Lelaki Harimau- Eka Kurniawan

Processed with VSCOcam with c1 presetLelaki Harimau tampil lebih gemulai dibandingkan dengan novel Eka Kurniawan sebelumnya: Cantik Itu Luka. Pada Cantik itu Luka saya menduga Eka disibukkan dengan riset mendalam perihal sejarah yang tumpang tindih pada periode tersebut, juga ambisinya yang cukup tendensius untuk menggiring pembaca pada pemahaman tentang sejarah yang bengkok. Berbeda dengan Lelaki Harimau yang hadir sebagai novel psikologis. Novel ini hadir dengan cerita yang lebih sederhana, sekaligus gaya bertutur yang lebih eksploratif. Eka serasa sedang menari-nari dan mabuk diatas bebukit terjal sepanjang sejarah kepengarangannya.

Tragedi dimulai ketika Margio mencerabut kehidupan Anwar Sadat dengan cara menggigit dan mencabik-cabik lehernya hingga mampus. Ketika Mayor Sadrah mengetahui mayat Anwar Sadat yang menggelepar memuncratkan darah segar adalah akibat perbuatan bengis Margio, Margio hanya berkata: “Bukan aku yang melakukannya, ada harimau di dalam tubuhku.”

Diceritakan dengan gaya flashback, Eka berhasil membuat saya membuka halaman demi halaman untuk menemukan motif Margio. Pembaca seolah diajak untuk mengupas kulit bawang yang berlapis-lapis hingga pada akhirnya menemukan kekosongan isi.

Saya katakan diawal bahwa novel ini lebih gemulai dari CIL karena di novel ini Eka lebih sering berakrobat dengan bentuk dan gaya kepenulisannya–yang konon katanya merupakan hasil peleburan dari bentuk serta gaya kepenulisan pengarang besar seperti Kafka, Virginia Wolf, Edgar Alan Poe, serta Marquez–

Sepertinya memang benar, membaca Eka di novel ini serasa membaca kehalusan deskripsi narasi Kafka, teka-teki dan misteri Alan Poe, dan kerapihan setting Marquez. Tidak banyak dialog dalam novel ini, porsi narasi menguasai hampir seluruh cerita. Justru disitulah letak kekuatan novel ini. Dengan gaya bahasanya yang “nakal” mampu membuat suasana mencekam menjadi lebih dekat dan lebih mudah dirasai. Dalam novel ini juga saya menemukan banyak lema yang sudah jarang (barangkali karena takut) digunakan para penulis seperti: “menggelosor”. Kata ini cukup sering muncul dalam Lelaki Harimau, dan setiap kemunculannya, tidak bisa tidak, membuat bibir saya tertarik satu sentimeter ke samping.

Katrin Bandel mengatakan: “Deskripsi perkembangan psikologis para tokoh Lelaki Harimau membuat kita menyadari betapa nilai-nilai moral yang diajarkan dalam kehidupan sehari-hari ternyata terlalu sederhana, tak memadai untuk menilai kehidupan manusia yang penuh liku-liku.”

Sepenuhnya saya sepakat dengan komentar Katrin, sebab dalam buku ini, yang kita dapati tidaklah lebih dari pergulatan psikologis tokoh-tokoh yang berbenturan dengan realitas disekelilingnya. Hingga pada akhirnya kita akan mafhum dengan tindakan bengis Margio menghabisi nyawa Anwar Sadat dengan cara keji seperti itu.

…bahwa hidup kadang tidak memberikan pilihan yang lebih baik diantara pilihan lainnya, bahwa moralitas yang tumbuh di sekitar manusia kadang tidak mampu menopang kompleksitas hidup, bahwa dalam diri kita, jauh di dalam sana, bersemayam mahluk serupa harimau berwarna putih serupa angsa.

https://www.goodreads.com/review/show/1104949391?book_show_action=false

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s