Manusia Kamar

Manusia Kamar*

Pada umurnya yang ke-20 pandangannya terhadap dunia berubah. Aku telah mengenalnya semenjak ia mulai mengenal dirinya sendiri. Ia mulai muak melihat dunia di sekelilingnya. Aku bilang itu semua biasa. Ia mengerti, tetapi tidak bisa menerima.

Lima tahun sebelumnya ia hidup dengan penuh harapan, tetapi yang penting mungkin bukan harapan, yang penting adalah kenyataan, dan kenyataan telah membuatnya kecewa. Ia muak dengan basa-basi, sikapnya mulai kasar dan agak terlalu terus terang. Banyak kawan merasa sakit hati. Ia terlalu sering menelanjangi kebebalan mereka di muka umum.

Aku hanya sekali-sekali saja berjumpa dengannya, karena kau tahu, kesibukan semakin hari semakin bertambah. Mungkin cuma aku yang mengerti persoalannya. Ia menghindari persahabatan. Aku maklum. Persahabatan bukan jaminan untuk tidak saling bunuh.

Ia terasing dan kesepian. Namun itu sudah menjadi pilihannya. Ia tampak bahagia dalam ketidakbahagiaannya. Aku suka bingung mendengar kata-katanya, tetapi tetap mencoba melayaninya. Jika sudah kenal, berbicara dengan dia menyenangkan. Ia senang berpikir, dan risikonya tentu pengetahuan menjadi lebih luas sedikit, sehingga bagi diriku yang sangat malas membaca, mengenalnya sama sekali tidak merugikan.

Betapa pun, agaknya ia menarik diri dari dunia ramai. Setiap kali bertemu kawan yang pernah bertemu dengannya, mereka hanya bisa menggeleng-geleng sambil meletakkan telunjuk dalam posisi miring di depan dahinya. Setelah dua tahun berlalu, barulah aku berpapasan kembali dengannya di jalan.

“Dari mana saja kamu,” kataku.

Wajahnya tampak sangat lesu.

“Bertapa…,” katanya.

Dalam senja yang muram, kulihat busananya yang kumal, rambutnya yang kusut masai, bagaikan beberapa bulan tidak pernah tersentuh air.

“Bertapa? Di gua mana?”

“Di kamar gue lah yaw!”

Di kamarnya itu ia mengaku hanya membaca buku. Segala buku tentang kebijaksanaan hidup maupun yang mengejek tentang kebijaksanaan hidup itu dilalapnya, termasuk kitab suci segenap agama yang diakui maupun yang tidak diakui.

“Masih jenuh melihat manusia?” Tanyaku.

“Oh, jelaaaaassss,” jawabnya, “kulihat kepalsuan di mana-mana. Empet gua melihatnya, dari jalanan, pasar, dan kampus-kampus, semua sama saja. Tak tahulah aku bagaimana caranya menyelamatkan pandangan mataku.”

Hmm. Jika aku tak bisa menyelamatkannya, siapakah kiranya yang akan bisa?

Di wilayah lampu merah, ia menenggak segelas bir.

“Ini baru namanya hidup,” ujarnya.

Lantas, di tengah entakan musik dangdut, ia bicara tentang segala sesuatu yang serba sulit bagi keterbatasan otakku, sampai aku jatuh tertidur karena ngantuk dan mabuk.

Waktu aku terbangun, ia sudah hilang lenyap tak tentu rimbanya.


Sungai masih mengalir. Angin masih bertiup. Senja masih jingga. Malam masih kelam. Fajar masih ungu. Di jendelaku masih ada burung berbulu kuning yang berkicau setiap pagi. Mungkinkah suatu ketika burung berhenti berkicau dan kehilangan bahasa? Dunia belum kiamat. Dirinya tampak sungguh-sungguh seperti akan lenyap ditelan bumi, ketika telepon genggamku suatu ketika berbunyi. Kulihat tidak ada angka dan ketika kupijit tombol pelacak hasilnya nihil. Ternyata suaranyalah yang ada di seberang sana entah di mana.

“Hallo! Menelpon dari mana kamu?”

“Dari rumah! Mau dari mana lagi?”

