Keluar Dari Goa Malapetaka

Malam itu aku duduk sendiri menghadap komputer lipat, lampu kamar sengaja kupadamkan, satu-satunya cahaya hanyalah dari layar monitor. Tidak ada musik, tidak ada suara apapun selain kegaduhan yang nyaring dari dalam diri. Diluar, hujan turun malu-malu, sedari sore tadi. Suara riciknya menghalangi bebunyian lain yang mencoba mengganggu prosesi suntuk malam itu. Ya, malam itu aku mencoba kembali bersetubuh dengan sunyi. Dengan sisa-sisa amarah yang hanya membakar diri sendiri. Menghabisi satu-persatu benteng pertahanan. Seperti halnya teori perang, ketika datang saat penghabisan, kita hanya dihadapkan pada dua pilihan. Tetap bertahan, sembunyi dibalik sisa-sisa benteng pertahanan sambil berusaha melarikan diri dari gempuran maha dahsyat, atau keluar dari benteng pertahanan dan melakukan penyerangan selagi masih ada sisa-sisa semangat. Sisa-sisa harap.

Aku pernah memilih jalan yang pertama, hasilnya sudah dapat dipastikan, waktu lah yang membunuhku, menghabisiku perlahan. Menyakitkan!

Maka pada malam itu, aku memilih untuk keluar dari benteng pertahanan. Mencoba peruntungan sekali lagi. Menghadapi segala gempuran. Seperti kaum papa, ia berontak melawan. Sebab ia sudah tidak akan lagi kehilangan apapun, selain rantai yang mengikat kakinya. Pun jika harus habis, habisilah aku disini. Aku merasa terhormat jika harus kalah melalui perjuangan. Seperti Nyai Ontosoroh katakan pada Minke: “kita sudah melawan, nak, nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Hari ini, aku merasakan perasaan lega. Perasaan rela. Tubuh ini seperti sedang dianjak berdansa-dansi dengan semesta marabahaya. Mengitari ranjau-ranjau musuh, juga ranjau ciptaan sendiri. Tapi aku tidak lagi takut, tidak lagi merasa terancam akan kalah dan habis. Aku melawan, aku memilih untuk ikut serta dalam perjalanan sejarah yang mungkin akan sangat menentukan kelanjutan hidupku didepan.

Mega-mega berhamburan acak, beriringan membentuk gumpalan-gumpalan serupa kapas putih. Angin bulan desember mengutuk setiap pemurung sialan. Bunyi lonceng melengking dari kejauhan. Tiang listrik dipukul tiga kali. Ajak-ajak berkeliaran mengumbar ngeri. Peronda sembunyi dibalik sarung bututnya. Ikan koi mati mengambang di akuarium. Lungkrah. Mungkin segera pecah. Malam sepertinya akan runtuh. Langit-langit pecah. Bulan perak retak. Kuburan menganga.

Aku membuka pintu, bersiaga di udara terbuka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s