[Review Buku] Overture- Disa Tannos; SekataMedia 2014

Overture- Disa Tannos
Overture– Disa Tannos

Setelah bertahun-tahun. Setelah kau datang sendiri dan membuatku berubah pikiran. Lalu kau pergi dengan alasan masih ingin bertualang. Menjelajahi tempat-tempat asing. Tanpa ikatan. Tanpa rumah tinggal. Tanpa keharusan.

Kau seorang ibu. Kau tak bisa lari dari kenyataan.

Tapi, aku mencintaimu. Pergilah. Jangan lupa pulang.

(Overture; XV)


Overture diawali dengan gambaran tentang seorang perempuan (istri, yang juga telah menjadi ibu) tiba-tiba tanpa alasan yang jelas—setidaknya bagi norma masyarakat yang menganggap kesetiaan adalah barang antik, perlu diperlakukan dan dirawat dengan khusyuk—dan cenderung absurd ini mencongkel rasa ingin tahu saya untuk terus membaca novel ini hingga tuntas.

Rena meninggalkan keluarganya untuk mengejar ‘kebebasan’ yang dipercayainya sudah menjadi bagian dari kutukan ke-diri-annya, dalam buku ini seperti bayangan gelap yang selalu menggantung jauh, entah di bagian kesadaran yang mana, kita semua barangkali menyimpan bahkan menutup rapat sosok Rena dalam diri. Ketika membacanya, saya dipaksa untuk menahan konklusi terhadap Rena, tidak terburu-buru untuk menghakimi Rena sebagai perempuan bajingan yang tidak bertanggung jawab.

Kepergian, kehilangan, luka, kesetiaan, penghianatan, tanggungjawab, semua tertangkap dalam penutup prolog yang dibuat dengan sangat manis sekaligus gelap. Sederhana, tapi tetap menyentuh, bahkan justru saya kira dengan kesederhanaannya itulah, Disa mampu berbicara pada pembacanya dengan lebih akrab.

Dalam setiap bab di buku ini, kita seolah dipaksa meniti ketegangan antara kehilangan dan rasa memiliki, kesetiaan dan kebutuhan untuk tidak menunda kebahagiaan (?), tanggung jawab terhadap orang lain dan kecintaan pada diri sendiri (kebebasan?). Kita seolah sedang berada pada debaran konflik diri yang diam-diam dan bahkan malu-malu kita akui terjadi pada kehidupan kita sehari-hari. Sepertinya itulah yang mendorong saya untuk terus membaca novel ini hingga tuntas, seolah sedang meminum jamu pahit yang harus tandas dalam satu kali tegukan.

Satu kali tegukan. Ya, Overture adalah satu dari sedikit buku (khususnya novel) yang saya selesaikan dalam satu kali tegukan. Debaran yang diciptakan Disa dalam novel ini memaksa saya untuk terus membuka halaman demi halaman hingga tuntas. Tapi justru disinilah letak kekecewaan saya pada buku ini setelah sampai pada epilog. Sebuah novel, sebagaimana hakikatnya sebagai novel, ekspektasi pembaca tentulah berbeda dengan membaca cerpen. Porsi narasi yang Disa tempatkan dalam Overture agak tidak berimbang pada kekuatan karakter yang dibangun dengan big picture yang ingin Disa sampaikan. Ada rasa yang tertinggal entah di halaman yang mana, di scene yang mana. Jika karakter Rena dibangun dengan porsi yang pas dan tetap misterius hingga akhir (setidaknya hingga beberapa bab terakhir) memang tidak mengecewakan, sudah pas! Tapi konflik dalam diri Kei, Raka, juga mungkin Dimas, seolah dipaksakan selesai begitu saja. Seperti tokoh-tokoh dalam cerpen.

Saya jadi teringat salah satu cerpen favorit saya: Hujan yang Sebentar, karya Puthut EA. Kurang lebih cerpen tersebut juga bercerita dengan nada yang sama. Mengenai perpisahan yang niscaya, luka yang telah (harus) sembuh. Perbedaannya, ketika selesai membaca cerpen itu, bibir saya tertarik satu sentimeter ke kiri, sementara ketika selesai membaca Overture, kening saya berkerut dan mata juga ikut-ikutan menyipit. Ada rasa yang tertinggal. Ada ganjil yang ingin digenapi.

Kompleksitas cerita dalam Overture ini sebenarnya sudah sangat menjanjikan di awal-awal cerita, tapi banyak elemen yang kabur entah kemana menjelang penyelesaian konflik. Sangat disayangkan, Disa.

Ah tapi barangkali ini hanya kekecewaan sentimentil yang tidak perlu, toh saya juga tidak paham teori sastra. Bagaimanapun juga, bahkan ketika saya menulis ulasan ini, saya masih tidak percaya Overture adalah buku pertama Disa. Luar biasa. Terlalu memukau sebagai buku pertama!

Kalimat-kalimat Disa tidak bersayap, menyamping, berbunga-bunga, berbuih. Ia menempatkan tingkatan lema yang tepat, racikan diksi yang cantik dan sederhana.

Meskipun tema yang dikisahkan sangat gelap (terlalu gelap!) tapi Disa berhasil menari-nari diatas puing-puing luka itu. Lukanya seperti sudah selesai. Matanya mungkin masih menatap nanar, mungkin pada momen-momen sedih yang akan abadi dalam sejarah ingatannya. Tapi badai sudah usai, Disa sedang bercerita sambil meminum kopi di halaman belakang rumahnya yang rimbuh pepohon, pada suatu sore yang hujan, mungkin gerimis yang ritmis mencumbu dedaun. Atau barangkali mencumbu kita yang sedang terluka.

Pesan saya hanya satu, jangan pernah berani membaca buku ini jika sedang terluka. Buku ini garam bagi luka dan nanar di tubuh kita. Tapi seperti kata Disa, “waktu bukan ibu, rawat sendiri lukamu”

Pada akhirnya, saya percaya senandung Disa tidak akan berhenti pada Overture. Akan dilanjutkan dengan Concerto yang lebih menyayat, lebih megah, juga lebih memukau. Percayalah, saya benar-benar menantikannya.

Jatinangor, 10 Oktober 2014

ARF

nb:

*Disa yang baik, aku jatuh cinta pada Kei, tolong titip pelukan untuk sepasang mata yang mendung itu 🙂

**Ulasan ini juga di posting ke goodreads

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s