! Ia sama sekali tidak sedih. Ia pembunuh perempuan itu, dan aku saksinya.”

Bahkan, meskipun sadar mereka tak bisa mendengar suaranya, si Batu terus berteriak-teriak dan menunjuk-nunjuk si lelaki pembunuh. Demikian terus hingga mereka membungkus si perempuan mati dengan kantong mayat, lalu memasukkannya ke ambulans. Si lelaki pergi bersama mobil tersebut, sementara yang lain mengikutinya dengan kendaraan lain. Hanya menyisakan beberapa orang polisi yang memeriksa, mengukur dan membuat tanda di sana sini, sebelum mereka juga pergi. Meninggalkan si Batu, dengan kemarahan yang tak mau pergi.

“Jika manusia tak bisa menegakkan keadilan,” katanya, sedikit menggeram, “akulah yang akan melakukannya.”


Bob Dylan mengatakan bahwa hidup tanpa rumah, tanpa arah pulang, itu serasa seperti batu menggelinding. Ia pernah mendengar Bob menyanyikan lagu tersebut, barangkali samar-samar terdengar dari pemutar musik ringkas yang dibawa seorang pelari yang melintasi taman tempatnya teronggok, tak jauh dari sungai. Ah, pikirnya, tahu apa kau tentang batu menggelinding, Bob? Lihatlah aku, bahkan untuk menggelinding pun, aku hanya bisa memimpikannya.

Tentu saja ia sering berharap bisa menggelinding, sebagaimana ia selalu berharap bisa berenang. Jika ia bisa berenang, mungkin perempuan itu bisa diselamatkannya. Bahkan, jika tidak selamat, ia tak perlu membiarkan mayat perempuan itu terbenam di dalam lumpur selama berhari-hari. Dan, jika bisa menggelinding, ia bisa mengejar lelaki pembunuh itu. Ia berharap bisa lebih daripada itu. Ia berharap bisa terbang seperti burung-burung. Jika itu terjadi, ia ingin menerbangkan dirinya sendiri ke arah batok kepala si pembunuh. Iya yakin dengan bobot dan ukurannya (yang sebesar kepala bayi itu), terbang menghantam batok kepala si lelaki pembunuh sangat cukup untuk mengirimnya ke neraka.

Sekali lagi, ia hanya bisa memimpikan itu semua. Bab tak tahu apa-apa tentang batu. Bisa menggelinding merupakan hal terindah yang bisa dialami seonggok batu. Percayalah.

Bahkan, dengan keadaannya yang menyedihkan itu, ia masih percaya bisa menemukan kembali lelaki itu.

“Aku akan membalaskan dendam semua yang ia lakukan kepadaku. Yang membuatku menjadi bagian dari satu pembunuhan hina.”


Seperti semua batu, ia sangat sabar. Ia penanti yang ulet dan tangguh. Banyak hal telah terjadi atas hidupnya, meskipun untuk ukuran batu, “banyak” barangkali terdengar berlebihan. Walaupun begitu, tujuan hidupnya tetap satu: menemukan lelaki itu. Jika nasib menghendaki ia hancur menjadi butir-butir pasir, ia rela asal bisa memberi pembalasan setimpal untuk si lelaki pembunuh.

Ia tak selamanya berada di tepi sungai itu. Sekali waktu seorang kernet truk membutuhkan batu yang agak besar untuk mengganjal roda truk di tanjakan tak jauh dari sana. Setelah dipergunakan untuk mengganjal roda, kernet truk memutuskan untuk membawa si Batu, khawatir mereka menemukan tanjakan lagi dan truk harus kembali diganjal. Di pangkalan, ia lalu dibuang si kernet.

Sekali lagi, banyak hal telah terjadi dalam kehidupan si Batu. Setelah menjadi beban bagi tubuh yang ditenggelamkan, kemudian menjadi pengganjal roda truk, juga bisa dikatakan ia pernah menjadi penopang satu pot bunga besar yang kehilangan sebelah kakinya. Perah dicoreti oleh sepasang sejoli iseng yang menuliskan nama mereka di tubuhnya. Pernah menjadi tempat duduk seorang lelaki tua yang kelelahan, mencari istrinya yang telah sebelas minggu meninggalkannya. Umurnya panjang, sangat berlebihan untuk menceritakan seluruh pengalaman hidupnya disini.

