Ini Bukan Sebuah Surat Cinta

Kasih, pertama-tama, jangan anggap ini sebagai sebuah surat cinta, sebab aku memang tidak pernah berhasil membuatnya. Aku sadar, jika aku mengulangi kesalahan untuk mencoba hal yang sudah berulang kali gagal, itu hanya akan semakin mengukuhkanku sebagai lelaki yang tehipnotis matra-mantra motivator.

Benar bahwa Edison behasil menemukan bola lampu setelah kegagalannya yang kesekiankali, tapi apakah pernah terpikir berapa banyak karya yang akan ia hasilkan bila ia mencoba hal lainnya? Mungkin saja kalau ia menyerah pada bola yang dapat membuat malam menjadi terang itu, ia dapat menemukan, menciptakan, lebih banyak dari yang ia hasilkan. Memang, tidak ada yang salah dengan militansi. Kita semua membutuhkan itu. Tapi bukankah ada saatnya dimana kita harus mampu mengukur potensi, meraba probabilitas, dan berani mengakui bahwa ada beberapa hal yang kita usahakan memang tidak layak lagi diperjuangkan, dengan kata lain kita berani mengakui kekalahan. Dan ya, terimakasih, berkat ketekunan tersebut, malam ini aku bisa menulis dengan cahaya lampu yang cukup terang.

Sejak kecil aku memang tidak cukup akrab dengan sikap tekun. Jika ada orang yang harus disalahkan atas sikap ini, tentu guru PPKN lah penyebabnya, mungkin ia lupa mengajarkan bab tentang ketekunan, ia terlalu sering memaksakan muridnya menghapal 5 butir sila dalam pancasila. Aku tumbuh dan mencapai beberapa hal dalam hidup ini bukan dengan sikap tekun. Tentu kamu sudah mendengar banyak contohnya. Peringkat 1 di sekolah dasar yang aku dapatkan bukan buah dari ketekunan, juga berhasil lolos seleksi ujian masuk universitas pun tentu bukan semacam produk dari militansi. Ya, sejak kecil aku seringkali merasa tidak ada yang perlu diperjuangkan secara berlebihan dalam hidup ini. Ketika anak-anak lainnya masih tetap bersikukuh bahwa temannya mencurangi ia ketika bermain kelereng, aku hanya akan pulang dengan wajah lemas dan sesekali menangis.

Aku tumbuh dengan keberuntungan dan sedikit kecerdasan. Mungkin dua hal itulah yang menyeretku hingga hari ini.  Aku adalah sejenis manusia yang dirahmati dan diberkahi, meskipun biasanya pada menit-menit terakhir. Akan kuceritakan hal ini lain kali.

Ternyata sikap ini juga lah yang mungkin saja menyebabkan kuliahku terbengkalai, nilai-nilai berantakan, sks berceceran sementara teman-teman yang lain sudah disibukan dengan proyek a dan sampingan b. Aku tidak suka dengan kuliahku, aku tidak ingin memperjuangkannya, selesai. Tapi ternyata dalam kehidupan sialan ini banyak hal yang memang harus dikerjakan bukan berdasarkan rasa suka dan cinta. Ada banyak hal yang perlu diperjuangkan meskipun kita tidak begitu paham akan apa yang diperjuangkan. Guru PPKN dulu menyebutnya dengan sikap tanggung jawab. Ya, lagi-lagi mungkin ia lupa menjelaskan bab tersebut.

Sampai saat ini, aku masih menunggu rahmat di menit-menit akhir. Sebab aku memang belum sampai pada kondisi niscaya. Aku masih punya beberapa semester yang tersisa dan sedikit keyakinan tentang rahmat yang selalu datang di menit-menit akhir tersebut.

Kasih, setelah kamu membaca beberapa paragraf, sudah jelas bahwa ini bukan surat cinta. Tapi aku ingin kamu tetap bersabar membacanya. Mungkin kamu bisa membuat kopi. Itu akan membuatmu lebih nyaman membaca surat ini. Jika teks adalah belantara tanda, yang rimbun diantara penanda dan petanda dalam kegelapan hutan interteks, ada baiknya aku memberikan konteks sebagai peta wilayah mana yang akan kita jelajahi malam ini.

