Monokultur

Persoalan selera selalu menjadi rumit ketika dibahas, sesederhana itu.

Beberapa hari yang lalu, saya membaca komentar di blog yang sialnya saya lupa, tapi kurang lebih isinya adalah persoalan selera. Si penulis blog, mendeskripsikan selera musik harus berlandaskan pemahaman yang mendalam mengenai sejarah, teknik, dan hal-hal rumit lainnya. Jika kamu menyukai musik tertentu, kamu harus membangun alasannya, serupa pertanggungjawaban selera. Warbyasa!

Ia berpendapat, kemajuan seni, baik itu seni rupa, literatur, musik, haruslah bermula dari kemajuan sains bidang tersebut. Saya sepaham, sejauh ini. Tapi barangkali ada yang luput dari perhatian si penulis, perihal campur tangan industri bisnis dalam mendorong penyeragaman selera pasar. Saya sih menduga hal itu selalu terjadi dalam industri apapun.

Jika saya menyukai From Eden Hozier, How To Dissappear CompletelyRadiohead, Heaven Knows I’m Miserable Now The Smiths, sekaligus menyukaiLost Stars Adam Levine atau Heartless Kayne West adalah suatu kejanggalan? Bukankah banyak juga diantara kita yang memebenci Goenawan Mohamad sekaligus menyukai Sapardi Djoko Damono? Padahal mereka lahir dari kanon sastra yang sama.

Perlukah saya membeberkan alasan-alasan untuk persoalan selera yang sepintas begitu sederhana? Atau jangan-jangan selera itu tidak pernah sederhana. Jangan-jangan selera manusia adalah perjalanan panjang yang meniti ketegangan antara dominasi dan hegemoni suatu kuasa dalam arena sosial? Bukankah itu membuat selera menjadi rumit? Baiklah, demi terlihat intelek, mari kita merumit-rumitkan hal yang sesungguhnya sederhana.

Semenjak kapitalisme menjadi corak baru dalam perjalanan ekonomi manusia, segalanya tampak menjadi tanpa identitas. Pilar-pilar -ismediruntuhkan demi membangun pendekatan baru: asas manfaat. Ya, dalam satu sisi, kapitalisme bagi saya tak pernah lepas dari asas manfaat. Suatu hal menjadi bernilai ketika membawa manfaat. Manfaat apa? pada umumnya tentu saja nilai jual. Bahkan ilmu pengetahuan yang konon katanya “bebas-nilai”, menjadi bermanfaat ketika mengusung satu tujuan, aksiologi. Di negara-negara dunia ketiga yang (lagi-lagi konon katanya) sedang berkembang ini, ilmu-ilmu terapan jelas terbukti lebih laku di pasaran, bukan? Buktinya, seberapa banyak mahasiswa yang memilih jurusan Antropologi, Arkeologi, Filsafat, Sosiologi, dll? Tentu kalah banyak dibanding Ekonomi, Akuntansi, Bisnis, dan Komunikasi.

Cara berpikir corak produksi kapitalisme ini ternyata berdampak pada banyak hal. Termasuk selera, saya kira. Sudah bukan rahasia lagi bahwa perusahaan-perusahaan besar selalu mengupayakan homogenitas selera, monokultur. Selera sebisa mungkin diseragamkan, sebab itu berarti segala hal yang seragam lebih mudah diproduksi, lebih murah, lebih cepat, lebih efisien. Keseragaman juga mempermudah proses pengendalian yang sangat diperlukan untuk menjamin produksi dapat terserap sempurna oleh pasar.

Hegemoni suatu korporasi dalam industri tertentu sepertinya mau tidak mau akan berusaha menyetir selera kita. Bagaimana pilihan-pilihan penerbit raksasa seperti Gramedia untuk menerbitkan karya tertentu adalah contoh yang cukup jelas. Karya segemilang Cantik Itu Luka Eka Kurniawan saja pernah ditolak editor dengan alasan tulisannya tidak masuk dalam kriteria sastra yang baik. hadeuh….

Atau mari kita lihat tren baru yang sedang hangat dalam dunia buku Indonesia. Dalam beberapa tahun belakangan ini, berapa banyak sastra klasik karya maestro-maestro kanon sastra besar di Indonesia diterbitkan ulang? Berapa banyak karya sastra terjemahan yang mulai mengisi rak-rakdisplay Gramedia dan Togamas? Haruki Murakami dengan 1Q84-nya bisa dijadikan contoh yang cukup jelas. Lalu 1984 George Orwell (penerjemah Landung Simatupang, Bentang Pustaka 2014) kembali dicetak ulang dan laku di pasaran layaknya kacang goreng. Saya yakin pada terbitan pertamanya di 2003, Bentang Pustaka tidak mendapatkan penjualan secemerlang ini. Masih banyak contoh-contoh lainnya, silakan tambahkan sendiri.

Hal itu juga terjadi dalam musik. Genre-genre musik semakin diperjelas guna memberikan peta yang lebih jelas bagi produsen untuk menciptakan produk yang mampu diserap pasar. Memang tidak jarang ada satu-dua pemusik yang keluar dari pakem tersebut untuk menciptakan musik “orisinil” (oh ya? seperti apa gerangan orisinalitas itu?). Tapi problemnya selalu sama, sulit dimengerti dan diterima pasar. Yang perlu dicatat, bukan musiknya yang kelewat rumit, tapi tidak adanya penjelasan yang mumpuni untuk memahami musik tersebut. Seolah tidak adanya patok yang jelas dalam pemetaan musik untuk jenis musik seperti itu. Maka sering kita mendengar orang-orang melafalkan musik “alternatif”, bagi saya seorang yang awam, itu hanya upaya simplifikasi.

Bagi penikmat musik, rasanya sah-sah saja jika menyukai musik ini dan tidak menyukai musik itu. Tidak ada yang perlu dipersoalkan. Hal itu menjadi soal, mungkin, bagi industri musik itu sendiri, mereka akan dihadapkan pada area abu-abu dalam pemetaan musik. Dan itu adalah potential loss dalam industri mereka. Kan bahaya.

Jadi, boleh dong dalam playlist saya memutarkan Ada Apa DenganmuPeterpan setelah Stairway To Heaven Led Zeppelin? Boleh dong dalamreadlist saya membaca Filosofi Kopi- Dee setelah Animal Farm George Orwell?

Suka-suka aja lah, enaknya gimana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s