Rahasia Keinginan

Beberapa hari yang lalu, saya mendengar cerita dari seorang teman, ia mengeluhkan hasratnya yang tak juga menemukan ruang aktualisasi. Sepintas memang tidak ada yang aneh dari keluhan si teman. Sudah terlalu sering saya mendengarnya, di usia dua puluh sekian memang hal ini seringkali jadi tema utama. Yang menarik bagi saya justru ada pada konklusi singkat si teman, ia berkata bahwa ada dua jalan untuk keluar dari persoalan seperti ini, yaitu dengan menekan desire yang ada dalam dirinya atau terus berusaha mengejar bentuk ideal dari “keinginannya”.

Teman saya pernah memilih jalan yang kedua, tapi nyatanya bentuk ideal itu tidak pernah tiba, tidak pernah rampung. Lalu ia mulai merasa lelah dan agak sia-sia. Akhirnya teman saya itu mengatakan bahwa ia menyerah, ia ingin bahagia dengan tidak lagi ngotot mencari dan atau mengejar bentuk idealnya.

Hal ini agak mengherankan bagi saya, meskipun ia mengatakan dengan jalan yang pertama, hidupnya jadi lebih tenteram, nyaman, dan bahagia. Ia tidak lagi merasa dikejar-kejar sesuatu. “Expect nothing, appreciate everything”, begitulah kurang lebih maksudnya. Kalau dalam terminologi islam, sikap ini dikenal dengan bersyukur. Sebab dalam al-qur’an (entah di surat dan ayat berapa) memang mengajarkan untuk banyak-banyak bersyukur, maka Allah akan menambah nikmat. Dan bahkan ada serupa ancaman mengerikan dari tuhan, “Jika tidak bersyukur, bersiaplah, azabku amat pedih” kira-kira begitulah.

Apa jadinya sebuah hidup tanpa harapan-harapan? tanpa kondisi-kondisi utopis? tanpa bentuk-bentuk ideal? bukankah teori selalu ada untuk menjadi koridor paling luar dari kesadaran diri untuk tetap berada di jalur menuju tujuan hidup?

Sederhananya, teori, bentuk ideal, utopia, memang hadir bukan untuk direngkuh secara utuh. Bukan sebuah tujuan statis yang kaku dan berdiam. Bentuk ideal memang tidak pernah terjangkau, sebab semakin kita mendekatinya, ideal tersebut pun melangkah lebih jauh lagi. Pada titik tertentu memang diperlukan sikap syukur, tapi bukan untuk lantas menyerah dan tidak lagi melanjutkan langkah. Syukur disini berperan sebagai apresiasi terhadap pencapaian langkah-langkah dan hasil yang kita dapatkan, sekecil apapun. Ketika manusia lelah, beristirahatlah, lihat kebelakang, ada bentangan jarak yang sudah berhasil dilalui, ada pencapaian-pencapaian yang telah direngkuh. Lihat sekeliling, ada manusia-manusia lain yang sedang melangkah gontai, hampir ambruk, hampir musnah. Ada yang lebih berpuing dari kamu dan mereka masih juga melangkah, masih juga menyiram harapan yang tumbuh subuh di dalam diri mereka.

Bukankah latar belakang munculnya ilmu ekonomi dikarenakan kebutuhan (keinginan?) manusia yang tidak terbatas, sementara sumber daya alam kita yang terbatas? Tegangan kedua kutub itulah yang menciptakan hukum ekonomi sekaligus prinsip-prinsip dasarnya. Setidaknya, pada awal mulanya begitulah ilmu ekonomi lahir.

Tarik menarik antara kenyataan dan bentuk ideal itulah yang menjadikan hidup ini menarik, bukan? Mari kita bayangkan sebuah hidup yang segalanya sudah tersedia, segalanya sudah ideal: surga. Bagi saya itu adalah tempat dan kondisi yang mengerikan. Manusia tidak lagi mengalami kekecewaan, kesedihan, kegagalan. Manusia begitu sempurna. Segala harapannya tumus menjadi nyata.

Mari kita bayangkan sebuah hidup tanpa kematian. Ketika gagal, tidak lagi perlu kecewa, sebab kita hidup selamanya. Ketika berhasil, tidak lagi perlu untuk bahagia, sebab kita hidup selamanya.

Membosankan!


Hari-hari ini, manusia pergi semakin jauh, bercita-cita tinggi, mengalami banyak peristiwa, tapi justru penghayatan terhadap peristiwa jadi dangkal. Semua serba cepat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s