Suatu Sore di Stasiun Bandung

tumblr_mave3oi4sn1r2q9tyo1_500_large Sore itu mendung menghiasi langit Bandung, jam di pergelangan kiri lenganku menunjukan pukul lima. Lampu-lampu mulai dinyalakan, cahaya-cahaya kuning tengah bersiap mempercantik malam yang akan segera turun. Aku terduduk sendiri di kursi panjang sebuah ruang tunggu stasiun. Tepat di arah tenggara kursiku, dua orang yang terlihat seperti pasangan kekasih sedang terlibat percakapan panjang dan khusyuk, seolah mereka sedang membicarakan sesuatu yang amat genting dan mendesak. Ya, mendesak. Sebab gerak tubuh dan air muka mereka memperlihatkan suasana gusar, percakapan yang belum juga tuntas sementara kereta sang kekasih sudah tiba, percakapan yang harus segera usai sebab kepergian memang niscaya. Mereka mendekatkan tubuh, saling mendekap dengan sangat erat. Dan ah, pelukan itu memang lebih panjang dari tiga lagu di headphoneku yang memutar musik secara acak.

Lonceng berdentang tiga kali, peluit melengking memecah riuh peron, deru mesin kereta meraung-raung di langit mendung Bandung sore itu. Sepasang kekasih terlihat semakin gelisah. Mereka menghentikan percakapan, saling pandang, bersitatap, dunia di sekelilingnya mendadak lenyap dalam lensa mataku, seolah di peron ini hanya ada mereka berdua. Pandangan sepasang kekasih itu amat getir, terlalu getir! Aku yakin, mereka sedang bertukar keyakinan, saling menguatkan. Berbicara melalui mata memang seringkali cara paling mungkin dilakukan ketika Bahasa tidak mampu mewakili perasaan yang memang lebih rumit dari sekadar aku cinta kamu, aku sayang kamu, atau aku pasti akan merindukanmu. Kaki jenjang si perempuan akhirnya melangkah masuk kedalam kereta. Tentu saja dengan langkah ragu, tertatih, dan menoleh ke arah kekasihnya berkali-kali. Si lelaki hanya berdiri, kata-katanya seperti tercekat di tenggorokan, tanggul air di matanya jebol tak kuasa menahan apapun yang sedari tadi pasti sudah ia tahan. Ia tidak bergerak sedikitpun, hanya berdiri disana dan melihat kekasihnya pergi entah kemana, untuk apa, dan sampai waktu yang tentu saja aku tidak tahu.

Derit roda besi tua beradu dengan sepasang rel, menghasilkan suara lengking yang cukup nyaring. Ular raksasa itu pergi pergi menjauh menuju ke arah matahari terbenam. Tubuhnya semakin mengecil ditelan mahluk misterius bernama horison. Lelaki itu masih berdiri di posisi yang sama, tangan kanannya mencari sesuatu dibalik saku jaketnya. Ia menyelipkan sebatang rokok di bibir yang terlihat menghitam. Berusaha menyalakannya berkali-kali sebab gemetar tangannya tak juga berhenti. Menghisap dalam-dalam, seolah sedang menghisap semesta kecilnya yang pergi menjauh. Lalu dalam satu dorongan dari paru-parunya ia menghembuskan asap, mungkin berharap ada yang ikut keluar dari dalam dirinya selain asap rokok. Ia lakukan itu berkali-kali, semakin lama semakin mantap.

Ia melangkah, memunggungi matahari terbenam. Ia melangkah, menuju entah kemana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s