“Dari rumah? Di mana?”

“Oh, itu sih rahasia. Sudah kubilang dari dulu, aku jenuh melihat manusia, yang merasa dirinya mahluk tertinggi, tetapi bodohnya setengah mati. Kalau disuruh membunuh, seperti mereka lakukan dengan senang hati. Aku sungguh tidak megerti. Aku bukan hanya jenuh melihat manusia, aku juga muak. Bagaimana mungkin aku perlu melihatnya?”

“Jadi apa yang kamu lakukan? Bagaimana caranya tidak melihat manusia dengan mata terbuka?”

Hanya kudengar suara tawanya yang menyebalkan. Lantas hubungan terputus.

Tepatnya, ia memutuskan hubungan telepon.

Sejak itulah aku berusaha memburunya dengan segala cara, terutama setelah kucari ke rumah orangtuanya, ternyata merekapun panik karena dirinya menghilang.

“Tolong ya Nak ya? Kami memang cuma keluarga pembuat tempe, tapi apa ya karena tidak bisa ngomong yang tinggi-tinggi terus boleh ditinggal pergi? Kami memang tidak sempat membaca buku karena membuat tempe setiap hari, sehingga tidak mampu meladeni diskusi, tapi terhadap anak, kami ini tetap menyayangi,” kata bapaknya sambil memotong-motong tempe.

Begitulah, mencari jejaknya membuatku menyusuri seluk beluk kehidupan. Dari malam ke malam kusibak kelam dan menjadi saksi segala sesuatu di balik kegelapan.

Harum parfum dan lampu-lampu.

Puntung berasap terinjak sepatu.

Celana dalam berwarna biru.

Lampu-lampu 5 watt berwarna biru.

Remang-remang, remangnya biru.

Dunia biru.

Sebiru-birunya biru bagaikan tiada lagi yang bisa lebih biru.

Hanya biru.

Biruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu.

Siapa dia yang tersenyum di balik biru?

Perempuan biru.

Rambutnya biru, bibirnya biru, asap rokok mengepul biru.

Perempuan itulah yang sepatunya menginjak puntung berasap. Sepatu kulit yang membungkus kaku sampai ke paha. Dari balik rok mininya keluar cahaya. Cahaya biru…

Perempuan yang seperti selalu menyulut rokok baru, mengembuskan asapnya kepada setiap orang yang melewatinya, masuk ke dalam lorong di belakangnya yang bercahaya biru. Banyak sekali orang masuk ke lorong itu. Begitu banyak bagaikan tiada ada habisnya, bahkan seperti tidak akan pernah keluar lagi.

Namun semuanya keluar lagi dengan wajah berseri-seri. Kuingat kawanku yang selalu merasa kurang bahagia itu.

Dimanakah dirimu?

Kucari dirimu di segenap sudut di balik kelam dan lorong-lorong malam, tetapi tiada juga jejakmu. Kucari dirimu di segenap masjid, kelenteng, gereja, dan vihara, tiada juga kamu. Apakah kamu berada di dalam salah satu ruangan di gedung-gedung bertingkat? Apakah kamu sedang duduk di bangku-bangku Starbucks, Bakoel Koffie, atau Seven Eleven? Kukira itu tidak mungkin bukan? Tiada bangku di taman yang menghadap danau sementara angsa-angsa berenang dengan anggun. Tiada. Tak ada. Takkan pernah. Jika ada pun dirimu tidak ada di situ. Kecuali jika memang adalah dirimu gelandangan yang sedang mendengkur itu. Menutup wajah dengan koran. Bermimpi tentang bidadari yang datang dari langit membawa es krim. Bukan.

Di manakah kamu, kawanku?


Ternyata dirinya muncul dalam banyak sekali cerita, tanpa pernah kelihatan orangnya. Dia hadir dengan segenap tindakan dan pikiran, tanpa keberadaan sosoknya sama sekali. Bagaimana caranya? Ceritanya begini:

Seseorang telah memenangkan lomba menulis pada media on-line kamu untuk memperingati Hari Pahlawan (ya, pahlawan, ternyata ada). Namun pada upacara penyerahan hadiah, penulisnya tidak datang. Padahal kepadanya sudah dikirim surat elektronik, yang menyatakan bahwa Gubernur berminat datang untuk menyerahkan hadiah, dan ingin berbicara sendiri dengannya.

