yang fana adalah waktu, kita abadi.

Aku tidak pernah memandang hidup ini dengan sebuah pandangan romantik tentang keabadian. Segalanya yang nampak dimataku harus dan memang selalu bergerak, berproses, menuju atau hanya berjalan saja pada suatu tempat yang entah. Jika ada prosesi diam, sebuah titik henti, pastilah itu hanya merupakan ruang singgah, serupa ruang tunggu untuk kemudian melanjutkan perjalanan.

Dalam setahun terakhir ini, aku terlibat dengan banyak sekali peristiwa penting yang mungkin akan membekas dalam ingatanku cukup dalam. Mungkin akan berdiam di sebuah pojokan ruang memoriku selamanya, ia akan menetap disana. Bersekutu dengan ingatan-ingatan lain yang tak kalah tajamnya.

Manusia terus bergerak, mengalami berbagai peristiwa, mencecap rupa-rupa rasa, bergelut dengan pengetahuan baru yang mengobrak-abrik sistem mapan dalam diri, membongkar dan memaksanya digantikan dengan yang lebih baru. Tapi selalu ada yang tetap berdiam, jauh di dalam diri kita. Kenangan akan sebuah peristiwa. Memang tidak semuanya, seperti halnya tidak semua gugur daun yang kita ingat, tidak semua cangkir kopi yang kita minum, tidak semua peristiwa kematian yang akan teringat. Hanya beberapa saja. Tubuh ini seperti memiliki sistem filter yang sangat canggih dalam memilah kenangan mana yang pantas berdiam dalam diri, mana yang berlalu begitu saja.

Agaknya sekarang aku mulai paham potongan sajak Sapardi yang sangat terkenal itu.

“yang fana adalah waktu, kita abadi.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s