Antara Cerpen dan Novel

Belakangan ini seorang teman lama bertanya kenapa saya mulai jarang membaca novel, ia lebih sering melihat saya membaca cerpen. Di rak buku kamar, buku-buku kumpulan cerpen terletak di bagian yang mudah dijangkau, tidak berdebu; itu menandakan sering dibaca.

Awalnya pertanyaan itu saya jawab sekenanya, “lagi suka aja” tapi setelah saya pikirkan kembali kira-kira begini alasannya.

Cerpen, sebagaimana fitrahnya sebagai cerita pendek, hanya butuh satu tarikan nafas untuk membacanya. Saya bisa membacanya sambil menunggu jadwal kuliah yang ngaret, mengunggu teman datang di kafe, mengantre, buang air besar di wc, atau bahkan menunggu macet terurai. Saya bisa membaca cerpen bukan hanya dari buku fisik, tapi bisa juga melaluismartphone. Semuanya dilakukan diantara jeda, dalam waktu yang singkat. Sambil lalu.

Lalu mengapa saya hanya punya waktu singkat untuk membaca? Sementara masih rajin membuka twitter dan ngetwit. Masih khusyuk menonton film serial, yang belakangan ini mulai kecanduan beberapa diantaranya. Masih sering membaca catatan perjalanan untuk merencanakan next trip.

Selain waktu yang dibutuhkan untuk membaca cerpen cenderung sangat singkat, ada hal yang tidak kalah pentingnya. Cerpen bagi saya bisa dibaca sebagai sebuah eksperimen si penulis dalam gaya bertutur, tema yang dipilih, bentuk tulisan. Meminjam istilah keren dari Aan Mansyur, cerpen adalah laboratorium bahasa bagi si penulis. Dengan begitu, variasi yang ditawarkan cerpen cenderung lebih banyak. Dalam satu buku kumpulan cerpen, saya bisa mendapatkan belasan gagasan, sekian bentuk penulisan, sejumlah gaya penciptaan penokohan, dan lain sebagainya. Hal ini tidak saya dapatkan dalam novel. Jika sebuah bangunan, novel adalah rumah besar yang memiliki struktur kokoh dan pondasi matang, sedangkan cerpen adalah kamar-kamar kost.

Narasi besar yang dibangun dalam sebuah novel seringkali memaksa pembaca untuk mengingat beberapa scene penting, menangkap pola, dan memahami alur cerita dengan seksama. Ada gagasan besar yang coba disampaikan si penulis, dan gagasan itu dibangun secara perlahan melalui peristiwa-peristiwa dalam novel tersebut.

Belum lagi persoalan rumit berikutnya, proses seleksi buku yang “layak baca”. Belakangan ini, memilih bahan bacaan bergizi memang menjadi persoalan serius! Bayangkan, ketika baru masuk ke toko buku, kita sudah digempur oleh puluhan buku-buku new release yang covernya unyu-unyusemua. Membaca sinopsis di halaman belakang buku juga sepertinya bukan pilihan bijak, bukan sekali-dua saya menemukan inkonsistensi sinopsis dengan isi (juga cover). Endorsment para penulis besar juga tidak lagi mampu membujuk saya untuk membaca sebuah buku. Nama-nama baru dikerek menuju angkasa, melawan angin, lalu lenyap entah kemana.

Alasan yang lebih personal sebenarnya ada pada tingkat kemalasan yang sudah pada tingkat akut. Ya, tulisan ini juga serupa apologia sederhana untuk memarahi diri sendiri sih. Sudah banyak penulis yang bertekad bundar untuk menjalani “karir” sebagai penulis tapi nyatanya ya begitu-begitu saja. Banyak juga diantara para (calon) penulis itu menghabiskan hari-harinya menyuntuki buku-buku. Jika mereka yang sedemikian giat membaca buku saja masih kesulitan menemukan bentuk tulisan terbaiknya, bagaimana dengan yang ogah-ogahan membaca buku?

Zen RS pernah bilang “Seorang pembaca yang baik, ketika mulai menulis, tulisannya tidak akan benar-benar buruk.”