Di manakah ia kiranya?

Setelah kejadian itu segala cara telah diusahakan untuk mencari dirinya. Namun selain nama yang tertulis adalah nama samaran, yakni Paimo, alamat surat elektroniknya selalu berganti, karena setiap kali mengirim tulisan dengan gagasan-gagasan gilanya segera pula ia pensiunkan alamatnya itu. Segala pelacakan berakhir di warnet, banyak sekali warnet, dan setiap kali hanya mengandalkan orang-orang suruhan yang dibayar mahal untuk tutup mulut.

Orang suruhan inilah yang sekali tohok dengan tenaga prana bisa kubuka mulutnya, karena tenaga prana ternyata bisa membuat orang bicara tanpa kesadaran.

“Saya tidak pernah melihat orangnya,” kata pemasang modem itu, “hanya ada sebuah lubang di rumah aneh itu untuk berkomunikasi.”

“Rumah aneh?”

“Ya, aneh, tanpa pintu dan jendela.”

Tanpa pintu dan jendela? Hmmm. Jangan-jangan…

Aku pun segera menyambanginya.

Memang, sepintas lalu seperti rumah biasa, tetapi betul-betul tanpa pintu dan jendela. Waduh. Atap rumah itu penuh antena. Mestinya bisa berkomunikasi dengan seluruh dunia. Namun jika rumah sengaja dibangun tanpa pintu dan jendela, sehingga memenjarakan penghuninya sendiri, apakah tampak seperti ingin berkomunikasi?

Rupa-rupanya aku terawasi dari dalam. Telepon genggamku berdering. Tidak ada nomor di layarnya.

“Kamu rupanya!”

“Lho! Kamu!”

“Ya, aku! Untuk apa kamu memutar-mutari rumahku?”

Jadi dialah yang berada di dalam rumah itu.

“Aku tidak tahu ini rumahmu, aku mencari rumah manusia misterius yang menolak bertemu muka dengan siapa pun di dunia ini kecuali dirinya sendiri.”

“He-he! Misterius? Kukira tidak. Justru normal!”

“Itu, kan, menurut kamu!”

“Oh, jelas! Kenapa aku harus percaya kepadamu?”

Aku tidak mau berdebat, karena aku lebih peduli bagaimana ia makan dan lain-lain.

“Bagaimana caranya kamu makan?”

“Kamu tidak lihat ada pintu kecil di bawah? Dari situlah aku menerima langganan rantangan khusus untuk vegetarian.”

“Bayarnya bagaimana?”

“Tinggal klak-klik-klak-klik, kan?”

“Tentu, tapi maksudku uangnya dari mana?”

“Klak-klik-klak-klik jugalah! Mula-mula aku nulis untuk koran, majalah, media on-line, tapi karena meskipun pikirannya besar bayarannya tetap kecil, aku tidak bisa lagi hanya menulis. Maka aku sekarang menjadi konsultan segala macam hal, uangnya dikirim dengan klak-klik-klak-klik, dan aku menggunakannya untuk membayar kebutuhan hidupku juga dengan klak-klik-klak-klik.”

“Konsultan segala macam hal katamu, apa saja?”

“Kalau kukatakan segala macam hal ya segala macam hal, asal cukup melalui klak-klik-klak-klik sahaja.”

“Misalnya apa?”

“He-he! Sebut saja Bro!”

Masa termasuk membangun jembatan?”

“Lho, jembatan antarpulau itu aku yang ACC lho, setelah kukoreksi sana-sini! klak-klik-klak-klik aja, kan? He-he-he!”

Masa termasuk konsultasi pajak?”

“Lho, ini yang paling gede duitnye! Bagaimana menghindari pajak! Ha-ha-ha!”

“Konsultasi psikologi kagak dong?”

“Mula-mula pernah, tapi selain duitnya kecil juga, aku capai menghadapi orang-orang kasihan! Ha-ha!”

“Emang urusannya orang kasihan melulu konsultasi psikologi itu?”