Tiga tahun yang lalu, aku masih enggan untuk percaya bahwa ada hal yang layak diperjuangkan hingga potensi paling kecil, probabilitas paling rendah. Setidaknya dalam ingatanku yang lapuk ini, tiga tahun lalu adalah penanda waktu aku memulai babak baru dalam pemahaman sikap tekun. Aku mengenalmu, pada awalnya tidak lebih seperti “aku-kecil” yang menemukan sepedah baru. Tentu sangat senang, bukankah tidak ada satupun kebaruan yang tidak membuat manusia menjadi tertarik dan bersemangat? Setidaknya untuk mengetahui lebih jauh. Sebagaimana mainan-mainanku yang lain, aku terseret pada dunia baru itu. Sebentar, aku yakin kamu cukup pintar untuk tidak lantas marah karena aku menggunakan diksi “mainan”. Eh, kopi nya sudah jadi?

Aku memulai semuanya dengan harapan bahwa aku bisa belajar sikap tekun dari hubunganku denganmu. Sebagaimana yang kamu, aku, dan orang-orang tahu, bahwa semua orang di dunia ini merasakan perasaan yang dinamakan cinta, tapi hanya sedikit yang mencicipi puncak ekstase cinta dalam waktu yang cukup panjang–kalaupun tidak mau kita namai sebagai “selamanya” atau “abadi”. Dan bicara soal waktu, Einstein ada benarnya juga. Bahwa putaran jarum yang mengitari jam adalah sesuatu yang sangat relatif. Tidak bisa kita pukul rata bahwa 24 jam yang aku habiskan dengan menonton film, bermain game, dan tidur akan sama dengan 24 jam yang Pramoedya alami semasa ia di pulau Buru. Aku akan merasakan hari begitu cepat beranjak terik, dan gelap begitu cepat menjadi gigil subuh. Tapi tidak begitu bagi manusia dibalik ruangan berjeruji besi yang bau apak dan pesing.

Sedari awal, aku begitu yakin akan menghadapi banyak hal baru ketika memulai babak baru dengan kamu. Sekali waktu, aku sering juga berpikir, sudah sejauh mana aku memahami sikap tekun ini. Untuk yang satu ini, aku yakin kamu dapat membantuku menjawabnya 🙂

Kasih, ini kali pertama bagiku, mungkin juga bagimu. Ada serupa onar yang nakal dalam rasa yang bernama cinta, juga serupa bening danau di tengah hutan pinus yang masih basah oleh embun, kita melewati semuanya, kita mencecapi segala rasanya. Lalu kita akan sampai pada pertanyaan di awal surat ini. Sejauh mana potensi yang masih tersisa setelah dicacah waktu sampai bilangan paling kecil yang tidak bisa dibagi lagi? Seberapa besar probabilitas, kemungkinan-kemungkinan yang masih mengendap di dasar hening danau itu?

Kita berdua tahu apa yang dapat dilakukan oleh waktu. Maka, ini bekal kita bagi dua, kamu pergi ke utara, aku menuju timur jauh. Kita berdua juga tahu, kamu dan aku masih akan tetap terhangatkan oleh matahari yang sama, diterangi bukan oleh bola lampu, tapi oleh bulan yang sama–yang kadang cemburu dengan gemerlap anak cucu Edison.

Kamu telah pergi lebih dulu, saat ini peta perjalananmu telah beranak-pinak, membuka segala kemungkinan baru. Kamu berhak atas permintaan maafku, yang telah begitu lama menahan keberangkatanmu oleh ketakutan-ketakutanku yang paling purba. Kasih, kamu sedang mengencani lelaki penuh bahaya, yang tertanam bom waktu di dalam tubuhnya. Perasaan insecure yang menguasai diri ini lah yang membuat danau itu mengeruh, membuat embun enggan luruh pada pokok-pokok pinus dan atap rumah kita. Tapi sebagai lelaki yang besar oleh asupan rasionalitas dari kanan-kiri, aku ingin melakukan sedikit rasionalisasi. Semoga kamu berkenan dan mungkin akan mengurangi rasa bersalahku.