Satu hal yang jelas, semakin jauh berkelana, ia semakin khawatir kemungkinannya untuk bertemu kembali lelaki pembunuh semakin menipis. Walaupun begitu, ia terus bersusah payah untuk mengetahui dimana dan bagaimana lelaki itu. Bukan hal yang gampang, meskipun juga bukan perkara yang mustahil mengetahui hal itu. Manusia merupakan mahluk yang senang bercerita satu sama lain. Selama ia bersentuhan dengan manusia, selalu ada kemungkinan ia mendengar mengenai si lelaki pembunuh.

“Setelah bertahun-tahun, lelaki itu masih sedih dengan kematian istrinya. Pembunuhnya tak pernah ditemukan.” Demikian ia mendengar seorang berkata.

Untuk apa yang didengarnya, si Batu hanya akan mengumpat, “Pret!”


Para ahli geologi telah lama percaya, pada sebongkah batu terdapat sejarah panjang peradaban. Mereka selalu mencari kisah-kisah, menguak misteri-misteri melalui bongkahan-bongkahan, atau lapisan-lapisan bebatuan. Jangan sepelekan sebongkah batu sebab barangkali kisah hidup seseorang tercatat di wajahnya.

Lihat bagaimana manusia memahat batu-batu menjadi catatan kisah mereka. Sebongkah batu mungkin tampak diam, angkuh, dan tolol, tapi bahkan dalam diam pun mereka mencatat banyak hal. Dan, ya, tentu saja memikirkan banyak hal.

Si Batu, seperti telah diketahui, terus-menerus memikirkan lelaki pembunuh itu. Dendamnya tak pernah surut.

Memangnya dengan cara apa ia bisa membalaskan dendamnya, membalas penghinaan yang telah diterimanya? Bukankah ia bahkan tak bisa menggelinding? Bukankah hidupnya sendiri jauh lebih menyedihkan daripada yang bisa dibayangkan Bob Dylan?

Ia telah memikirkannya, bagaimanapun. Ia yakin suatu ketika bisa menempatkan dirinya di pinggir jalan, lalu lelaki itu muncul mengendarai mobil dengan kecepatan 110 kilometer per jam. Satu roda mobilnya menghantam si Batu. Mobil terangkat, melayang, dan terempas ke aspal. Lelaki itu terlempar melalui jendela yang pecah, ambruk di pinggir selokan, dengan kepala bocor dan otak berhamburan. Itu kematian yang pantas untuk seorang pembunuh. Si Batu yakin, ia bisa membuat si lelaki mengalami kejadian semacam itu.

Atau, bisa juga suatu ketika ada seorang perempuan, perempuan lain yang sakit hati, mengambil si Batu dan menghantamkannya ke kepala si lelaki yang sedang tertidur. Satu tumbukan kecil cukup untuk menamatkan riwayatnya.

Ada banyak kemungkinan untuk membalas penghinaan si lelaki pembunuh. Satu-satunya yang harus ia lakukan hanyalah bersabar. Menanti selayaknya sebongkah batu menunggu. Setahun? Sepuluh tahun? Seperempat abad? Waktu bukan hal yang merisaukan untuk sebongkah batu. Mereka terbiasa hidup berabad-abad, jauh melampaui sejarah singkat seorang manusia.

“Lelaki itu bilang, memang tak ada yang membunuh istrinya. Perempuan itu sendiri yang menceburkan diri ke sungai setelah mengikat dirinya dengan batu. Jika ada yang bersalah, itu kesalah batu tersebut.”

“Fitnah!” teriak si Batu. Ia merasa api membakar tubuhnya.


Dari perjumpaannya dengan beragam manusia, si Batu mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi atas lelaki pembunuh dan perempuan sekarat itu. Sekali lagi, manusia merupakan mahluk yang gemar bercerita satu sama lain. Pada dasarnya tak ada yang benar-benar tertutup diantara mereka. Si Batu hanya perlu mendengarkan, dan jika teliti, ia bisa menangkap kebenarannya.