“Kalau rekrutmen pegawai yang bisa dikibuli ya kagak lah yaw! Tapi tetap saja mengharukeun!”

“Lho kok mengharukeun?”

“Usaha manusia, itulah yang mengharukeun!”

“Lho, bagus toh manusia berusaha?”

“Lha iya, bagus sekali! tapi kan sia-sia!”

We lha! kalau doinya bahagia, kan, tidak sia-sia?”

“Huh! Selama hidupnya takut mati dan akhinya mati juga, kok bahagia…”

Hmmm. Mulai lagi deh… Aku tidak mau menjawab bahwa ada juga orang yang ingin cepat-cepat mati untuk mencapai kesempurnaan hidupnya, soalnya kalau kujawab begitu pasti ada saja jawabannya.

Aku hanya berpikir kalau aliran listrik terhenti bagaimana? Hidupnya sangat tergantung kepada klak-klik-klak-klik. Namun kukira ia sudah memikirkan semuanya.

Seperti tahu pikiranku, ia menjawab pertanyaan dalam kepalaku.

“Banyak sel penyimpan tenaga matahari kalau listrik mati. Tenang aje, di negeri ini tenaga matahari berlimpah-limpah bukan? Gratis lagi!”

Kukitari rumahnya. Seperti kubus. Berada di dalam kubus. Hmm. Baginya yang menata dunia dari dalam sana jelas terasa berada di pusat dunia. Mungkinkah ia tidak membutuhkan apa-apa lagi selain menunggu mati?

Kutinggalkan rumah kubus itu karena aku pun harus melanjutkan kehidupanku.

Begitulah caranya menjadi ada. Dari jaringan situsnya ibarat kata dikuasainya dunia, tanpa seorang pun tahu betapa diri pribadinya memanglah ada.


Selembar daun melayang tertiup angin. Berlembar-lembar daun melayang-layang tertiup angin ke langit dan tak jelas kapan dan di mana jatuhnya.

Hhhh.

Berapa tahunkah sudah kuhabiskan hidupku? Aku tak tahu lagi waktu. Seingatku tiada pernah lagi dia menelpon atau menghubungi aku dengan cara yang manapun. Linkungan di sekitar rumah kubusnya sudah berubah. Tetangga di kiri dan kanannya tergusur dan menghilang. Jalan layang berseliweran di atasnya. Rumah kubus itu tampak seperti gardu listrik. Mungkinkah ia masih berada di dalamnya? Bagaimana jika rumah itu harus digusur? Mungkin saja pengacara-pengacara andalan berhasil menetapkan haknya atas rumah itu, selama tidak terletak di tengah jalan.

Tanah itu miliknya. Rumah itu miliknya. Ia telah mengurus perpajakan dan segala tektek-bengeknya melalui sejumlah bunga di bank sejak dulu kala. Ia telah mempersiapkan segalanya. Ia tak mau mengganggu dan tak mau diganggu. Aku juga tidak mau mengganggunya.

Entah apa yang dikerjakannya sekarang. Ia sudah tidak terdengar lagi kabarnya. Aku tak tahu bagaimana ia makan. Kabarnya makanan rantang pun sudah tidak diantar ke pintu kecil di rumah kubus itu. Mungkin ia mempersiapkan kuburannya di rumah itu. Tiada seorangpun yang tahu. Aku juga tidak tahu. Mungkin ia sudah mati.

Mungkin.

Jakarta 1980 /

Sydney-Canberra-Melbourne,

22-30 September 2013.

*) Manusia Kamar, salah satu cerpen terkenal Seno Gumira Ajidarma yang saya tulis ulang adalah versi baru. Dalam buku Senja dan Cinta yang Berdarah: Antologi Cerita Pendek di Harian KOMPAS 1978-2013 (Penerbit buku Kompas, 2014)

Dalam beberapa kesempatan kedepan, jika tidak terhambat rasa malas untuk mengetik, saya akan menuliskan setidaknya satu buah cerpen, prosa, puisi, dari penulis-penulis yang saya sukai, setiap minggunya.

Iklan

3 thoughts on “Manusia Kamar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s