Perasaan insecure ini tumbuh bukan tanpa sebab, seperti halnya sikap tekun yang gagal panen karena guru PPKN sialan itu. Tapi aku yakin untuk perasaan yang ini bukanlah ulah guru PPKN ku. Otak nya tidak sampai untuk memahami tingkat kerumitan seperti ini. Ya, perasaan ini hadir dan berkembang biak oleh pengalaman. Disadari atau tidak, aku dihidupi oleh kekecewaan-kekecewaan, lagipula siapa yang tidak. Aku yakin semua orang mengalaminya. Tapi lelakimu ini, ia menyikapinya dengan mentalitas yang dibagun diatas pondasi rapuh seorang ibu yang terlalu dominan menularkan rasa sayang, sensitifitas, kepekaan, kepedulian, dan sifat-sifat “feminim” lainnya. Bukan berarti lantas umi lah yang harus bertanggung jawab. Bukan. Sebab nasib memang adalah kesunyian masing-masing. Seingatku, aku pernah menceritakan soal ini beberapa waktu yang lalu. Tentang aku yang lebih suka berteman dengan orang (laki-laki) yang lebih tua, lebih matang. Pulsarian, Madfal, dan sosok-sosok lainnya dalam kelompok-kelompok kecil. Eh, mungkin itu juga ya yang membuat aku lebih menyukai tokoh-tokoh “antagonis” dalam film. Heisenberg (bukan Walt), Barney, Supertramp (hahahaha), Moriarty, Dexter, Travis Bickle (Kamu udah nonton Taxi Driver belum sih?), Corleone, dan kenapa aku sangat menggilai Edward Norton di Fight Club. Edward Norton seperti refleksi fiktif dari aku, yang dibimbing menemukan maksulinitasnya oleh Tyler Durden (Brad Pitt juga bajingan! keren mainnya). Dan sesungguhnya yang paling sialan itu Puthut EA, kadang ia mampu melenyapkan segala tokoh fiktif yang aku sebutkan diatas, menggantinya dengan kemurungan, gelap, melankolis, liris, sensitif, dan kontemplatif yang sejujurnya ingin aku kendalikan agar tidak terlalu mendominasi. Sialan!

Kasih, masih belum pantas juga ya ini dikatakan sebagai surat cinta? Lagi-lagi mungkin karena aku enggan menonjolkan sisi fenimin–yang kadang tidak tahan juga sih–untuk keluar dan menjelma sebagai untaian prosa liris nan melankolis. Sialan, masih saja. Ya, sekeras apapun aku berusaha, pun dalam tulisan ini. Ingin menonjolkan sisi maskulinitas, kadang masih saja terperangkap pada kerangka dasar pembentukan diri ini.

Setelah keberangkatanmu yang terkesan tergesa-gesa, aku pun sadar, horison di timur jauh sana telah lama menanti untuk didekati dan diperiksa. Barangkali ada sesuatu disana. Aku pun menyusun agenda-agenda yang menggenapi kesatuan strategi dan perencanaan-perencanaan sempurna ini. Aku harap kita masih akan tetap berbagi, saling memberi, dan mengingatkan jika aku atau kamu kehilangan peta perjalanan. Dalam perjalanan kali ini, sekeras apapun aku berusaha mempersiapkannya, aku tidak akan pernah benar-benar siap. Sebab aku tidak pernah tahu apa yang akan kutemui sepanjang perjalanan menuju timur jauh sana. Aku hanya membawa bekal yang kita bagi berdua, dan tentu saja dua hal yang menjadi anugerah bagiku; keberuntungan dan sedikit kecerdasan.

Aku percaya, sejauh apapun manusia melangkah, ia akan kembali ke tempat dimana ia memulai perjalanannya. Jika memang diantara kita atau bahkan kita berdua tidak kembali, setidaknya kita telah menjalani suatu hidup yang luarbiasa, yang disi dengan cinta–lengkap dengan hening danau di tengah hutan–, potensi-potensi yang selalu membuka dirinya terhadap peta perjalanan yang baru, probabilitas yang terus berkembang biak menuju tingkat kerumitan yang tidak lagi dapat dicacah oleh psikolog paling mutakhir sekalipun, dan tentu saja dengan sikap tekun, militansi prajurit yang tidak kenal lelah meskipun musuh telah menguasai duapertiga kota.

Malam tinggal sepertiga, kita sudah membagi bekal untuk berdua. Jika ini tetap bukan merupakan surat cinta, sepertinya kita memang harus menyusun kehadiran sekaligus ketidakhadiran masing-masing dengan cara paling sunyi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s