Kehendak Bebas?

“Some say that our lives are defined by the sum of our choices. But it isn’t really our choices that distinguish who we are. It’s our commitment to them.”

-Emily Thorne; Revenge Season 1, eps 9

Sebagaimana pada banyak hal, awalnya aku mengira apa yang sedang kita lakukan adalah sebuah upaya mengejar sesuatu yang adi luhung, sebuah pencapaian tertinggi kemanusiaan: cinta dan kebahagiaan. Berdasar pada asumsi tersebut, maka sangatlah wajar aku dan juga kamu mengalami masa-masa indah, masa-masa dimana kita mabuk oleh perasaan yang berlimpah hingga tidak terwadahi oleh apapun. Oleh carik-carik catatan kecil kita, oleh setiap kencan di malam minggu, di malam kamis, di selasa siang, atau di hari rindu. Oleh bingkisan kecil, oleh bungkus kado besar, oleh perjalanan dekat, oleh liburan jauh dan panjang, atau oleh kebersamaan dan keintiman yang kita ciptakan. Oleh setiap argumentasi yang kita susun rapih untuk saling mengalahkan, atau mungkin dengan maksud saling membangun pondasi yang kuat dalam diri masing-masing. Oleh setiap buku yang kita baca, diskusikan, perdebatkan, atau sama-sama kita cintai. Oleh setiap film yang kita tonton, kita benci, kita sukai. Ah, terlalu banyak rasanya, tapi semua itu tidak bisa dan memang tidak akan pernah bisa menjadi wadah seluruh rasa yang kita punya. Daratan selalu lebih keci dibanding lautan. Dan kita memilih untuk tetap berlayar hingga jauh. Hingga batas horizon menampakan tipu muslihatnya. Dan kita terus berlayar, kembali mengarungi setiap badai untuk menemui batas horizon selanjutnya.

Setiap perjalanan memiliki kebijaksanaannya masing-masing, orang timur selalu berkata seperti itu. Dan ya, aku tentu sangat setuju dengan ungkapan itu. Sebab memang tidak ada yang salah dengan keteguhan kita, dengan perjuangan tak kenal menyerah ini. Tidak pernah ada sesuatu yang datang dan hilang hanya untuk menjadi sia-sia. Tidak pernah ada. Tidak pernah.

Kasih, mungkin masa-masa indah menatap jauh horizon sambil menikmati semburat jingga yang membanjiri pelataran kapal kecil kita sudah berakhir. Lagu-lagu semakin kehilangan nadanya. Buku-buku mulai menampakan kontradiksinya, sebagaimana pengetahuan telah gagal ribuan tahun yang lalu.

People are changing, dear. So do you. So do i…

Adakah yang salah dari setiap perubahan itu? Adakah yang salah dari musim panas yang berganti menjadi musim gugur? Mungkin yang salah adalah mereka yang masih mengenakan bikini musim panasnya ketika musim gugur datang. Ya, setiap perubahan selalu menyakitkan bagi mereka yang tidak siap dengan perubahan tersebut. Dan kadang, dalam hidup yang sialan sekaligus menyenangkan ini kita tidak selalu mendapatkan kesempatan untuk memilih kapan saat yang tepat untuk berubah, untuk mempersiapkan diri terhadap perubahan. Kadang, perubahan itu terjadi begitu saja, tidak diminta, tidak diundang.

Kamu tentu ingat Marshal dan Lilly yang saat itu sedang memberi nasihat pada Ted dan Robin, mereka bilang bahwa kalian seharusnya bersyukur, kalian sudah melewati fase kasmaran dan sedang bersiap masuk ke tahap berikutnya, ke fase yang sesungguhnya dari sebuah hubungan.

Dulu, aku selalu mengira bahwa kita akan menuju pada kondisi “happy ever after” tapi sesungguhnya, adakah kondisi seperti itu? Membosankan. Sepertinya kita tidak sedang menuju kesana, kita sedang bersiap, mengembangkan layar, kembali bergelut dengan ganasnya arus laut lepas. Sebab di ujung jauh sana, di batas horizon, ada sesuatu yang masih layak diperiksa dan kita dekati. Aku tentu tidak tahu apakah itu, tapi adakah pilihan lain saat ini? Seperti yang aku sebutkan diawal, bahwa hidup ini kadang tidak memberikan kita pilihan. Dan kita tidak pernah ditentukan oleh pilihan-pilihan yang (seolah) kita putuskan, tapi oleh komitmen menjalani setiap pilihan yang ada.

Kasih, pernahkah kamu berpikir tentang free-will, tentang “kehendak bebas” yang dimiliki setiap manusia. Jean Paul Sartre mengklasifikasikan dua jenis eksistensi: etre en soi (ada pada dirinya) yang terdapat pada benda-benda dan etre pour soi (ada bagi dirinya) yang ada dalam setiap diri manusia. Gagasan terbesarnya adalah menyoal eksistensi ini, bagaimana ia mendefinisikan manusia sebagai mahluk yang etre pour soi (ada bagi dirinya), manusia tidak dikenakan esensi apapun, eksistensinya mendahului esensi. Tidak seperti benda-benda, seperti palu misalnya. Sebelum si pembuat palu menciptakan palu tersebut, ia sudah memiliki gagasan seperti apa dan berfungsi untuk apa palu tersebut. Manusia dikutuk untuk bebas, itulah sumpah Sartre yang tersohor hingga saat ini.

