Kepada Tuan dan Puan Puisi

Wahai tuan dan puan puisi, sudikah engkau beranjak barang sedepa? Sebab singgahsana yang agung dan adiluhung itu sedang dimakan rayap, keempat kaki kursi itu telah lungkrah, hanya menghitung hari untuk musnah, untuk sudah. Aku tidak ingin ketika tuan duduk ongkang-ongkang kaki lalu mendadak ambruk, sejajar dengan tanah. Aku juga tentu tidak ingin ketika puan sedang bersolek dengan pupur dan gincu, mendadak terjungkal, tentu akan semraut wajah puan.

Dari surau aku mendengar gemuruh bebunyian serupa puja-puji menggelosor begitu saja melalui setiap jengkal langit senja yang menjingga dengan mega-mega berhambur membentuk rupa-rupa mahluk.

Jika boleh, biarkan aku mengantar dari luar saja. Dari dingin malam yang melabrak galak setiap tukang nasi goreng.

Sebab perut bapak sudah lama tidak terisi nasi, tidak perlu lagi aku mencekoki dengan puisi, bukan? Alangkah jauh lebih bijak bagiku untuk menyediakan sepiring nasi goreng daripada semangkuk puisi.

Jangan dulu berkecil hati, aku tidak pergi meninggalkan tuan dan puan. Mungkin kelak aku akan kembali, mungkin juga tidak. Ah, terlalu banyak basa basi, seperti koran pagi dan berita di televisi. Jadi, untuk apa puisi?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s