Standar Ganda

“The lesson is, if you’re gonna be a criminal, do your homework!”
“Wait. I-I’m not a bad guy.”
“No, I didn’t say you’re a bad guy. I said you’re a criminal.”
“What’s the difference?”
“I’ve known good criminals and bad cops, Bad priests, honorable thieves. You can be on one side of the law or the other, But if you make a deal with somebody, you keep your word. You can go home today with your money and never do this again, But you took something that wasn’t yours, and you sold it for a profit.
You’re now a criminal — good one, bad one?
That’s up to you.”

Dialog Mike Ehrmantraut dengan Pryce dalam Better Call Saul, season 1 episode 9.


Belakangan ini saya mulai jenuh dengan khotbah-khotbah yang mengatasnamakan moralitas. Perkara benar dan salah, baik dan buruk, pantas dan tidak pantas. Mulai dari twitter yang menampung kegelisahan-kegelisahan intelektual progresif yang membutuhkan panggung dan penonton, hingga blog-blog yang ikut-ikutan ramai membicarakan hal yang sama, dengan kedalaman yang tentu saja lebih dalam dari sekadar kicauan di twitter.

Baru-baru ini kasus Arab menyerang Yaman, sedang panas-panasnya dibicarakan di berbagai media. Netizen pada umumnya menyoroti persoalan mengapa aktivis-aktivis “timur-tengah” di Indonesia tidak melakukan demonstrasi (juga membakar bendera Arab) ketika kasus ini mencuat. Tidak main-main, 40 warga sipil Yaman mati dalam serangan terakhir (31/03/15). Kita semua tentu ingat betul apa yang terjadi di Gaza dan bagaimana respon masyarakat Indonesia terhadap konflik itu. Mengherankan memang, ketika Arab melakukan serangan brutal pada Yaman, semua bungkam. Seolah tidak terjadi apa-apa. Empat puluh nyawa yang–ah sudah takdir– memang harus mati saat itu.

Kenapa bisa seperti itu?

Saya percaya bahwa manusia itu memiliki naluri untuk mempercayai apa yang ingin ia percayai. Memperjuangkan apa yang ingin ia perjuangkan. Basic Instinct ini yang mendorong manusia melakukan banyak hal. Melakukan banyak perjuangan yang konon katanya adalah memperjuangkan kebenaran. Memperjuangkan hak-hak kaum yang tertidas. Hah? kaum tertidas? Tahik kucing!

Motif manusia kadang memang tidak adiluhung-adiluhung amat, apalagi mau dibilang prophetic act (jihad?!) karena memperjuangkan kaum tertindas.

Tidak, saya tidak akan menambah daftar panjang bacaan anda tentang sikap saya pada kasus ini. Saya tidak akan berkhotbah disini. Bukan juga akan mengulas fakta-fakta, berita-berita, dan mempersoalkan siapa yang sebenarnya salah dalam kasus ini. Tidak. Itu bukan wilayah saya. Justru yang menarik bagi saya adalah standar ganda yang aktivis-aktivis itu terapkan dalam pola berpikir mereka.

Beberapa hari yang lalu, kasus penangkapan Saut Situmorang atas gugatan Fatin Hamama juga menampakan hal serupa. Standar ganda! Kanon sastra yang konon katanya paling berbudaya dan paling berpengaruh itu memperkarakan seorang sastrawan dari Yogyakarta karena dianggap berkata kasar dan tidak pantas dalam sebuah diskusi (di dalam grup facebook). Mereka teriak-teriak keadilan, perlindungan perempuan, namun ketika Sitok Srengenge yang merupakan salahsatu diantara kelompok mereka kedapatan memperkosa seorang mahasiswi UI, apa yang mereka lakukan? Bungkam! Mingkem.

Saya mulai curiga, ada apa sih dengan golongan yang katanya intelek ini? Kelas menengah Indonesia yang selalu ribut setiap ada perbincangan massa. Selalu merasa perlu ikut menyatakan sikapnya, sikap macam apa yang kalian nyatakan? Standar ganda!

Dalam hidup yang semakin serba abu-abu ini, saya belajar untuk menerima sikap seseorang sebagai suatu tindakan bebas nilai, dalam artian, saya berusaha tidak melakukan penilaian dari sisi baik-buruk. Sudah sering saya katakan, saya akan jauh lebih menghormati seorang yang melakukan “kesalahan” dengan sebenar-benarnya, dibanding orang melakukan hal benar dengan “sesalah-salahnya”. Integritas seseorang jauh lebih penting, melebihi muatan nilai yang dibawanya. Selalu, selalu seperti itu.

Bukan sekali-dua saja saya bertemu “musuh-ideologis” namun sangat militan memperjuangkan keyakinannya. Konsisten dan presisten pada apa yang diyakininya. Hormat setinggi-tingginya bagi mereka. Mengapa? sebab saya merasa untuk menilai benar-salah, adalah wilayah lain, yang jelas bukan urusan saya. Bisa jadi apa yang saya yakini justru keliru. Kemungkinan seperti itu selalu ada. Disanalah percakapan memerankan peranan penting. Sebab percakapan adalah upaya untuk menunda keyakinan.

Ya, mau bagaimanapun, orang-orang bodoh itu, kadang staminanya tidak habis-habis.

Jatinangor

31 Maret 2015

Iklan

One thought on “Standar Ganda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s