Tapi jika kamu mencermati gagasannya dengan seksama, benarkah bahwa manusia itu “dikutuk untuk bebas”? bahwa manusia tidak dikenakan esensi apapun pada dirinya?

Bagaimana dengan aspek lingkungan, kondisi keluarga dimana kamu dilahirkan, dan segala keserbamungkinan yang hanya mungkin terhadirkan dengan prasyarat-prasyarat tertentu. Misalnya begini, apakah mungkin seorang anak muda yang lahir jauh di pedalaman Papua sana dapat memahami teori Relativitas Einstein? Atau lebih jauh lagi, mengenai Multiple Universe, String Theory, dan sederet pencapaian saintifik lainnya? Ya, itu mungkin kalau saja ia dilahirkan dari keluarga yang peduli terhadap pendidikannya, memiliki cukup uang untuk menyekolahkan anaknya ke Jawa, atau memiliki cukup informasi untuk mencari beasiswa. Ya, itu mungkin kalau saja desa tempat si anak muda kebetulan dapat program tertentu dari pemerintah dan atau NGO untuk diberdayakan. Ya, itu mungkin kalau ia memiliki teman yang punya wawasan dan pengalaman luas hingga mempengaruhi cara berpikirnya. Ya, itu mungkin kalau…blablabla. Bagaimana kalau ia lahir dari keluarga yang masih tidak paham mengapa harus mencuci tangannya sebelum makan? Bagaimana kalau ia lahir di sebuah desa yang tidak ada satupun anggota masyarakatnya yang pernah merasakan cahaya ilmu pengetahuan seperti Minke-nya Pramoedya Ananta Toer? Jangankan cahaya ilmu pengetahuan, cahaya lampu saja tidak ada di desa mereka. Bagaimana kesadaran itu bisa muncul dalam masyarakat seperti itu? Bagaimana String Theory bisa dijadikan suatu hal yang mungkin dicapai si anak muda itu?

Atau bagaimana mungkin si anak yang lahir dari seorang pastur Katolik ternama bisa menjadi islam? Nunggu hidayah? Iya, oke tunggu saja hingga entah kapan datangnya itu. Oke katakanlah manusia bisa berubah keyakinan, keimanan, agama. Tapi seorang sunda tidak bisa menjadi jawa, pun sebaliknya. Dengan segala prinsip moral-primordialnya, si Asep akan selalu menjadi sunda. Dan Joko akan selalu menjadi jawa. Lalu, dimanakah kehendak bebas itu sembunyi?

Sekian prasyarat, sekian alasan, sekian bukti, bahwa kehendak bebas itu tidak-tak-terbatas. Selalu ada kondisi-kondisi tertentu yang menjadikan pilihan kita mengerucut pada sejumlah pilihan tertentu.

Kita yang katanya seorang terdidik, seorang anak kandung peradaban moderen yang menjunjung tinggi nilai-nilai rasionalitas, kadang lupa bagaimana ilmu pengetahuan itu terbentuk. Sebuah bangunan tidak mungkin kuat jika pondasinya bersal dari sekian kemungkinan, dari sekian asumsi, sekian metode yang selalu berganti setiap tahunnya.

Kasih, lalu sebenarnya apa itu kehendak bebas? Adakah? Atau itu hanya delusi atas pilihan-pilihan yang seolah kita sendiri yang memutuskannya? Untuk menentramkan diri kita sendiri bahwa kita adalah manusia-manusia mandiri, yang bertindak berdasarkan akal dan kemauannya sendiri. Didorong oleh tujuan dan kepentingannya sendiri.

Bagiku, kehendak bebas selalu tidak-tak-terbatas. Selalu dalam proses menjadi yang terus menerus mengalami redefinisi. Dan saat ini, tentu kita sebenarnya memiliki banyak pilihan, tapi kita tidak boleh senang dulu, hidup kita tidak tergantung pada pilihan yang kita buat, tapi pada komitmen terhadap pilihan yang kita buat. Sebab manusia selalu dalam proses menjadi, selalu berubah menuju kemungkinan paling potensial, dan sungguh sangat menyenangkan menjalani proses yang melelahkan itu, kita menyadari ada seseorang yang selalu menjaga punggung kita dari segala bahaya. Menyadari ada seseorang yang selalu bersedia menjadi tempat berpulang ketika lelah bertarung melawan nasib yang nisbi. Menyadari ada seseorang yang tabah merawat luka. Untuk tumbuh bersama, menuju ketidakterbatasan, menuju horizon yang semakin menjauh ketika didekati.

For some, commitment is like faith… A chosen devotion to another person or an intangible ideal. But for me, commitment has a shadow side, a darker drive that constantly asks the question…

How far am I willing to go?

Iklan

One thought on “Kehendak Bebas?

  1. for some reason, i hardly believe you’re losing your mind, broh!
    keep up the good work on somethings real, and stay calm, drink your coffee.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s