Si lelaki membunuh perempuan itu, yang adalah istrinya, karena ia jatuh cinta kepada perempuan lain. Ah, ya, sesederhana itu. Kenapa lelaki itu tak menceraikan istrinya? Perkara itu, si Batu tak mengerti. Ada hal-hal yang tak perlu dimengerti oleh sebongkah batu. Ia sadar, cerita sesungguhnya barangkali lebih rumit daripada apa yang diketahuinya. Yang pasti, lelaki itu telah menistakannya. Telah menyeretnya untuk ikut membunuh perempuan itu. Ia merasa terhina, dan harus membuat perhitungan.


Telah bertahun-tahun berlalu, dan si Batu terus memelihara harapannya untuk kembali bertemu lelaki itu. Ia bukan lagi si Batu sebesar kepala bayi. Banyak hal telah berubah dalam hidupnya meskipun “banyak” barangkali terdengar berlebihan untuk sebongkah batu.

Karena umur tua, sekali waktu hajaran roda truk yang hanya menyenggolnya telah berhasil membelahnya menjadi dua. Ia berpisah dengan saudaranya, yang memutuskan untuk memulai hidup baru dengan kenangan-kenangan baru. Artinya, dendam itu tetap bersamanya, potongan batu yang tersisa. Angin mengikisnya, air menggerusnya. Batu yang lebih besar menghantamnya, dan sebatang martil hampir membuatnya remuk.

Kini ia hanya sebesar kelereng, dan ia berusaha untuk tidak dihinggapi rasa putus asa. Hingga kemudian, saat itu sore yang indah, seorang anak kecil memungutnya. Di dalam genggaman bocah itu, ia merasa diajak berlari. Lalu, anak itu berteriak, “Ayah, Ayah, lihat aku menemukan batu.”

Si bocah membuka genggaman tangannya, dan di depan si Batu berdiri lelaki itu. Sudah beruban dan dengan kulit keriput. Tubuhnya sedikit bungkuk.

“Ini kesempatanku, satu-satunya kesempatanku, untuk membunuhnya. Membalas penghinaan atasku, membalas kematian istrinya,” gumam si Batu.


Istri keduanya, yang membuatnya harus melenyapkan yang pertama, jauh lebih muda. Bahkan, betahun-tahun kemudian ketiak ia telah menua, perempuan ini masih tampak berkilau. Berumur empat puluh, angka itu serasa tak berarti apa-apa baginya.

Malam itu si perempuan melihat batu sebesar kelereng tergeletak di meja. Ia mengambil dan memandanginya lama, lalu meletakkannya di lantai, tak jauh dari tempat tidur. Takdir sudah ditulis di langit mengenai lelaki tua pembunuh itu. Ia bangun lalu turun dari tempat tidur, menginjak batu bulat serupa kelereng dan tergelincir. Kepalanya menghantam ujung ranjang yang terbuat dari kayu mahoni sebelum membentur lantai. Bocor dengan otak meleleh.

Si batu melihat senyum di bibir si perempuan, bahkan matanya berbinar.

Lama kemudian, si Batu mendengar seorang berkata, tampaknya salah seorang pelayan di rumah itu, “Nyonya sudah lama berharap melihat lelaki tua itu mati. Tahu, kan, kau? Ia ingin hidup dengan anak muda itu, pelukis yang kadang-kadang mampir ke sini. Sekarang ia tak hanya bisa memperoleh anak muda itu, tapi juga memperoleh seluruh warisan si lelaki tua. Dan, asuransi. Demi Tuhan, ia harus berterima kasih kepada si Batu.”


Di luar dugaannya, si Batu sama sekali tak merasa bahagia melihat kematian si lelaki pembunuh. Ia bahkan merasa lebih najis dan lebih terhina.

“Perempuan,” gumamnya, dan mengeram, “tunggulah, aku akan membuat perhitungan denganmu.”

Seperti semua batu di dunia, ia pendendam yang tabah.

2014

*) Cerita Batu, cerpen Eka Kurniawan dari buku kumpulan cerpen “Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi”, penerbit Bentang, 2015.

Iklan

2 thoughts on “Cerita Batu

    1. terimakasih sudah mampir 🙂
      untuk penulisan ulang, sementara ini masih akan menuliskan karya-karya sastra indonesia.
      Edgar Alan Poe nya bisa cari di blog luar, setenar doi pasti banyak yg digitalisasi 🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s