Lantas pertanyaannya, apakah saya termasuk seorang pembaca yang baik? mungkin. Apakah saya termasuk seorang (calon) penulis yang baik? tentu tidak. Dalam sebulan misalnya, paling tidak, semalas-malasnya saya membaca, ada dua-tiga buku yang saya baca, tapi tidak begitu dengan tulisan. Sebulan ada satu saja tulisan yang rampung sudah bagus (bukan celoteh semacam ini, dan juga bukan draft-yang-tak-kunjung-selesai).

Saya jadi ingat Eka Kurniawan yang berhasil melepaskan diri dari twitter (dan juga facebook) untuk lebih giat membaca. Luar biasa bukan? terdengar heroik dan militan. Awalnya saya juga cukup nyinyir dengan sikap Eka ini. Dalam sehari, saya bisa membuka twitter lebih dari 10 kali, hanya untuk membaca berita “heboh” apa yang sedang ramai dibicarakan, scrolling-scrolling judging. Lalu menulis satu dua kicauan agar terlibat dalam arus pemikiran massa, diangap sebagai middle class yang baik dan hype. Berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk itu? saya pernah iseng menghitungnya. Jika dalam sehari diambil rata-rata membuka twitter sebanyak 10 kali, dengan asumsi 1 kali membuka timeline menghabiskan waktu 10 menit, maka dalam sehari saya menghabiskan 100 menit untuk scrolling-scrolling judging.Hampir 2 jam dalam sehari! Bayangkan jika waktu tersebut dikonversi menjadi waktu membaca buku. Apalagi jika ditambah latihan menulis setiap hari, secara teratur dan konsisten tentu saja. Maka tidak heran Eka memutuskan untuk menarik diri dari bisingnya twitter (juga facebook). Hasilnya luar biasa, beberapa kali dalam seminggu saya sempatkan menengok blog Eka di ekakurniawan.com dan menemukan banyak sekali tulisan disana. Kabar terakhir, Eka baru saja melahirkan buku kumpulan cerpen terbarunya; “Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi”. Terimakasih Eka, setelah sekian waktu menunggu kapan Eka akan menulis cerpen lagi. Akhirnya!

Tentu saja dalam waktu dekat saya akan segera mampir ke toko buku, untuk beli CERPEN itu. Ya, lagi-lagi cerpen. Untuk otak berkarat seperti saya, setidaknya butuh interfal waktu yang cukup panjang agar membuat sirkuit-sirkut lapuk di otak ini terlumasi kembali. Mungkin pada lain waktu, saya bisa kembali giat membaca novel-novel tebal. Mungkin.

Pada akhirnya, kita kembali pada pertanyaan: apakah saya berniat menjadi seorang pembaca yang baik? tentu saja. Apakah saya berniat menjadi penulis yang baik? sepertinya malas. Tapi demi keyakinan saya pada Zen RS, mungkin jawaban yang tepat untuk pertanyaan kedua adalah “Seorang pembaca yang baik, ketika mulai menulis, tulisannya tidak akan benar-benar buruk.”

Jika bisa menjadi penulis yang baik kenapa memilih untuk menjadi (calon) penulis yang-tulisannya-tidak-akan-benarbenar-buruk? Sebab saya masih mengutamakan kesenangan pada kedua kegiatan itu. Sebab saya masih punya banyak mimpi lainnya yang tidak kalah keren dan menyenangkan dibanding menjadi penulis.

Sebab, Eka Kurniawan pernah mengutip Borges di akhir catatannya; “Kegiatan membaca lebih intelek daripada menulis.”

…dan lebih menyenangkan tentu saja.


Sebentar, saya jadi bingung. Niatan awal membuat catatan ini adalah mengidentifikasi perbedaan proses membaca cerpen dan novel, tapi pada akhirnya malah mempersoalkan pembaca yang baik dan penulis yang baik. Nah, sudah jelas kan bahwa saya terlalu malas untuk mengedit tulisan (yang bahkan hanya sekadar catatan seperti ini) dan menjadi penulis yang baik. Tapi setidaknya, tidak-benarbenar-buruk kan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s