Upaya Tak Ramah Memeluk Diri Sendiri

empty-roomDalam percakapan intim dengan diri sendiri, aku menemui ruang lengang serupa gang-gang ibukota selepas pukul tiga. Ada gelap dan dingin sekaligus pendar cahaya redup dalam keharusan yang tidak perlu. Percayalah sayang, kebahagiaan kita tinggal sepertiga sloki yang masih juga kau sesapi dengan tabah dalam rasa tak tentu.

Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dari punggung lelah ini. Punggung yang selalu saja menerbitkan rasa ngilu pada tulang-belulang kesadaranmu. Rasa nyeri yang segera dibasuh hujan dari sepasang mata mendung. Jejak-jejak patah, tikungan patah, nada-nada sumbang, angan yang tak segera jadi ingin. Percayalah sayang, ini bukanlah kehidupan yang kamu mau dan sialnya kamu selalu berkelit bahwa ada yang lebih kuasa dari sekadar rasa ingin: aku telah menjelma kebutuhan bagimu.

Mungkin kamu tidak sedang benar-benar mencintaiku. Kamu hanya sedang bosan dengan dirimu. Dan kamu membutuhkanku dalam hidupmu yang terlalu baik-baik saja. Dalam nafas-nafasmu yang terlalu teratur. Dalam langkah kaki yang terlalu ritmis. Percayalah sayang, masa depan kita adalah lampu kota selepas pukul tiga.

Harus segera kususun siasat, sebelum kamu benar-benar jatuh dalam arus tanpa kemudi dan arah tuju. Sebab dalam keteraturan arus paling kecil dalam diriku saja kamu sudah benar-benar muak. Ada deras hujan dan kencang badai dalam darahku. Ketidakteraturan yang terus melahirkan khaos dalam tatapan kosmologismu. Meletakanmu dalam kebingungan yang tak lagi bisa diurai, sebab mungkin memang tak perlu diurai.

Kekacauan dan ketidakteraturan adalah niscaya bagiku. Sementara kamu selalu memicingkan mata, ada yang tidak beres dalam hidupku. Ah sayang, bagaimana aku harus memagari keinginan-keinginanku jika peristiwa-peristiwa yang mampir dalam hidupku adalah ketidakteraturan itu sendiri?

Pulanglah sayang, sebelum dermaga ini kubakar habis dengan sesisa amarah yang tidak perlu. Kamu tidak akan sanggup menanggungnya, sebagaimana aku tak pernah sanggup bertanggungjawab atasnya.

Mungkin memang sudah waktunya aku kembali beradu siasat dengan nasib. Dalam upaya tak ramah untuk memeluk diriku sendiri. Menjatuhkan hujan-hujan dari punggungku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s